<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526</id><updated>2012-01-14T02:53:30.019-08:00</updated><category term='Menulis'/><category term='Aksesoris Anak'/><category term='Gangguan Mata'/><category term='Hobi'/><category term='Perilaku Anak'/><category term='Dunia Music'/><category term='Psikologi anak'/><category term='Infeksi'/><category term='Alam pikiran anak'/><category term='Ultah'/><category term='Tips - Kiat'/><category term='First Aid'/><category term='Pendidikan Seks'/><category term='Obesitas'/><category term='pembelajaran anak'/><category term='Mainan Anak'/><category term='Uang dan Anak'/><category term='Autis'/><category term='Kreatifitas Anak'/><category term='Liburan Asyik'/><category term='Daya Konsentrasi - Fokus'/><category term='Gangguan Pencernaan'/><category term='Kemandirian Anak'/><category term='Bahasa'/><category term='Komunikasi - interaksi'/><category term='Perkembangan Anak'/><category term='Berat Badan'/><category term='Pola Makan'/><category term='Orang tua harus perhatikan ini...'/><category term='Gangguan Pendengaran'/><category term='Pengasuh anak'/><category term='Fungsi Otak'/><category term='Tukeran Link'/><category term='Keracunan'/><category term='Bakat Anak'/><category term='Dunia Sekolah'/><category term='Kesehatan'/><category term='Kebiasaan buruk'/><category term='Menyanyi'/><category term='Moral - Mental'/><category term='Pertumbuhan Fisik'/><category term='Hernia'/><category term='Bicara'/><category term='Nutrisi-Suplemen-Makanan'/><category term='Waspada dan Pencegahan'/><category term='Stress - Gangguan Mental'/><category term='Kecerdasan'/><category term='Mendongeng'/><category term='Komunikasi Sosial'/><category term='Peran Ayah'/><category term='Olahraga'/><category term='Ruang Anak'/><category term='Mandi'/><category term='Tentang Gigi'/><category term='Tidur'/><category term='Virus - Bakteri - Penyakit'/><category term='Cita-cita Anak'/><category term='Aktifitas Anak'/><category term='Membaca'/><category term='Emosional Problem'/><category term='Alergi'/><category term='Peraturan buat anak'/><title type='text'>Mengenal lebih jauh tentang dunia anak</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>279</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-8015226556594236643</id><published>2010-12-12T20:24:00.000-08:00</published><updated>2010-12-12T20:24:00.727-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Moral - Mental'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tidur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perilaku Anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips - Kiat'/><title type='text'>Agar Berani Tidur Sendiri, Caranya?</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S06dNlzFxLI/AAAAAAAAAQs/GoCAXTz24FY/s1600-h/sleep+alone.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S06dNlzFxLI/AAAAAAAAAQs/GoCAXTz24FY/s200/sleep+alone.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Ketakutan akan malam dan mimpi buruk biasa terjadi pada anak khususnya pada anak-anak usia prasekolah. Tapi ada juga anak-anak yang lebih tua bahkan remaja masih tidak berani tidur sendiri di kamarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini adalah sesuatu yang wajar karena anak-anak biasanya mempunyai daya imajinasi sendiri dan anak-anak mulai mengerti bahwa ada sesuatu di luar sana yang bisa menyakitinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakutan atau mimpi buruk biasanya datang dari pengalaman yang menakutkan, seperti anjing besar yang tertabrak mobil, menonton berita krminal, dan kejadian lain yang menakutkan. Masalah keluarga dan kecemasan orang tua juga memainkan peranan tertentu. Segala hal bisa memancing emosi anak-anak yang menyebabkan anak-anak merasa cemas dan ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat ketakutan setiap anak berbeda-beda tergantung dari perkembangan diri anak itu sendiri. Anak kecil biasanya lebih takut pada monster ada daya imajinasi anak-anak tentang hal yang seram. Sementara anak yang lebih tua lebih sering takut karena sesuatu yang bisa menyakiti atau bahaya yang sebenarnya seperti sesuatu yang bisa menerobos kamarnya atau bencana alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anak-anak mengalami mimpi buruk, maka berilah hiburan dan ketenangan pada sang anak. Lalu mulailah untuk mengajarkan bagaimana mengatasi kekhawatiran dan ketakutan dengan teknik rileksasi. Ini akan berguna jika anak mengalami mimpi buruk saat tidak bersama orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengajarkan anak berani tidur sendiri, seperti dikutip dari &lt;em&gt;Sleepfoundation&lt;/em&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Dengar dan mengerti. Cobalah untuk mengerti ketakutan anak-anak dan buatlah anak-anak merasa senang dan nyaman. Tentramkan hatinya. Ini merupakan hal penting untuk bisa menentramkan anak-anak saat dirinya takut, komunikasikan cara-cara agar tidur aman berulang kali. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ajarkan kemampuan untuk melawan. Ajarkan cara alternatif untuk merespon mimpi buruk, seperti tanamkan keberanian dan berpikir positif. Bisa dengan menceritakan pengalaman orang tua mengatasi rasa takutnya atau bisa juga dengan mendongengkan cerita anak yang berhasil mengatasi ketakutannya. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Buatlah gelap menjadi menyenangkan. Cara ini bisa dengan memainkan lampu senter dan berburu sesuatu yang bercahaya di kegelapan. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gunakan imajinasi dan jadilah orang tua yang kreatif. Gunakan imajinasi untuk melawan khayalan yang menyeramkan. Beberapa anak merasa nyaman bila dekat dengan binatang peliharaannya. Buat anak-anak terlibat secara aktif dalam membantu mendapatkan rasa tenang dan pengendalian diri. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cahaya lampu. Seberapa takutnya anak akan merasa terbantu dengan adanya cahaya. Cahaya lampu tidak masalah sepanjang tidak mencegah anak untuk tidur. Atau bisa juga dengan membuka pintu kamar sang anak sehingga anak tidak merasa terisolasi di dalam kamar. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hindari tontonan televisi yang menakutkan. Dampingi selalu tontonan anak-anak agar anak tidak meonton adegan kekerasan dan sesuatu yang bisa membuatnya takut. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Latihlah untuk rileksasi. Ajari anak strategi rileksasi yang bisa membantunya merasa rileks ditempat tidur dan mudah untuk tidur. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Diskusikan tentang hal yang membuatnya takut seharian. Bantulah untuk membangun kepercayaan dirinya dan itu akan membuatnya merasa terlindungi dan membantu anak untuk melewati malam. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ceklah anak dikamarnya. Jika anak merasa takut saat ditinggal orang tuanya, maka cek secara rutin setiap 5-10 menit sekali. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Biarkan anak tetap di tempat tidurnya. Jangan biarkan anak meninggalkan tempat tidurnya, jika anak merasa takut biarkan orang tua yang menemani anak dikamar sang anak sampai anak tersebut tertidur. Dan jika anak terbangun dimalam hari dan pergi ke kamar orang tua bimbinglah dia untuk kembali ke kamarnya. Berilah penghargaan terhadap keberanian sang anak. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Buatlah anak merasa bangga dengan tidur sendiri, jika anak sudah berani untuk tidur sendiri beberapa waktu berilah penghargaan dengan membolehkan menonton video favorit, pergi ke taman atau membuatkan kue coklat kesukaannya.ver/det&lt;br /&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-8015226556594236643?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/8015226556594236643/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=8015226556594236643' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/8015226556594236643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/8015226556594236643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/12/agar-berani-tidur-sendiri-caranya.html' title='Agar Berani Tidur Sendiri, Caranya?'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S06dNlzFxLI/AAAAAAAAAQs/GoCAXTz24FY/s72-c/sleep+alone.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-7455673448423922872</id><published>2010-12-02T20:17:00.000-08:00</published><updated>2010-12-02T20:17:00.161-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebiasaan buruk'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips - Kiat'/><title type='text'>Tips : Rengekan Anak, How To Stop.</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S06bYV0EwgI/AAAAAAAAAQc/1hTKdQ2qs5A/s1600-h/rengekan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S06bYV0EwgI/AAAAAAAAAQc/1hTKdQ2qs5A/s200/rengekan.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Anak yang merengek berlebihan terkadang membuat para orang tua jengkel. Mereka pun akhirnya terpaksa tunduk dan menyerah pada keinginan sang anak karena tak kuasa mendengar tangisan bahkan tindakannya yang tidak terkontrol lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan orang tua tersebut ternyata salah dan sebaiknya tidak dibiasakan. Anak yang selalu dipenuhi permintaannya lewat rengekan akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak terkendali. "Anak yang selalu memaksakan kehendaknya dan mendapatkan apa yang diinginkannya dari orang tua, tidak akan belajar mengendalikan diri dan akan menjadi pribadi yang egois nantinya," ujar pakar psikolog dan play therapist, Dra Mayke Tedjasaputra, M.Si .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sedih rasanya jika anak harus menangis hingga berjam-jam atau bahkan menyakiti dirinya sendiri ketika kemauannya tidak dipenuhi oleh orang tua. Tapi jangan sampai orang tua tertipu dengan trik si anak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan salah, anak kecil itu pintar merayu loh, apalagi jika sudah merengek. Mereka biasanya berhasil menggunakan trik ini, bahkan kuat menangis berjam-jam hingga kemauannya dituruti orang tua," ujar Mayke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayke mengatakan bahwa orang tua sering tertipu dengan muka memelas anak, padahal di balik muka tersebut anak punya maksud lain. Anak sekarang itu lebih pintar dari orang tuanya, jadi orang tua tidak boleh lengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketika anak berhasil mendapatkan kemauannya dalam waktu 5 menit merengek, mereka akan menggunakan teknik itu lagi ke depannya. Namun jika teknik 5 menit tidak berhasil pada hari-hari berikutnya, mereka akan memperpanjang rengekannya menjadi 10, 15 atau 30 menit. Dan setiap kali orang tua berhasil ditaklukkan dengan rengekan itu, anak akan selalu berpikir bahwa saya pasti dapat apapun dengan merengek, asal waktunya aja yang diperpanjang," jelas Mayke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anak pintar merengek, maka orang tua pun harus lebih pintar lagi menangani anak rewel seperti itu. Caranya adalah dengan menerapkan metode mengabaikan rengekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebaiknya orang tua mengabaikan rengekan, karena hanya dengan cara itulah anak akan bosan dan capek karena tidak ditanggapi oleh orang tuanya. Namun ketika anak berhenti merengek, orang tua harus memberi pengertian pada anak mengapa mereka melakukan hal itu dan jelaskan cara-cara yang baik untuk mendapatkan keinginannya," ujar Mayke.nu/det&lt;br /&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-7455673448423922872?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/7455673448423922872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=7455673448423922872' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/7455673448423922872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/7455673448423922872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/12/tips-rengekan-anak-how-to-stop.html' title='Tips : Rengekan Anak, How To Stop.'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S06bYV0EwgI/AAAAAAAAAQc/1hTKdQ2qs5A/s72-c/rengekan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-4257565238711836322</id><published>2010-11-22T20:13:00.000-08:00</published><updated>2010-11-22T20:13:00.442-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pertumbuhan Fisik'/><title type='text'>Pendek, Keturunankah?</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S06ahO6ZXhI/AAAAAAAAAQU/8q3ZJYbxzjY/s1600-h/pendek.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S06ahO6ZXhI/AAAAAAAAAQU/8q3ZJYbxzjY/s200/pendek.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Sebagian orang percaya bahwa tinggi badan orang tua mempengaruhi tinggi badan anaknya. Orang tua pendek, maka anaknya pasti pendek. Ternyata mitos itu tidak selamanya benar, karena anak tinggi pun bisa dihasilkan dari orang tua pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak pasti punya faktor genetik yang diturunkan dari orang tuanya. Faktor inilah yang kerap dijadikan alasan mengapa seseorang bertubuh pendek kerap berkelit 'sudah dari sananya'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar, salah satu faktor pendek atau tingginya badan seseorang adalah genetik. Tapi faktor tersebut sebenarnya bisa dikalahkan oleh faktor fenotip atau faktor lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Faktor lingkungan dan nutrisi adalah faktor yang berpengaruh cukup besar untuk perkembangan anak, selain faktor turunan atau gen. Anak yang kebutuhan gizinya terpenuhi, walaupun orang tuanya pendek, pasti akan tumbuh dengan tinggi yang ideal," ujar dokter ahli gizi klinik, Dr. Fiastuti Witjaksono MS, Sp.GK .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fiastuti mengatakan bahwa anak atau sesorang yang tinggi badannya kurang merupakan pertanda bahwa status gizi atau asupan gizinya tidak terpenuhi untuk jangka waktu yang panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah gizi pada anak, disebutkan Fiastuti, bisa disebabkan karena pengetahuan orang tua tentang gizi yang kurang, anak dibiarkan menentukan makanannya sendiri oleh orang tua, dan juga anak mudah tergoda jajanan di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, Fiastuti menegaskan, orangtualah yang seharusnya memegang kendali untuk masalah makanan anak. Caranya yaitu dengan membuat perencanaan makan yang benar, baik itu jumlah kalorinya yang disesuaikan, jadwal makannya dan jenis makanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus untuk jadwal makan, sebaiknya anak diberikan porsi kecil dan sering ketimbang porsi besar tapi jarang. "Hal ini dikarenakan saluran pencernaan anak belum berkembang sempurna, jadi tidak bisa menerima dengan jumlah yang berlebihan," ujar Fiastuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berikan makan tiga kali sehari dalam porsi yang cukup, dan selingi dengan snack yang bergizi diantara waktu makan itu," jelas dokter yang tergabung dalam Persatuan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kebutuhan tinggi badan, Fiastuti menyarankan agar anak mendapat asupan lemak yang cukup, karena lemak merupakan penghantar vitamin A, D, E, K yang baik untuk pertumbuhan tulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lemak pada orang dewasa memang kurang baik, tapi pada anak sangat dibutuhkan karena merupakan cadangan energi dan zat yang dibutuhkan untuk perkembangan otak. Asal tahu saja, cadangan energi hanya bertahan 8-10 jam, jadi jika anak makan malam jam 7 malam, lalu tidak sempat sarapan dan baru makan jam 9 pagi, pasti tubuhnya lemas, " jelas Fiastuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Fiastuti, memberi bekal adalah solusi yang paling efektif dan aman untuk mengontrol makanan anak. "Anak akan terhindar dari jajan dan pastinya mendapat mekanan yang bergizi dan higienis," ujar Fiastuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakar psikolog dan play therapist, Dra Mayke Tedjasaputra, MSi pun memberikan tips agar anak terhindar dari kebiasaan jajan dan mau diberi bekal oleh orang tua, diantaranya :&lt;br /&gt;1. Ubah pola makan keluarga, orang tua jangan mencontohkan jajan jika tidak ingin anaknya jajan.&lt;br /&gt;2. Buat kudapan tandingan untuk bekal anak di sekolah atau ketika hari libur, tidak ada alasan ibu tidak bisa masak.&lt;br /&gt;3. Buat semacam peraturan jika ingin jajan (yang sehat), seperti memberi reward jika bisa menahan jajan selama 1 minggu.&lt;br /&gt;4. Biarkan anak sekali-kali jajan, tapi harus dibatasi orang tua dan pastinya harus jajanan yang sehat.&lt;br /&gt;5. Berdiskusilah dengan anak tentang keuntungan membawa bekal atau kerugian jajan, biarkan otak anak berpikir.&lt;br /&gt;6. Orang tua harus paham tentang kesehatan dan harus konsisten memberikan bekal yang sehat untuk anak.&lt;br /&gt;7. Sekolah lebih sering mengadakan hai tanpa jajan.&lt;br /&gt;8. Pedagang-pedagang sekolah harus diberi penyuluhan oleh badan yang berwenang dan diadakan kontrol rutin.nu/det&lt;br /&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-4257565238711836322?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/4257565238711836322/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=4257565238711836322' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/4257565238711836322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/4257565238711836322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/11/pendek-keturunankah.html' title='Pendek, Keturunankah?'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S06ahO6ZXhI/AAAAAAAAAQU/8q3ZJYbxzjY/s72-c/pendek.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-4455401230084558026</id><published>2010-11-12T20:09:00.000-08:00</published><updated>2010-11-12T20:09:00.561-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi - interaksi'/><title type='text'>Mudah Dapat Teman Jika Ada Ibu ?</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S06ZnFP0bSI/AAAAAAAAAQM/aiCuBaaNP9I/s1600-h/berteman.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S06ZnFP0bSI/AAAAAAAAAQM/aiCuBaaNP9I/s200/berteman.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Seorang anak yang memiliki ikatan yang kuat dengan sang ibu selama masa sebelum sekolah bisa memicu anak lebih mudah mendapatkan teman saat sudah sekolah nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Fakta yang meyakinkan, hubungan emosional yang terbuka antara ibu dan anak, akan membantu anak-anak lebih bisa mengembangkan segala sesuatu lebih positif sehingga mengurangi prasangka terhadap yang lain. Ini juga bisa membantu menjalin persahabatan yang lebih baik selama masa awal sekolah," ujar peneliti Nancy McElwain dari University of Illinois, seperti dikutip dari &lt;em&gt;Livescience&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;McElwain dan tim, meneliti 1.071 anak-anak dari &lt;em&gt;National Institute of Child Health and Human Development Study of Early Child Care and Youth Development.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneliti menemukan hubungan antara ibu dan anak dimulai saat usia 3 tahun. Bagaimana terbukanya ibu terhadap anak-anak maupun sebaliknya serta komunikasi mengenai emosional sudah terjalin saat anak-anak berusia 4-4,5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia 4-4,5 tahun dan mulai masuk taman kanak-kanak, anak-anak dinilai dalam kemampuan bahasa dan bagaimana anak-anak tersebut berinteraksi terhadap sesama teman dalam situasi sosial yang baru. Selain itu, guru dan ibu diminta untuk melaporkan bagaimana kualitas hubungan anak-anak dengan teman dekatnya di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak yang memiliki hubungan yang dekat dengan ibunya akan mulai terbuka secara emosional pada usia 3 tahun dan memiliki kemampuan berbahasa yang lebih baik saat berusia 4-4,5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil ini menunjukkan bahwa cara anak menafsirkan kelakuan orang lain mungkin dimulai dari perkembangan awal dari hubungan di dalam keluarga, dan interpretasi ini menjadi penting untuk membantu anak mendapatkan teman-teman baru suatu saat nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketika anak-anak merasa nyaman berbicara tentang emosinya khususnya emosi yang negatif, ini akan meningkatkan persaingan sosial dengan teman sekelas dan membantu anak lebih mudah untuk mendapatkan teman," ujarnya.ver/det&lt;br /&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-4455401230084558026?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/4455401230084558026/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=4455401230084558026' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/4455401230084558026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/4455401230084558026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/11/mudah-dapat-teman-jika-ada-ibu.html' title='Mudah Dapat Teman Jika Ada Ibu ?'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S06ZnFP0bSI/AAAAAAAAAQM/aiCuBaaNP9I/s72-c/berteman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-6561291068305409833</id><published>2010-11-02T21:33:00.000-07:00</published><updated>2010-11-02T21:33:00.244-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesehatan'/><title type='text'>Asma Anak : How To?</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01efRZzrGI/AAAAAAAAAOU/yNCFAy_520w/s1600-h/asma.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01efRZzrGI/AAAAAAAAAOU/yNCFAy_520w/s200/asma.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Asma adaah masalah yang biasa terjadi pada bayi dan anak-anak. Sekitar 5-10 persen anak-anak atau 5 juta anak di bawah usia 18 tahun menderita penyakit asma. Gejala yang paling umum adalah batuk berulang, napas berbunyi, dan kesulitan bernapas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun saat ini tidak ada penyembuhan untuk asma, namun asma dapat dikontrol untuk meminimalkan gejala dan mengurangi tingkat kekambuhannya. Dengan kontrol yang baik, anak bisa tetap beraktifitas seperti anak lainnya, ikut berolahraga dan bahkan bersaing dengan anak-anak lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asma juga merupakan penyakit turunan, banyak anak yang menderita asma karena silsilah keluarganya yang menderita asma, maka anak harus diminimalkan paparan terhadap asma agar tidak terlalu berkembang. Namun, ada juga anak yang asma karena faktor lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak yang menderita asma memiliki sensitifitas pada saluran udara, jika ada sesuatu yang memicu seperti asap, debu, binatang peliharaan, latihan yang berat dan lain-lain, maka akan menyebabkan saluran napas menjadi menyempit dan membatasi udara yang masuk ke dan dari paru-paru, sehingga membuat anak sulit untuk bernapas. Hal ini bisa berlangsung singkat ataupun berulang yang menyebabkan serangan asma kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asma pada anak juga dibagi menjadi beberapa tipe seperti dilansir &lt;i&gt;Keepkidshealthy,&lt;/i&gt; yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Tipe intermittent jika gejala asma hanya terjadi dua kali dalam sebulan, pada tahap ini hanya membutuhkan short acting bronchodilators.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tipe mild persistent jika gejala asma lebih dari seminggu sekali tapi tidak setiap hari biasanya ditreat dengan daily controller atau obat anti-inflammatory.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tipe moderate persistent jika gejala asma terjadi hampir setiap hari dan menggangu aktifitas sehari-hari serta waktu tidurnya, maka anak harus ditreat dengan a daily controller atau obat anti-inflammatory dan long acting bronchodilator.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tipe severe persistent jika gejala asma telah berkelanjutan dan sudah sangat mengganggu maka harus ditreat oleh dokter anak bagian pulmonologis. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;i&gt;American Lung Association&lt;/i&gt; memberikan tips untuk mengontrol asma pada anak-anak:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Jauhkan anak dari segala hal yang bisa memicu timbulnya asma seperti alergen, debu, asap rokok dan kegiatan yang berat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bicarakan dengan dokter anak mengenai pengobatan untuk mengontrol asma.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pertimbangkan hal yang berhubungan dengan alergi, ada beberapa penelitian yang menghubungkan alergi dengan tingkat kekambuhan asma pada anak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berilah pengertian kepada anak mengenai cara untuk memanage asma, termasuk penggunaan inhaler asma dan bagaimana mengevaluasi pernapasan dengan ’peak flow monitor’.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Review hasil perawatan selama 3-6 bulan dengan dokter anak Anda.ver/det&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-6561291068305409833?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/6561291068305409833/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=6561291068305409833' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/6561291068305409833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/6561291068305409833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/11/asma-anak-how-to.html' title='Asma Anak : How To?'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01efRZzrGI/AAAAAAAAAOU/yNCFAy_520w/s72-c/asma.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-201685248194142570</id><published>2010-10-22T21:28:00.000-07:00</published><updated>2010-10-22T21:28:00.850-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kecerdasan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tidur'/><title type='text'>Paling Gampang Tidur dan Lebih Cerdas Justru Anak Bandel</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01ayoZoJ7I/AAAAAAAAAOM/kHzziygA3RY/s1600-h/bandel.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01ayoZoJ7I/AAAAAAAAAOM/kHzziygA3RY/s200/bandel.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Anak aktif dan 'bandel' lebih susah tidur? Siapa bilang? Sebuah penelitian membuktikan bahwa mereka yang aktif di siang hari akan lebih gampang tertidur lelap pada malamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi ini membenarkan mitos para orang tua yang percaya bahwa anak akan lebih cepat tertidur lelap di malam hari jika siangnya melakukan aktivitas yang melelahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melibatkan sekitar 500 anak-anak, diketahui bahwa anak yang lebih sering duduk setiap jamnya membutuhkan watu tiga menit lebih lama untuk menutup matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Archives of Disease in Childhood pun menemukan hal yang sama, dimana anak yang membutuhkan waktu lama untuk tidur pada malam harinya ternyata tergolong anak yang tidak terlalu aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli dari Monash University Melbourne dan University of Auckland mencoba meneliti kebenaran ini dengan mengambil responden sebanyak 519 anak yang berumur 7 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kebanyakan anak tertidur dalam waktu 45 menit, dan mereka yang tergolong aktif hanya membutuhkan waktu 26 menit,' ujar seorang ahli, seperti dikutip BBC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak yang melakukan kegiatan aktif di siang hari cenderung tertidur cepat dan tidur lebih lama. Ternyata hal ini justru baik untuk kesehatan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak dengan jam tidur yang pendek berpotensi memiliki masalah obesitas dan kemampuan kognitif. Untuk itu, para ahli mengingatkan bahwa tidur yang cukup dan sehat sangat penting untuk anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi ini menunjukkan pentingnya aktivitas fisik bagi anak-anak, bukan hanya sebagai olahraga untuk kesehatan jantung dan mengontrol berat badan, tapi juga untuk kesehatan tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga berhasil mematahkan anggapan bahwa anak yang 'bandel' dan aktif membutuhkan waktu lebih lama untuk tidur karena tidak bisa diatur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandy Gurney, pendiri Children's Sleep Clinic Millpond pun menyebutkan bahwa studi ini juga sangat berguna untuk mengetahui bahwa olahraga bagi anak sangat penting untuk tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun aktivitas bukan satu-satunya penentu anak lebih cepat tidur. yang paling penting adalah rutinitas sebelum tidur. Anak membutuhkan keadaan yang tenang sebelum tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mandi dengan air hangat tidak lebih dari 10 menit, membacakan cerita dan langsung menidurkannya di kamar dalam keadaan gelap bisa membuatnya tertidur lelap," ujar Mandy. nu/det&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-201685248194142570?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/201685248194142570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=201685248194142570' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/201685248194142570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/201685248194142570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/10/paling-gampang-tidur-dan-lebih-cerdas.html' title='Paling Gampang Tidur dan Lebih Cerdas Justru Anak Bandel'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01ayoZoJ7I/AAAAAAAAAOM/kHzziygA3RY/s72-c/bandel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-8740795742306929957</id><published>2010-10-12T21:28:00.000-07:00</published><updated>2010-10-12T21:28:00.110-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daya Konsentrasi - Fokus'/><title type='text'>Si 2 Tahun Konsentrasi Penuh</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01Zsaapj6I/AAAAAAAAAOE/1SOFBOtuIsU/s1600-h/child+study.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01Zsaapj6I/AAAAAAAAAOE/1SOFBOtuIsU/s200/child+study.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Si kecil asyik berkonsentrasi pada satu hal. Sungguh sulit mengalihkan perhatiannya. Perlu tindakan bijak agar anak tak merasa terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vania (2 tahun) terlihat memusatkan perhatiannya pada buku mungilnya yang terbuat dari plastik. Pandangannya tak lepas dari lembar demi lembar buku itu. Panggilan Nia, sang ibu, tak dihiraukannya. Padahal, Nia sudah tidak sabar akan memandikannya. Bijaksanakah Nia membuyarkan konsentrasi putrinya?&lt;br /&gt;Jika tertarik pada sesuatu, perhatian anak usia ini sering terlihat begitu fokus sehingga, terkadang, apa yang ada di sekelilingnya tak digubrisnya. Coba lihat, tangannya mengarah ke sesuatu, mulut terlihat mengerucut lucu, dan tangan mengutak-atik benda tersebut dengan asyiknya. Bisa-bisa, bunyi sesuatu yang keras di dekatnya tak ia gubris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah cara anak mempelajari berbagai hal. Jika Anda mengacaukan konsentrasinya dengan, misalnya, mengajaknya mandi atau menyingkirkan benda yang menarik perhatiannya, bersiap-siaplah menghadapi amukannya. Anda sendiri yang repot, bukan?&lt;br /&gt;Atasi dengan bijaksana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang Anda terpaksa memecah konsentrasinya. Misalnya sudah saatnya ia mandi, atau tidur. Nah, di sinilah Anda mesti menggunakan cara-cara bijak agar si kecil dengan sukarela meninggalkan ‘proyek besarnya’. Ada beberapa cara bijak yang dapat Anda coba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Beri ancang-ancang untuk menyetop kegiatannya. Misalnya, katakanlah, “Lagi asyik, ya? Ya… sudah. Tapi kalau ketel air panas sudah bunyi, kamu langsung mandi, ya!” Cara ini membuat anak tak merasa kesenangannya dihentikan semena-mena. Jika tiba waktunya, dan ia belum selesai, misalnya sedang menggambar ikan, bersabarlah beberapa menit hingga gambarnya selesai. Dengan demikian, si kecil merasa Anda menghargai pekerjaannya.&lt;br /&gt;* Anda dapat mengombinasikan pekerjaan si kecil dengan kegiatan yang Anda maui. Misalnya, jika anak masih asyik dengan mobil-mobilannya, dan Anda harus segera memandikannya; biarkan dia membawa mobil-mobilannya untuk ikut mandi. Si kecil masih bisa berkonsentrasi pada mobilnya, sementara Anda memandikannya .&lt;br /&gt;* Hargai perasaannya jika anak tiba-tiba harus menghentikan kegiatannya. Misalnya dengan mengatakan, “Aduh sayang sekali ya kita harus menutup buku ini, padahal isinya bagus sekali lho. Lain kali kita buka lagi ya!”&lt;br /&gt;* Bersabarlah. Toh ia tak hanya sedang bermain, tapi juga sedang belajar mengeksplorasi lingkungannya.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esthi Nimita Lubis (ayahbunda)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-8740795742306929957?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/8740795742306929957/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=8740795742306929957' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/8740795742306929957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/8740795742306929957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/10/si-2-tahun-konsentrasi-penuh.html' title='Si 2 Tahun Konsentrasi Penuh'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01Zsaapj6I/AAAAAAAAAOE/1SOFBOtuIsU/s72-c/child+study.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-5367982658745206877</id><published>2010-10-02T21:09:00.000-07:00</published><updated>2010-10-02T21:09:00.653-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Emosional Problem'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peran Ayah'/><title type='text'>Ayah Dan Anak, Sejauhmana Bentuk Komunikasi Mereka?</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01Y1J79zRI/AAAAAAAAAN8/bdMcrTTgnzE/s1600-h/ayah+anak.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01Y1J79zRI/AAAAAAAAAN8/bdMcrTTgnzE/s200/ayah+anak.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Anak perempuan biasanya lebih terbuka dengan ibunya. Kenapa ayah tidak mendapat perlakuan yang sama dari putrinya diduga karena ada perempuan dan laki-laki mempunyai cara komunikasi yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat anak perempuan tumbuh menjadi remaja kadang mulai timbul perasaan stres. Ternyata perasaan stres ini bisa memicu masalah dalam hubungan antara remaja perempuan dengan ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linda Nielsen seorang pendidik dan profesor perempuan, memberikan solusi dalam membuat hubungan yang lebih dekat antara anak perempuan yang menginjak remaja dengan ayahnya dalam buku terbarunya: &lt;em&gt;Embracing Your Father: How to Build the Relationship You've Always Wanted with Your Dad.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Nielsen, belajar lebih mengenal ayahnya, sejarahnya dan mengapa ayah membuat pilihan tertentu, bisa membantu anak perempuannya untuk mendapatkan kembali hubungan yang baik dengan sang ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak masalah seberapa tua usia sang ayah dan usia anak perempuan tersebut sekarang, yang terpenting adalah mengetahui lebih personal mengenai sifat masing-masing. Bagaimana level emosional yang terbentuk tergantung dari ikatan yang dimiliki keduanya," ujar Nielsen seperti dikutip dari &lt;em&gt;Newsnet&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nielsen menyarankan untuk anak perempuan agar lebih banyak menghabiskan waktunya bersama sang ayah, dengan percakapan yang lebih bermakna dan kegiatan bersama yang bisa mempererat hubungan keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneliti menunjukkan bahwa perempuan lebih suka menghabiskan waktu lebih banyak untuk berbagi hal personal dengan ibunya dibandingkan dengan ayahnya. Nielsen menyarankan untuk memperlakukan sang ayah sama seperti sang ibu, salah satunya bisa dengan berbicara terlebih dahulu dengan ayah ketika sampai dirumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika anak perempuan berbagi kegiatan sehari-hari dengan ibunya, maka mulailah untuk mencoba berbagi juga dengan sang ayah. Kegiatan ini memberikan kesempatan yang sama bagi orang tua untuk membina keintiman dengan anak perempuannya. Kebanyakan anak perempuan tidak memberikan ayahnya kesempatan untuk membina hubungan emosional tersebut," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah dan anak perempuannya bisa saja mempunyai kesulitan untuk berbicara mengenai hal yang personal antar keduanya, hal ini karena laki-laki dan perempuan kadang mempunyai cara berbeda dalam berkomunikasi. Namun, bukan berarti keduanya tidak bisa saling berkomunikasi. Mulailah untuk membicarakan hal yang ringan yang bisa dipahami keduanya hingga nantinya terbentuk keakraban antara anak dan ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setiap anak perempuan yang saya tahu telah berhasil mencapai atau membina hubungan yang lebih baik dengan ayahnya akan merasa lebih baik," ujar Nielsen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang tua memiliki porsi tersendiri dalam mendidik anak-anaknya, sehingga sebaiknya setiap anak menjalin ikatan emosional yang sama dengan keduanya.ver/det&lt;br /&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-5367982658745206877?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/5367982658745206877/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=5367982658745206877' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/5367982658745206877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/5367982658745206877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/10/ayah-dan-anak-sejauhmana-bentuk.html' title='Ayah Dan Anak, Sejauhmana Bentuk Komunikasi Mereka?'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01Y1J79zRI/AAAAAAAAAN8/bdMcrTTgnzE/s72-c/ayah+anak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-7430437202774022998</id><published>2010-09-22T20:59:00.000-07:00</published><updated>2010-09-22T20:59:00.180-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Gigi'/><title type='text'>Anak Bergizi Baik : Ciri-Ciri</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01UVYRDu1I/AAAAAAAAANs/SWejgQKs65I/s1600-h/smile+child.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01UVYRDu1I/AAAAAAAAANs/SWejgQKs65I/s200/smile+child.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Sudah sehatkah anak Anda? Asal tahu saja anak yang diberi gizi baik oleh orang tuanya akan tercermin dari perilaku dan perkembangan fisiknya yang sehat dan optimal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekjen Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) Dr dr Saptawati Bardosono memberikan 10 tanda umum anak bergizi yang harus diperhatikan orang tua, Berikut ciri-ciri anak cukup bergizi atau tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Bertambah umur, bertambah padat, bertambah tinggi.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Anak dengan asupan gizi baik akan mempunyai tulang dan otot yang sehat dan kuat karena konsumsi protein dan kalsiumnya cukup. Jika kebutuhan protein dan kalsium terpenuhi, massa tubuh pun akan bertambah dan anak akan bertambah tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Postur tubuh tegap dan otot padat.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Anak yang memiliki massa otot yang padat dan tubuh tegap didapat adalah ciri anak yang tidak kekurangan protein dan kalsium. Mengonsumsi susu dapat membantu anak mencapai postur ideal kelaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Rambut berkilau dan kuat.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Protein dari daging, ayam, ikan dan kacang-kacangan dapat membuat rambut menjadi lebih sehat dan kuat. Rambut yang sehat dapat melindungi kepala si anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Kulit dan kuku bersih dan tidak pucat.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kulit dan kuku bersih pada anak menandakan asupan vitamin A,C,E dan mineralnya terpenuhi. Makanan yang kaya mineral didapatkan dari kangkung, bayam, jambu buji, jeruk, mangga dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5. Wajah ceria, mata bening dan bibir segar.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mata yang sehat dan bening didapat dari konsumsi vitamin A dan C seperti tomat dan wortel. Bibir segar didapat dari vitamin B, C dan E seperti yang terdapat dalam wortel, kentang, udang, mangga, jeruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;6. Gigi bersih dan gusi merah muda.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Gigi dan gusi sehat dibutuhkan untuk membantu menceerna makanan dengan baik. Untuk itu, asupan kalsium dan vitamin B pun diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;7. Nafsu makan baik dan buang air besar teratur.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Nafsu makan baik dilihat dari intensitas anak makan, idealnya yaitu 3 kali sehari. Buang air besar pun harusnya setiap hari agar sisa makanan dalam usus besat tidak menjadi racun bagi tubuh yang dapat mengganggu nafsu makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;8. Bergerak aktif dan berbicara lancar sesuai umur.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Anak aktif atau mungkin cerewet dan banyak bertanya sebenarnya adalah tanda yang baik. Namun sebaiknya perhatikan setiap ucpannya, apakah sesuai umurnya tau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;9. Penuh perhatian dan bereaksi aktif.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Fokus pada satu hal adalah hal yang sulit dilakukan anak, terutama anak yang aktif. Tapi jika dia sudah bisa menyelesaikan sesuatu, itu tandanya ia sudah bisa melatih perhatian dan kemampuan fokusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;10. Tidur nyenyak.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setelah beraktivitas sepanjang hari, tubuh anak perlu istirahat (tidur) selama 8 jam sehari. Tidur dibutuhkan agar tubuh dapat berkembang dengan baik. Untuk membuatnya tidur nyenyak, buatlah perutnya kenyang terlebih dahulu.nu/det&lt;br /&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-7430437202774022998?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/7430437202774022998/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=7430437202774022998' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/7430437202774022998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/7430437202774022998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/09/anak-bergizi-baik-ciri-ciri.html' title='Anak Bergizi Baik : Ciri-Ciri'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01UVYRDu1I/AAAAAAAAANs/SWejgQKs65I/s72-c/smile+child.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-75435272946345797</id><published>2010-09-12T20:54:00.000-07:00</published><updated>2010-09-12T20:54:00.572-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesehatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berat Badan'/><title type='text'>Anak Perut Buncit : Siap-siap Mengidap Diabetes!!</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01TAa_LDfI/AAAAAAAAANk/JiymlA3pqcc/s1600-h/buncit.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01TAa_LDfI/AAAAAAAAANk/JiymlA3pqcc/s200/buncit.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Banyak orang tua menganggap perut buncit adalah ciri anak yang sehat. Tapi jangan salah, anak berperut buncit ternyata merupakan calon penderita diabetes nantinya. Waduh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak dengan perut buncit akan mengalami gangguan metabolisme dalam tubuhnya, dan hal ini akan memicu penyakit diabetes," ujar Dr dr Saptawati Bardosono, Sekjen Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI). Menurutnya, saat ini penyakit diabetes sudah banyak diderita kalangan muda. "Dulu orang tahunya penyakit diabetes itu penyakit orangtua, tapi sekarang anak di bawah 20 tahun bahkan anak-anak pun bisa kena diabetes," ujar Dr Saptawati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perut buncit pada anak diakibatkan oleh asupan makanan yang terlalu berlebihan. "Yang dikhawatirkan sebenarnya bukan kelebihan berat badan atau kegemukannya, tapi masalah kegemukan perutnya," jelas Dr. Saptawati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perut buncit menyebabkan resistensi insulin, artinya hormon insulin diproduksi berlebihan dan akhirnya tidak dapat bekerja normal lagi. Inilah yang dikhawatirkan menjadi penyakit diabetes nantinya," tambah Dr Saptawati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menimpa anak-anak, usia remaja pun saat ini dikhawatirkan lebih rentan terkena diabetes, terutama mereka yang sewaktu kecilnya mengalami gizi buruk dan mengubah pola makannya setelah dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tubuh akan bermetabolisme sesuai gizi yang masuk ke dalamnya. Artinya jika seseorang yang sewaktu kecilnya bergizi buruk, metabolismenya pun akan buruk, dan ketika menginjak dewasa ingin menggemukkan badan dengan makan yang banyak, metabolisme tubuhnya akan shock dan mungkin terganggu," jelas Dr Saptawati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya setelah dewasa, mapan dan tingkat hidupnya meningkat, daya beli serta pola makan seseorang pun akan berubah. "Seperti ingin balas dendam karena sewaktu kecilnya kurang gizi," ucap Dr Saptawati. Hal tersebut menurutnya boleh-boleh saja, asalkan dilakukan secara bertahap dan terkontrol, jangan terlalu drastis dan berlebihan, karena sistem metabolismenya butuh fase adaptasi.nu/det&lt;br /&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-75435272946345797?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/75435272946345797/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=75435272946345797' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/75435272946345797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/75435272946345797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/09/anak-perut-buncit-siap-siap-mengidap.html' title='Anak Perut Buncit : Siap-siap Mengidap Diabetes!!'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01TAa_LDfI/AAAAAAAAANk/JiymlA3pqcc/s72-c/buncit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-7190869599907031959</id><published>2010-09-02T20:45:00.000-07:00</published><updated>2010-09-02T20:45:00.111-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perilaku Anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkembangan Anak'/><title type='text'>Perilaku Anak = Perilaku Ibu</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01RUSG5SkI/AAAAAAAAANc/oxVTzC-ViM4/s1600-h/mom+child.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01RUSG5SkI/AAAAAAAAANc/oxVTzC-ViM4/s200/mom+child.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Cara ibu berinteraksi pada tahun pertama kelahiran bayinya ternyata berhubungan kuat dengan kelakuan anak dari balita hingga usia remaja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlakukan ibu dan temperamen sang bayi yang meresponsnya akan membentuk kelakuan anak-anaknya setelah besar nanti. Demikian hasil penelitian yang Benjamin Lahey dan timnya dari University of Chicago Amerika Serikat seperti dlansir &lt;i&gt;Sciencedaily&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneliti melihat hubungan antara temperamen sang bayi dengan kemampuan ibu dalam mendidik selama tahun pertama kehidupan pada 1.800 anak usia 4-13 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengukuran temperamen pada bayi ini meliputi tingkat aktifitas serta bagaimana tingkat ketakutan sang yang tidak dapat diprediksi, bayi yang rewel, serta kondisi anak-anak yang tidak kelihatan tidak nyaman dengan kondisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneliti melihat bagaimana ibu menstimulasi sang bayi secara intelektual, bagaimana tanggapan orang tua terhadap permintaan sang anak dan apakah orang tua menggunakan pukulan atau kekerasan fisik lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkah laku anak akan memiliki masalah dikehidupan nantinya seperti mencuri, berbohong, bermasalah dengan gurunya, menjadi tidak patuh baik di sekolah maupun di rumah, suka kekerasan dan menunjukkan tidak adanya penyesalan setelah melakukan kesalahan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil ini mengindikasikan bahwa tingkat maternal dari temperamen sang bayi dan gaya orang tua mendidik selama tahun pertama cukup mengejutkan dengan tingkat maternal masalah kelakuan anak hingga memasuki usia 13 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rewel pada bayi yang berkurang dan bayi yang lebih bisa diprediksi adalah ciri dari bayi yang distimulasi secara intelektual oleh ibunya pada tahun pertama kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil ini mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa intervensi yang berfokus pada perilaku orang tua selama tahun pertama kehidupan akan memberikan keuntungan dalam mencegah masalah yang berhubungan dengan kelakuan anak nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, penting bagi ibu untuk memberikan pendidikan cara pengasuhan yang benar pada bayi sejak dini, untuk menghindari perilaku buruk sang anak nantinya.ver/det&lt;br /&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-7190869599907031959?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/7190869599907031959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=7190869599907031959' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/7190869599907031959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/7190869599907031959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/09/perilaku-anak-perilaku-ibu.html' title='Perilaku Anak = Perilaku Ibu'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01RUSG5SkI/AAAAAAAAANc/oxVTzC-ViM4/s72-c/mom+child.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-1742875374037654081</id><published>2010-08-22T20:29:00.000-07:00</published><updated>2010-08-22T20:29:00.651-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tidur'/><title type='text'>Tidur : Anak-anak Lebih Sering Mimpi Buruk</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01NDOloD_I/AAAAAAAAANE/JZZwLRO7lDQ/s1600-h/mimpi+buruk.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01NDOloD_I/AAAAAAAAANE/JZZwLRO7lDQ/s200/mimpi+buruk.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Serangan mimpi buruk kerap membuat seseorang ketakutan, sesak nafas dan merasa tersiksa. Mimpi buruk ternyata lebih banyak dialami anak-anak dan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikejar-kejar monster, terjebak di lift, terkena bencana alam, disiksa dan ditinggalkan oleh orang tersayang mungkin menjadi beberapa skenario yang muncul ketika seseorang bermimpi buruk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi yang bersifat serangan atau kejaran, umumnya dialami sekitar 67%-90% dalam hidup seseorang, dan biasanya 92% mimpi tersebut dialami wanita, sedangkan pria sebanyak 85%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa perempuan dan anak-anak lebih sering mimpi buruk? Salah satunya karena faktor emosi yang kurang baik, seperti sedih, marah atau ketakutan. Diantara ketiganya, ketakutan adalah faktor yang paling sering menyebabkan mimpi buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan mimpi buruk pada anak-anak biasanya karena si anak tidak bisa membedakan imajinasi dan realitas sehingga kadang ketika bangun pun anak masih merasa ketakutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Irshaad Ebrahim, MD MRCPsych, Neuropsychiatrist in Sleep Disorders at the Constantia Sleep Centre mengungkapkan bahwa setiap orang memiliki 100% kemungkinan mengalami mimpi buruk, paling sedikit sekali seumur hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dilansir dari&lt;i&gt; health24&lt;/i&gt;, Kamis (9/7/2009), Ebrahim mengungkapkan frekuensi munculnya sebuah mimpi buruk ternyata dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti usia dan jenis kelamin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ebrahim menjelaskan dari penelitian mengenai frekuensi mimpi buruk yang dilakukan terhadap anak-anak, orang dewasa baik perempuan atau laki-laki, hasilnya menunjukkan bahwa mimpi buruk lebih sering dialami oleh anak-anak dan juga dari golongan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tak perlu panik. Agar tidur tak dihampiri mimpi buruk ada beberapa tips yang patut dicoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bicaralah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya yaitu membicarakan masalah yang kita miliki pada orang lain (teman/keluarga), jangan dipendam sendiri agar tidak menjadi gunung masalah yang dapat meletus dalam mimpi kita. Orang tua juga bisa menjadi pendengar yang baik buat anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hindari Tontonan Seram&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya hindari tontonan yang seram untuk anak-anak agar anak tidak larut memikirkannya hingga tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Berolahragalah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Olahraga/fitness yang teratur karena berolahraga dapat melatih otot-otot jantung dan pernafasan sehingga membuat tidur jauh lebih tenang, bahkan kadang tidak bermimpi, yang merupakan tanda bahwa tidur kita nyenyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Santai Sejenak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pergilah ke tempat-tempat menenangkan seperti tempat spa, taman atau pantai yang dapat membuat tubuh dan pikiran lebih santai dan enteng.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Buat Rutinitas Tidur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Cobalah membuat rutinitas tidur yang baik dan benar. Tidurlah pada waktu yang sama tiap malamnya dan bangun pula pada waktu yang sama tiap paginya. Adanya ritme tidur yang teratur dapat membuat tidur lebih nyenyak dan terhindar dari mimpi buruk.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Hindari Obat/Pil Tidur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya jangan meminum obat/pil tidur untuk memaksakan tidur. Hindari pula meminum kopi atau minuman berkafein sebelum tidur karen dapat membuat gelisah ketika tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Cek Kesehatan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Terkadang mimpi buruk muncul karena adanya efek samping dari pengobatan yang sedang dijalani atau obat-obatan tertentu, jadi cobalah pergi ke dokter untuk mengonfirmasi hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hindari Alkohol&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mimpi buruk sering terjadi pada seseorang yang sering mengonsumsi alkohol/obat-obat terlarang. Bagi para pecandu sebaiknya berhenti dari sekarang dan carilah seseorang yang dapat membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat mencoba, &lt;i&gt;have a nice dream.nu/det&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-1742875374037654081?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/1742875374037654081/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=1742875374037654081' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/1742875374037654081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/1742875374037654081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/08/tidur-anak-anak-lebih-sering-mimpi.html' title='Tidur : Anak-anak Lebih Sering Mimpi Buruk'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01NDOloD_I/AAAAAAAAANE/JZZwLRO7lDQ/s72-c/mimpi+buruk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-1071858902416862999</id><published>2010-08-12T19:15:00.000-07:00</published><updated>2010-08-12T19:15:00.669-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang tua harus perhatikan ini...'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesehatan'/><title type='text'>Anak Demam, Jangan Panik !!</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S007Yfc1vyI/AAAAAAAAAMU/ji1stDCy5Uk/s1600-h/anak+flu.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S007Yfc1vyI/AAAAAAAAAMU/ji1stDCy5Uk/s200/anak+flu.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Demam yang terjadi pada anak-anak kerap membuat orang tua panik. Terkadang sikap orang tua juga sering berlebihan menghadapi demam pada anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap orang tua ini boleh jadi wajar mengingat tubuh masih rentan sehingga ada gangguan sedikit saja harus diwaspadai. Sayangnya, orang tua terkadang over reaktif dan cenderung fobia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua menjadi fobia demam (&lt;em&gt;fever-phobic&lt;/em&gt;) dengan mengecek suhu badan anak setiap jam dan memberikan obat penurun panas tiap beberapa jam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya tidak ada masalah jika seorang anak terkena demam. Bahkan, demam sebetulnya merupakan proses fisiologis dalam tubuh yang bermanfaat dalam proses metabolisme dalam tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fobia demam pada orang tua justru dapat menyebabkan anak overdosis karena terlalu sering dicekoki obat penurun panas. Demam sangat mengancam anak bahkan dapat menyebabkan kematian, namun sekarang orang tua harus mulai belajar dan memahami kondisi anak lebih baik lagi, daripada membuatnya terancam karena overdosis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Aditya Suryansyah, SpA dari RS Ibu dan Anak Buah Hati, Ciputat yang ditemui detikhealth mengatakan demam dapat berperan sebagai sinyal atau tanda untuk merangsang organ lain memacu mempertahankan keseimbangan organnya dan juga merupakan bagian respon fase akut terhadap rangsangan infeksi, luka atau trauma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Walaupun terkadang terlihat merugikan, namun dengan meningkatnya suhu tubuh, maka antibodi tubuh (sitokin) akan bekerja untuk mengatasi segala rangsangan. Bahkan setiap kenaikan suhu tubuh 1 derajat celcius, laju metabolisme tubuh akan meningkat sekitar 10%," ujar dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demam merupakan mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi atau masuknya zat asing ke dalam tubuh. Demam bukanlah suatu penyakit, melainkan gejala dari suatu penyakit. Dengan adanya demam, tubuh diberi sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang dikatakan demam apabila suhu badan lebih dari 38 derajat celcius. Gejala yang menyertai demam adalah berkeringat, menggigil, sakit kepala, sakit otot, kehilangan nafsu makan, dehidrasi, badan lemah, demam yang sangat tinggi sehingga dapat menyebabkan halusinasi, kebingungan, mudah marah, kejang-kejang bahkan kerusakan otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ibu biasanya langsung memberikan obat penurun panas segera setelah badan si anak terasa agak panas. Menanggapi hal tersebut, Dr Adit pun menyarankan agar para orang tua memantau baik-baik perilaku si anak, jangan terbawa panik dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian obat penurun panas tidak harus diberikan bila panas tidak terlalu tinggi (subfebris atau di bawah 38,3 derajat celcius) dan anak merasa nyaman, kecuali bila anak mempunyai riwayat kejang demam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bila suhu badan tidak terlalu panas (hangat-hangat kuku), yaitu sekitar 38 derajat celcius (suhu rectal), anak terlihat tenang dan tetap bermain. Orang tua tak perlu cemas namun harus tetap dipantau. Namun bila anak menunjukkan gejala mulai gelisah, kurang aktif, nafsu makan kurang, bahkan bila panas sangat tinggi dan disertai dehidrasi, atau kesulitan bernafas, orangtua harus segera bertindak dan membawa anak ke dokter atau ke rumah sakit," jelas Dr Adit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengobatan sering diberikan untuk membuat rasa nyaman pada anak dan orang tua, daripada bertujuan membuat keadaan suhu normal. Pemberian penurun panas yang dianjurkan adalah parasetamol, ibuprofen dan aspirin. Namun yang paling sering diberikan adalah parasetamol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Adit menegaskan bahwa yang pertama kali harus dilakukan orang tua saat anaknya panas adalah 'Jangan panik'. Selain itu, para orang tua juga sebaiknya menghindari memberikan kompres alkohol atau air dingin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkohol dapat terserap kulit dan dapat iritasi kulit sehingga tidak dianjurkan diberikan pada anak. Kompres dingin dapat menyebabkan anak makin menggigil dan panas tidak turun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bila diberikan kompres dingin, saat kulit anak diraba terasa sudah dingin, padahal itu hanya efek dari air dingin, tetapi dalam tubuh tetap panas," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Dennis Murray dari Michigan State University menyebutkan bahwa 14% orang tua memberikan acetaminophen (tylenol) setiap 3 jam sekali, padahal seharusnya 4 jam sekali. Selain itu, berdasarkan kuesioner tersebut, 68% orang tua mengunakan alkohol dan air dingin untuk meredakan panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cobalah melihat kondisi anak secara keseluruhan, jangan melihat dari suhu badannya saja," ujar Prof. Dennis yang dikutip dari &lt;em&gt;health24&lt;/em&gt;. nu/det &lt;br /&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-1071858902416862999?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/1071858902416862999/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=1071858902416862999' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/1071858902416862999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/1071858902416862999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/08/anak-demam-jangan-panik.html' title='Anak Demam, Jangan Panik !!'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S007Yfc1vyI/AAAAAAAAAMU/ji1stDCy5Uk/s72-c/anak+flu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-3503645468626003635</id><published>2010-08-02T06:27:00.000-07:00</published><updated>2010-08-02T06:27:00.606-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang tua harus perhatikan ini...'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebiasaan buruk'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips - Kiat'/><title type='text'>Anak Kecanduan Televisi - Tips  Untuk Mengurangi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S0yHzkNEzOI/AAAAAAAAAI8/OlfuoAigf7I/s1600-h/tv+candu.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S0yHzkNEzOI/AAAAAAAAAI8/OlfuoAigf7I/s200/tv+candu.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Saat makan, belajar atau beraktivitas lain anak-anak kerap menghabiskan banyak waktu di depan televisi. Televisi seperti candu yang bisa menambah wawasan tapi juga bisa merusak kebiasaan dan perilaku seorang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi adalah pusat dari kehidupan anak-anak karena sering berperan sebagai tutor, babysitter, guru, dan penghibur yang bergabung menjadi satu. Semuanya bergantung pada televisi. Dampak buruknya anak kadang meniru apa yang dilihatnya di TV seperti sinteron, adegan kekerasan, berita kriminal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah televisi akan terus menguasai anak-anak tanpa ada yang bisa dilakukan? Tidak, kebiasaan tersebut bisa diubah. Apa yang harus dilakukan oleh orang tua? I&lt;strong&gt;kuti tips berikut dan lakukan perubahan:&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Mulailah dari sekarang. Banyak anak yang mempunyai kebiasaan menonton televisi sejak usia 2 tahun. Kebiasaan ini sangat berbahaya, namun bisa diubah dengan membuat kebiasaan lain yang lebih menarik. Lakukanlah sewaktu-waktu setiap beberapa hari.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Letakkan televisi diruang yang jarang digunakan. Dengan televisi yang diletakkan jauh dari ruang keluarga, ruang tamu, ataupun ruangan yang paling sering digunakan, akan membuat anak-anak lebih sedikit menonton televisi dan lebih banyak melakukan hal yang lain bersama keluarga. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Buatlah rencana satu malam tanpa televisi, sehingga keluarga bisa berkumpul bersama dan saling bercerita tentang kehidupan masing-masing.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jangan jadikan televisi sebagai babysitter, anak yang ditinggal sendiri di depan televisi akan memberikan efek yang tidak baik, karena televisi tidak akan bisa membalas teriakan anak-anak atau bisa saja anak-anak menonton acara dewasa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Buatlah rencana untuk menentukan apa yang akan keluarga tonton setiap malam, jadi orang tua juga bisa menyeleksi tontonan anak-anaknya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Carilah acara yang memang dibuat untuk anak-anak yang sesuai dengan umur, minat dan waktunya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tontonlah bersama-sama sehingga orang tua juga bisa mengevaluasi tontonan anak-anak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bantu anak-anak untuk menentukan mana yang nyata dan mana yang hanya rekayasa semata dan hindarkan segala adegan kekerasan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Temukan hiburan lain selain televisi. Menonton televisi memang bisa membuat rileks, tapi bermain scrabble, monopoli, puzzle, atau membaca buku cerita bersama-sama juga bisa menyenangkan. Sehingga anak-anak bisa mempunyai alternatif hiburan selain televisi.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Tidak perlu mencoba semuanya sekaligus, mulailah satu per satu dan orang tua bisa melakukannya setiap minggu. Selamat mencoba. vfb/det&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-3503645468626003635?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/3503645468626003635/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=3503645468626003635' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/3503645468626003635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/3503645468626003635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/08/anak-kecanduan-televisi-tips-untuk.html' title='Anak Kecanduan Televisi - Tips  Untuk Mengurangi'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S0yHzkNEzOI/AAAAAAAAAI8/OlfuoAigf7I/s72-c/tv+candu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-3165765003160217090</id><published>2010-07-28T05:12:00.000-07:00</published><updated>2010-07-28T05:12:00.509-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesehatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alergi'/><title type='text'>Alergi Pada Anak-Anak</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S0yGozgOX1I/AAAAAAAAAI0/XJUXRjFKkaU/s1600-h/alergy.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S0yGozgOX1I/AAAAAAAAAI0/XJUXRjFKkaU/s200/alergy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Riwayat alergi biasanya bermula dari masa kanak-kanak. Meski bukan penyakit yang mematikan, sekali mengidap alergi akan sulit seseorang melenyapkan gangguan ini yang ujung-ujungnya bisa menghambat aktivitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, agar tak keterusan mengidap alergi, sebaiknya orang tua mewaspadai gejala alergi pada anak sejak dini. Karena pencetus alergi bisa dari beragam faktor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alergi atau kata lainnya hipersensitif merupakan reaksi yang berbeda atau menyimpang dari normal terhadap berbagai rangsangan atau zat dari luar tubuh seperti makanan, debu, obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak faktor yang dapat menyebabkan alergi, pertama faktor genetik yang diturunkan atau rasial atau gen. Kedua, lingkungan berupa alergen, infeksi, polusi, aktivitas fisik atau emosi. Ketiga, imunologi terkait dengan sistem imun yang tidak normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Zakiudin Munasir SpAK, ahli alergi imunologi bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, dalam seminar bertajuk 'Apakah Alergi Diturunkan Pada Anak?' menunjukkan angka kejadian alergi di Indonesia yang semakin meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun belum ada angka pastinya, namun beberapa peneliti memperkirakan bahwa peningkatan kasus alergi di Indonesia mencapai 30% per tahunnya. Data dari RSCM/FKUI menunjukkan, angka penderita asma di Indonesia mencapai 8,2%, alergi hidung 17,5%, dan eksim 2,5-4%. Salah satu rumah sakit di Bandung pun mengabarkan bahwa per bulannya terdapat 20-30 penderita alergi yang berobat, sisanya masih belum diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) memperlihatkan bahwa penyebab alergi terbesar yang berasal dari makanan adalah susu (4,1%), sisanya dari telur, kacang-kacangan (tanah, kedelai), seafood, udang dan gandum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor yang berperan dalam mekanisme alergi adalah Imunoglobulin E (IgE). Zat asing yang masuk ke dalam tubuh jika menempel pada sel mast (pada usus) akan ditangkap oleh IgE dan menyebabkan keluarnya histamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Zat histamin itulah yang menyebabkan alergi," ucap Zakiudin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun alergi baru akan terjadi jika kontak dengan IgE terjadi secara berkala. Artinya jika seseorang baru pertama kali mengonsumsi makanan atau berada dalam lingkungan yang menyebabkan alergi maka gejala alergi tidak akan langsung muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Zakiudin, seorang anak berisiko lebih besar terkena alergi jika memilki riwayat keluarga alergi. Karena alergi bisa diturunkan secara genetik dari ibu, ayah, kakek, tante, paman, dan anggota keluarga lainnya meski alergi yang diderita dalam keluarga besar tersebut bisa saja berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor risiko terbesar lainnya berasal dari rokok. Ibu hamil yang merokok berisiko besar melahirkan anak yang alergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun alergi bukan penyakit mematikan, Zakiudin mengamini kehadiran si pengganggu ini akan sangat menghambat aktivitas anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa gatal, bersin terus menerus, pilek, muntah-muntah, dan sakit kepala adalah gejala klinis yang membuat sang buah hati menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak yang mengalami gejala ini biasanya sering gatal-gatal, bersin-bersin, mengusap-usap hidung ke arah atas, memiliki garis dennie (dennie's line) dan kantung di pelupuk mata, atau di bagian lidah atasnya terlihat seperti peta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya cara menghindari gejala tersebut adalah dengan mengontrol lingkungan sekitarnya, karena menurut Zakiudin, alergi tidak dapat disembuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bahkan jika penyakit alergi sewaktu kecilnya sudah sembuh, ketika dewasa dapat kambuh lagi jika makanan atau lingkungannya tidak terkontrol," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait pengobatan alergi, dokter biasanya memberikan obat-obatan seperti antihistamin dan kortikosteroid (baik yang diberikan lewat mulut, suntikan, maupun inhalasi) untuk memperkuat dinding sel mast dalam tubuh pasien. Dosis awal antihistamin umumnya 1 tablet setiap 4 - 6 jam sehari sesudah makan dan sebelum tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang harus diwaspadai dan dihindari adalah penggunaan antihistamin yang dikombinasikan dengan obat-obat penenang atau obat-obat yang bekerja menekan sistem syaraf pusat seperti luminal dan diazepam, sebab kombinasi tersebut dapat mengadakan potensiasi, sehingga dapat terjadi efek penekanan sistem syaraf pusat secara berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berikut tips mencegah alergi pada anak :&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Kenalilah gejala alergi pada anak, hindarilah faktor-faktor yang menyebabkan gejala tersebut.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sebisa mungkin hindari makanan yang mengundang alergi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gunakanlah kain/pakaian bersih untuk menghilangkan debu/kotoran,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gunakanlah sprei bersih. cuci sprei dan gantilah pemakaiannya minimal seminggu sekali.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jangan menggelar karpet/bahan-bahan yang berbulu jika anak anda alergi debu/bulu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hindari dan kurangi tempat-tempat lembab dari jangkauan anak, karena debu, jamur, dan tungau senang bersarang di tempat-tempat yang lembab.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berolahragalah secara rutin untuk memperkuat daya tahan tubuh.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tingkatkan konsumsi vitamin C dan kalsium .&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Temui dokter jika mulai merasakan gejala-gejala alergi.nu/det&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-3165765003160217090?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/3165765003160217090/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=3165765003160217090' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/3165765003160217090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/3165765003160217090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/07/alergi-pada-anak-anak.html' title='Alergi Pada Anak-Anak'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S0yGozgOX1I/AAAAAAAAAI0/XJUXRjFKkaU/s72-c/alergy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-5040212130999709068</id><published>2010-07-22T04:30:00.000-07:00</published><updated>2010-07-22T04:30:00.935-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liburan Asyik'/><title type='text'>Liburan Sehat</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S0xsL0DC_TI/AAAAAAAAAIM/4jS3S-HRr-k/s1600-h/liburan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="143" src="http://4.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S0xsL0DC_TI/AAAAAAAAAIM/4jS3S-HRr-k/s200/liburan.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Libur telah tiba. Saatnya merencanakan kegiatan yang menyenangkan bersama keluarga. Tapi ingat jangan sampai melupakan kesehatan anak agar liburan pun menjadi nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat liburan tiba biasanya setiap anak akan menyambut gembira, banyak hal yang ingin mereka lakukan. Kewajiban setiap orang tua adalah tetap menjaga stamina anak agar bisa menikmati liburan, karena jika salah satu anak ada yang sakit, rencana liburan yang menyenangkan akan terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum memulai liburan dengan keluarga, seperti diulas &lt;em&gt;healthychild.org&lt;/em&gt;, pastikan anak-anak mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Dengan waktu tidur yang sesuai, anak akan merasa segar pada saat bangun di esok harinya. Jika akan melakukan kegiatan di malam hari, pastikan saat siang atau sore hari anak-anak telah beristirahat dengan cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika libur, anak-anak cenderung ingin mengkonsumsi makanan yang manis-manis, dan jajan sembarangan. Pastikan anak Anda mengkonsumsi makanan yang begizi sebelum melakukan liburan, setelah memakan makanan bergizi anak Anda boleh mengkonsumsi permen atau makanan yang manis 2 sampai 3 kali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan yang kaya akan vitamin dapat membatu sistem imun anak anda untuk melindunginya dari udara dingin atau virus yang ada dilingkungan sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat berlibur, anak-anak cenderung untuk bermain dengan keadaan sekitarnya, bermain dengan teman-teman yang sedang sakit bisa menularkan penyakit yang disebabkan oleh virus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetaplah menjaga kebersihan tangan anak anda dengan mencuci tangan memakai sabun dan mengalirkannya dengan air bersih selama kurang lebih 20 detik, atau bisa juga menggunakan hand sanitizer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapkan makanan yang aman dan sehat. Ingat empat hal penting, yaitu mencuci tangan dan mengeringkannya, menghindarkan kontaminasi, masaklah makanan pada suhu yang sesuai, dan simpanlah pada tempat yang bisa menahan suhu makanan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usahakan membawa obat-obatan yang biasa digunakan oleh anak anda pada saat anda bepergian, sehingga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Anda telah mempersiapkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anak Anda sakit, pastikan saat Anda akan pergi belibur kondisi mereka sudah benar-benar sembuh. Karena jika tidak, bisa jadi anak anda akan sakit kembali atau bahkan lebih parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap menjaga kesehatan Anda sebagai orang tua, dengan istirahat yang cukup, makan makanan yang bergizi dan menghindari orang yang sakit, sehingga anda tetap sehat dan mengurangi anak anda terpapar flu dan virus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jika Anda menginginkan liburan yang menyenangkan istirahat yang cukup, konsumsi makanan yang bergizi dan jagalah kebersihan tubuh dan lingkungan sekitar. Selamat berlibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut tips singkat sebelum melakukan liburan dengan anak anda: &lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Persiapkan segala sesuatunya dengan matang, dalam hal makanan, pakaian dan kenyamanan anak Anda.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jangan lupa membawa obat-obatan yang diperlukan oleh anak-anak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sosialisasikan dengan anak Anda, tempat liburan apa yang mereka inginkan, biarkan mereka mengeluarkan ide-idenya, dan berikan mereka pilihan tempat untuk liburan, sehingga merangsang mereka untuk berpikir.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sesuaikan budget yang ada dengan tempat pilihan liburan Anda.vfb/det&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-5040212130999709068?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/5040212130999709068/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=5040212130999709068' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/5040212130999709068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/5040212130999709068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/07/liburan-sehat.html' title='Liburan Sehat'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S0xsL0DC_TI/AAAAAAAAAIM/4jS3S-HRr-k/s72-c/liburan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-6667776443018879270</id><published>2010-07-12T04:24:00.000-07:00</published><updated>2010-07-12T04:24:00.529-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Music'/><title type='text'>Musik Untuk Bayi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S0xq6L9CWeI/AAAAAAAAAIE/r4wMLalEMEM/s1600-h/musik.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S0xq6L9CWeI/AAAAAAAAAIE/r4wMLalEMEM/s200/musik.jpg" width="126" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Musik tak hanya bisa menghibur. Bagi bayi, musik memiliki manfaat yang cukup besar. Misalnya meningkatkan kesehatan mereka. Sebuah penelitian membuktikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik dapat meningkatkan detak jantung serta pernafasan bayi yang baru lahir. Musik pun dapat digunakan untuk mengurangi rasa sakit sang bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah studi yang dikutip dari &lt;i&gt;Telegraph&lt;/i&gt;, mengungkapkan bahwa musik dapat membantu jantung memompa oksigen ke seluruh tubuh sang bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang peneliti Dr Manoj Kumar, dari Universitas Alberta, Kanada mengungkapkan bahwa musik dapat meringankan penderitaan bayi yang lahir prematur saat diberikan tindakan medis. Menurutnya musik jauh lebih baik dari pemakaian obat-obatan pengurang rasa sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dengan musik, bayi menjadi lebih tenang. Pertumbuhan mereka menjadi lebih baik. Sedangkan pada bayi-bayi prematur, penambahan berat badan mereka menjadi lebih cepat.aak/det&lt;br /&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-6667776443018879270?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/6667776443018879270/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=6667776443018879270' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/6667776443018879270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/6667776443018879270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/07/musik-untuk-bayi.html' title='Musik Untuk Bayi'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S0xq6L9CWeI/AAAAAAAAAIE/r4wMLalEMEM/s72-c/musik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-4201194172351790296</id><published>2010-07-02T21:42:00.000-07:00</published><updated>2010-07-02T21:42:00.757-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perilaku Anak'/><title type='text'>Si 2 tahun Menggunakan Tangan Kiri</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Si kecil melakukan semua kegiatan dengan tangan kirinya. Anda berpikir akan lebih baik bila ia juga terampil menggunakan tangan kanannya. Anda bisa melatihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bill Gates menjadi seorang milyuner dengan tangan kiri. Demikian pula penggubah musik klasik, Mozart. Belum lagi si jenius, Einstein. Bisa dikatakan bertangan kiri bukan halangan untuk sukses. Jadi, mengapa sebagian besar orang tua tetap merasa cemas ketika si kecil kidal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tanda si kecil kidal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak bayi si kidal dapat kita kenali. Syaratnya, si kecil harus aktif. Semakin aktif tangannya bereksplorasi, semakin mudah mengenali keadaannya. Di usia sekitar 2 tahun, paling tidak, tanda-tanda kekidalannya tak dapat ditutup-tutupi. Anak kidal melakukan semua kegiatan dengan tangan kiri. Refleks tangan kirinya pun lebih cepat dibanding tangan kanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sylvia Weber , penulis dan kepala sebuah lembaga konsultasi khusus untuk orang yang kidal di negara bagian Bavaria, Jerman, menyebutkan bahwa kidal adalah fenomena yang muncul secara herediter, diwariskan. Meskipun fenomena ini alami terjadi namun, dalam kultur timur seperti di Indonesia, anak kidal bisa menemui masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si kecil yang lebih terampil bertangan kiri untuk semua urusan, kerap kali harus berkali-kali mengulang sesuatu. Sebagai contoh, ketika bersalaman atau mengambil kue yang ditawarkan orang yang lebih tua, dengan tangan kirinya. Maka ia harus mengulang dengan tangan kanannya. Akibatnya, tak jarang, selain unik karena kidal, perkembangan rasa percaya diri anak kidal pun bisa terhambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jarang anak kidal juga terampil melakukan sesuatu dengan tangan kanannya. Anak yang terampil menggunakan tangan kiri dan sekaligus kanan memang lebih beruntung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jangan dipaksa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak kidal sering dianggap anak yang tidak sopan karena, misalnya, selalu lupa bersalaman dengan tangan kanan. Padahal, menurut Weber yang juga ahli biologi, dominasi tangan kiri memberi tanda bahwa aktivitas otak sebelah kanan lebih dominan. Demikian juga sebaliknya, dominasi aktivitas otak bagian kiri menandakan tangan kanan si kecil lebih kuat, lebih dominan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini menjelaskan mengapa para ahli tidak menyarankan orang tua untuk sekonyong-konyong mengoreksi, apalagi dengan paksaan, saat mengajarkan si kidal untuk selalu melakukan sesuatu dengan tangan kanan. “Kalau si batita, yang kidal, dipaksa selalu menggunakan tangan kanannya atau bahkan dicerca karena kekidalannya, maka aktivitas otak sebelah kanannya akan terhambat. Tak jarang anak kidal yang mengalami hal ini terganggu ingatan dan perkembangan rentang konsentrasinya. Bahkan, mengalami gangguan bicara dan orientasi,” jelas Weber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aturlah semua di tengah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau batita Anda ternyata kidal, terimalah dengan lapang dada. Pada kenyataannya penggunaan tangan kanan dan tangan kiri pada si kecil dapat dilatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara termudah melatih keterampilan menggunakan tangan kanan pada si kidal adalah dengan menempatkan benda-benda yang biasanya dipegangnya dengan tangan kiri, ke tengah. Misalnya, letakkan sendok makan di tengah piring. Demikian juga kudapan favorit dan benda kesayangan seperti kukis atau pensil warna. “Dengan demikian anak akan terdorong untuk meraih dengan tangan kanan,“ ungkap Weber, ibu dari dua gadis cilik yang juga kidal seperti dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu ragu memberikan pujian saat si kidal mulai terampil dan sigap mengguankan tangan kanannya. Memang perlu waktu untuk melatih si batita. Namun, asalkan Anda peka dan sigap memberikan penanganan, Anda masih punya banyak waktu untuk melatih keterampilan ini hingga si kecil masuk sekolah. Saat mana ia mulai dituntut aktif menggunakan kedua tangannya dengan terampil.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi Maerzyda A. D. Th. (ayahbunda)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-4201194172351790296?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/4201194172351790296/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=4201194172351790296' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/4201194172351790296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/4201194172351790296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/07/si-2-tahun-menggunakan-tangan-kiri.html' title='Si 2 tahun Menggunakan Tangan Kiri'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-7538596000646204850</id><published>2010-06-29T21:38:00.000-07:00</published><updated>2010-06-29T21:38:00.344-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkembangan Anak'/><title type='text'>Si 1 tahun Menendang Bola</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Si kecil baru saja bisa berjalan. Selang tiga bulan kemudian, ia terdorong ingin melakukan gerakan menendang. Bagaimana mengarahkannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berat badan si kecil sekarang tiga kali berat lahirnya. Berjalan sendiri dapat dilakukannya dengan baik. Ketika dilihatnya sesuatu yang menarik di dekat kakinya, ia pun jongkok dan mengambilnya. Ia kemudian berdiri, dan berjalan sambil membawa benda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usia 1 – 2 tahun ini, anak pun dapat menikmati dongeng yang Anda ceritakan padanya. Penurunan jumlah jam tidur, membuat si 1 tahun punya waktu untuk bermain serta mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Meski saat berada di antara anak sebaya, ia masih bermain paralel. Anak usia ini memang masih egosentris, sehingga ketika berada di antara anak lain ia bisa asyik bermain sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gerakan mudah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menendang, sebenarnya sudah dilakukan manusia sejak bayi, namun belum terarah. Gerakan-gerakan menendang yang lebih mirip mengayuh, terjadi pada bayi ketika ia menangis atau sedang gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan menendang yang sesungguhnya, dapat dilakukan oleh anak di usia sekitar 15 bulan. Tendangan ini pun sebetulnya belum terarah, karena anak belum mampu mengendalikan tendangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melatih anak menendang bola sebenarnya tidaklah susah, karena bagi si kecil kegiatan ini sebenarnya tidak sulit. Yang sulit adalah menyelaraskan lengan dan kaki pada awal ia akan menendang. Begitu keselarasan tercapai, keseimbangan pun diperoleh. Dan, ia akan dapat menendang serta mengikuti arah bola menggelinding. Karena kegiatan ini mengasyikkan, si 1 tahun tertantang untuk mengejar bola dan ditendangnya lagi bola itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melatih si kecil menendang bola, dapat dilakukan dengan bola yang ringan dan besar. Bagi anak yang kesulitan memperoleh keseimbangan, tanpa bola pun latihan menendang dapat dilakukan di kolam renang. Anak-anak gemar mengayun-ayunkan kaki ketika berada di dalam air. Ayunan kakinya ini dapat memperkuat oto-otot kakinya, yang akan berguna bagi kegiatannya bermain tendang bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mencontohkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bila si kecil tidak juga mampu menendang bola? Anak-anak belajar dari memperhatikan orang lain, meniru orang itu, mendapat penguatan dan berusaha melakukannya. Untuk melatih anak menendang bola, misalnya, perlihatkan bagaimana cara Anda menendang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelindingkan bola ke dekat kaki Anda, kemudian tendang perlahan ke arah kaki si kecil. Bila anak dapat menendangnya, pujilah dengan mengatakan, “Bagus nendangnya Nak!”. Pujian membuat anak senang dan ingin mengulanginya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak paham bahwa bola dapat ditendang bila berada di depan kakinya. Si kecil pun belajar bahwa kakinya berhubungan dengan bola, yaitu ketika ia menendang dan bola melambung. Ia pun segera paham, apa itu menendang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi anak, bola yang besar dan lembut lebih mudah ditendang dan ditangkap. Bila Anda dan si kecil melakukannya di dalam rumah, Anda dapat memberi contoh si kecil bagaimana menendang bola secara lebih terarah, yaitu dengan menendangnya ke arah dinding. Cara ini juga dapat digunakan untuk melatih si kecil menangkap bola. Ketika bola yang dilemparkan ke dinding terpantul, Anda sekaligus dapat melatih anak menangkap bola itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi anak yang sama sekali belum dapat menendang, latihan menendang dapat dilakukan dengan menggunakan balon, karena balon lebih lama menggelinding dibanding bola. Latihan menyepak bola ini selain menyenangkan dan memperkuat otot kaki, sekaligus melatih pernapasan si kecil.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Immanuella F. Rachmani (ayahbunda)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-7538596000646204850?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/7538596000646204850/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=7538596000646204850' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/7538596000646204850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/7538596000646204850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/06/si-1-tahun-menendang-bola.html' title='Si 1 tahun Menendang Bola'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-6323444833587398404</id><published>2010-06-22T21:37:00.000-07:00</published><updated>2010-06-22T21:37:00.491-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkembangan Anak'/><title type='text'>Si 1 tahun Berdiri Sendiri</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama ia berusaha melakukannya. Sekaranglah saatnya ia dapat melakukannya. Bagaimana Anda menghadapi peristiwa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak berusia tujuh bulan, si kecil mencoba berdiri. Namun, ia masih berdiri dengan cara mengandalkan kekuatan lengannya. Ia akan meraih tepian boks tempat bermainnya, dan dengan kekuatannya ia akan menarik tubuhnya sampai pada posisi berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahamannya tentang cara berdiri bertambah di bulan-bulan berikutnya. Kaki dijadikannya alat penumpu badannya, dan dengan kaki ia mendorong tubuh ke atas. Tetapi, masih juga dibantu kekuatan lengannya untuk menarik tubuh sampai pada posisi berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bulan kesebelas, si kecil mengalami kemajuan yang menakjubkan. Ia dapat berdiri dari posisi duduk. Ia tidak lagi mengandalkan kekuatan lengan untuk menarik tubuhnya. Kedua tangan dan kaki menjadi tumpuannya, sambil mengusahakan keseimbangan, yaitu saat si kecil menungging. Setelah beberapa detik, anak mungkin terjatuh. Atau sebelum terjatuh ia sudah lebih dulu berpegangan pada tepian boksnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada anak yang di usia 1 tahun sudah dapat membungkuk dari posisi berdiri untuk memungut mainannya. Mudah tampaknya, tapi sebetulnya tidak semudah yang kita lihat. Kemajuan si kecil melakukan gerak sesederhana apa pun mengandalkan kematangan otak dan otot..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Beri tempat yang aman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika belajar berdiri, anak kerap terjatuh. Untuk itu ia butuh tempat yang aman, yaitu tempat dengan permukaan empuk dan lembut yang menghindarkan si kecil dari luka atau memar karena benturan langsung dengan lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat belajar pun, anak tampaknya kerap butuh bantuan. Misalnya, ia ingin kembali duduk setelah lelah berdiri. Tetapi karena tidak tahu caranya, ia akan berteriak-teriak dan menangis minta bantuan. Anda tak perlu buru-buru mengangkat si kecil dan langsung mendudukkannya. Yang ia butuhkan adalah petunjuk cara melakukan gerakan jongkok dari posisi berdiri. Anda dapat membantunya belajar menekuk kakinya, menurunkan tubuhnya hingga ke posisi jongkok, lalu posisi merangkak dan duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali anak dapat berdiri sendiri, ia akan terdorong untuk melakukannya terus menerus untuk melatih otot-ototnya. Ia akan berdiri, menunduk, jongkok dan berdiri lagi. Sekali-sekali si kecil juga melangkah sambil berpegangan pada tepian boksnya. Tapi ini bukan pertanda ia dapat berjalan. Si kecil sedang belajar menyeimbangkan tubuhnya untuk maju pada keterampilan berikutnya, yaitu melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Anda ingin merangsang anak siap melangkah, Anda dapat menyediakan benda yang cukup kuat dan tidak mudah terguling untuk didorong-dorong oleh si kecil. Misalnya, kursi kayu yang tidak terlalu berat dan tidak terlalu ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Waspadai keterlambatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak berkembang dengan caranya masing-masing. Ada anak yang lebih cepat berkembang dari anak Anda, ada juga yang lebih lambat. Ada yang baru benar-benar dapat berdiri sendiri di usia 1 tahun. Tapi ada pula anak yang baru dapat melakukannya di usia 14 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila anak Anda di usia 18 bulan masih terus merangkak atau tidak belajar berdiri, Anda boleh waspada. Meski juga perlu diingat bahwa anak yang lahir prematur akan mengalami keterlambatan. Anda dapat menanyakan keadaan buah hati Anda ini pada dokter keluarga Anda.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Immanuella F. Rachmani&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-6323444833587398404?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/6323444833587398404/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=6323444833587398404' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/6323444833587398404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/6323444833587398404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/06/si-1-tahun-berdiri-sendiri.html' title='Si 1 tahun Berdiri Sendiri'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-1340785777800847754</id><published>2010-06-18T21:37:00.000-07:00</published><updated>2010-06-18T21:37:00.255-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perilaku Anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pembelajaran anak'/><title type='text'>Si 4 tahun “Mengapa” tanpa Akhir</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ia terus saja bertanya “mengapa” meski Anda tak selalu dapat menjawab. Kok tidak bosan-bosan, ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda kerap frustrasi dan kesal dengan pertanyaan “mengapa”. “Emang begitu. Tuhan menciptanya juga sudah begitu.” Mungkin itu jawaban Anda atas pertanyaan si empat tahun, “Mengapa bintang ada di atas? Mengapa kuku kucing tajam? Mengapa ada angin?” dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi pertanyaan-pertanyaan ini, Anda frustrasi karena dua hal. Pertama, Anda tidak tahu jawaban sebenarnya. Kedua, Anda bingung menyusun kalimat sederhana yang dapat dimengerti anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akar dari rasa frustrasi ini adalah kesalahpahaman Anda terhadap bahasa anak, dan Anda berpikir ketika anak bertanya “mengapa” sama seperti orang dewasa bertanya “mengapa”. Jawaban sebab-akibat yang Anda berikan kepada anak pun jauh dari tujuan, dan si kecil gagal terpuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pahami bahasa anak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat lahir, satu-satunya cara anak berkomunikasi adalah dengan menangis. Ia menggunakan bunyi yang sama untuk mengatakan “saya lapar”, “saya bosan,” “popok basah nih,” dan “Ibu, sini dong.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keajaiban terjadi saat Anda mulai paham makna tangis bayi, dan menandai setiap tangisannya adalah untuk mengekspresikan kebutuhan dan keinginan berbeda. Ibarat dua penari yang masih canggung pada awalnya, Anda dan bayi kian mahir dalam saling memahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat anak mulai belajar berkata-kata, kata-kata belum digunakan secara tepat seperti halnya orang dewasa. Ketika anak mengatakan “anjing”, yang dimaksud adalah semua binatang. Tetapi, dengan berkembangnya keterampilan anak bicara, ia berbicara seperti orang dewasa. Ini terjadi bersamaan dengan berkembangnya rasa ingin tahu si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bertanya terus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak sangat ingin tahu mengapa segala sesuatu terjadi. Pertanyaan “mengapa” yang mereka ajukan sebenarnya bagian dari perkembangan perbendaharaan katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak usia tiga tahun, anak menunjukkan kehausannya untuk memahami dunia sekitar. Ia sangat ingin berkomunikasi. Anak usia ini juga sangat termotivasi untuk belajar. Kata “mengapa” bukan semata untuk memperoleh informasi, tetapi juga untuk berkomunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usia empat tahun, kata ”mengapa” langsung dikaitkan dengan sesuatu seperti, “Mengapa anjing menggonggong?” Yang ada dalam pikiran anak saat ia bertanya “mengapa” adalah, “Wah, menarik sekali. Ceritain dong, anjing itu apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak usia ini tidak butuh penjelasan sebab-akibat. Mereka hanya butuh perhatian dan ingin Anda bercerita apa saja tentang sesuatu yang ditanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan “mengapa” yang terus-menerus memang melelahkan. Anda kerap berharap “mengapa” itu segera berakhir. Meski begitu, Anda tetap perlu sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjawab pertanyaan atau sekadar bercerita tentang topik yang diajukan anak merupakan ‘makanan’ bagi rasa ingin tahunya. Jawaban-jawaban Anda juga dapat meningkatkan rasa ingin tahu si kecil dan memberi pemahaman lebih baik tentang arti kata.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Immanuella F. Rachmani (ayahbunda)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-1340785777800847754?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/1340785777800847754/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=1340785777800847754' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/1340785777800847754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/1340785777800847754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/06/si-4-tahun-mengapa-tanpa-akhir.html' title='Si 4 tahun “Mengapa” tanpa Akhir'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-8651876030627635818</id><published>2010-06-12T21:32:00.000-07:00</published><updated>2010-06-12T21:32:00.746-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daya Konsentrasi - Fokus'/><title type='text'>Si 3 Tahun Daya Ingat Makin Kuat</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring perkembangan kemampuan mengingat dan daya konsentrasinya, si tiga tahun akan mudah mengingat hal-hal yang pernah dialami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, yuk kita baca buku cerita yang depannya gambar singa itu lho!” ujar Tita penuh semangat.&lt;br /&gt;“Buku cerita yang mana sih? Ibu enggak ingat,” ujar Mirna pada putrinya yang berusia 3,5 tahun ini.&lt;br /&gt;“Masa Ibu lupa? Itu lho yang dibeliin ayah waktu itu. Buku cerita itu ‘kan Ibu yang simpan,” jawab Tita penuh semangat sambil berupaya mengingatkan sang ibu.&lt;br /&gt;“Oh ya? Ibu lupa, sayang. Memang Ibu simpan di mana ya?” tanya Mirna sambil terus berupaya mengingat kembali.&lt;br /&gt;“Itu lho, Bu, disimpan di atas meja kerja ayah. Yuk kita ambil, Bu!” ajak Tita seraya menggandeng tangan sang ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berjalan bersama, Mirna menatap penuh kagum pada Tita yang mulai memiliki daya ingat yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Strategi mengingat informasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usia tiga tahun, si kecil memiliki kemampuan strategi mengingat yang lebih baik dibanding sebelumnya. Strategi mengingat merupakan aktivitas mental yang di dalamnya terdapat penyimpanan informasi, kemudian memindahkannya pada ingatan jangka panjang. Awalnya, strategi ini belum berjalan baik. Namun, seiring perkembangannya, strategi ini mengalami penyempurnaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga strategi penyimpanan informasi. Pertama, strategi mengingat dengan cara mengulang-ulang informasi yang diperoleh, disebut rehearsal . Kedua, kemampuan mengingat dengan cara mengelompokkan, sehingga memudahkan masuknya informasi, atau disebut dengan organisasi. Ketiga, elaborasi yaitu strategi mengingat dengan cara menggabungkan atau membuat hubungan dua atau lebih informasi yang tidak berada dalam kategori yang sama. Strategi ini baru dimiliki anak saat berusia sekitar 11 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain perlu strategi mengingat informasi, seseorang juga perlu punya kemampuan retrieval , yaitu memanggil kembali informasi yang masuk ke dalam ingatan jangka panjangnya. Cara untuk melakukan ini adalah dengan recognition . Umumnya anak usia tiga tahun dapat menggunakan strategi ini dengan cukup akurat. Misalnya, ketika anak usia ini diperlihatkan sepuluh gambar, ia dapat menebak gambar yang diperlihatkan sebelumnya dengan tingkat kebenaran 90 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Latihan mengingat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usia tiga tahunan, anak memiliki kemampuan menyimpan informasi dan memanggil kembali informasi yang disimpan. Hal ini menunjukkan ingatan yang dimiliki anak berkembang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan mengingat merupakan suatu kemampuan yang penting sekali kontribusinya bagi perkembangan kognitif anak. Terhambatnya perkembangan kemampuan mengingat pada si tiga tahun, akan menghambat pula seluruh proses belajarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melatih anak mengingat, Anda dapat menanyakan apa saja. Misalnya, di mana ia meletakkan kembali mainannya? Permainan apa saja yang ia lakukan bersama saudara sepupunya? Dengan siapa saja anak bermain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Anda perlu membantu anak mengorganisasi diri. Misalnya, dengan mengelompokkan benda-benda yang dimilikinya ke dalam kotak-kotak khusus agar memudahkannya menemukan kembali mainannya. Melalui kegiatan mengorganisasi ini Anda memberi rangsangan tepat untuk mengasah strategi pengolahan informasi yang anak peroleh ke dalam ingatan jangka panjangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cherry Riadi Lukman(ayahbunda)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-8651876030627635818?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/8651876030627635818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=8651876030627635818' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/8651876030627635818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/8651876030627635818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/06/si-3-tahun-daya-ingat-makin-kuat.html' title='Si 3 Tahun Daya Ingat Makin Kuat'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-2593878557822151633</id><published>2010-06-06T21:30:00.000-07:00</published><updated>2010-06-06T21:30:00.200-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pembelajaran anak'/><title type='text'>Si 2 tahun “Sekolahku”: Supermarket</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ia takkan merengek minta mainan atau permen saat diajak berbelanja. Syaratnya, Anda tidak pelit berbicara! Momen ini dapat menjadi sarana belajar anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Anda, supermarket berarti berbelanja kebutuhan mingguan atau bulanan, menyiasati harga yang kian melambung dan mengantisipasi rengekan si kecil yang minta segala macam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi anak Anda yang berusia dua tahunan, supermarket bisa berarti barang-barang yang mudah dijangkau, bau masakan yang lezat, dan area luas untuk berlari-larian. Menyenangkan sekali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Terlalu banyak larangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi belum tentu anak menikmati berada di supermarket . Sebab, saat berbelanja, Anda melarangnya mengambil barang-barang atau berlari-larian. Dilarang “ini-itu”, anak pun mulai kesal bahkan bisa mengamuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengamankannya, Anda memasukkannya ke dalam keranjang dorong, dan membiarkannya duduk diam di situ. Sementara Anda memilih barang-barang yang hendak dibeli, si dua tahun memandangi Anda, tak tahu apa yang dapat dilakukannya. Membosankan sekali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba bayangkan, Anda berada pada posisi anak: duduk diam di dalam keranjang sambil mengamati orang dewasa yang mengambil barang tanpa sekalipun mengajak Anda berbicara atau bercerita apa yang ia beli. Sama seperti si dua tahun, Anda pun lama kelamaan akan kesal dan mulai bertingkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Libatkan anak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara belanja yang mungkin Anda lakukan dua kali dalam sebulan, merupakan kesempatan menyenangkan untuk membantu anak belajar berbagai hal. Di supermarket, anak dapat mempelajari kata-kata baru dan nama-nama barang yang setiap hari ia jumpai di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan yang Anda berikan pada anak, tidak menyita waktu Anda saat berbelanja. Melibatkan anak saat berbelanja, tidak menambah waktu Anda untuk berputar-putar di supermarket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda hanya perlu mengatakan, “Yuk, kita cari apel merah. Apel merah. Di mana apel merah?” Setelah menemukan apel merah, Anda dapat minta bantuan anak mengambil beberapa buah apel dan memasukkannya ke dalam kantong plastik. Beberapa hal dapat dipelajari anak sekaligus saat itu, yaitu mengenal nama, warna, jumlah dan tekstur buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Anda memutuskan membeli brokoli, Anda pun hanya perlu berkata, “Mama mau beli brokoli. Brokoli warnanya hijau.” Setelah Anda mengambilnya, serahkan pada anak agar ia dapat memegangnya. Biarkan ia merasakan teksturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuncinya cuma satu! Jangan terlalu pelit bicara pada anak! Anda tak perlu khawatir kelihatan cerewet. Anak-anak senang mendengarkan pembicaraan Anda, karena ia butuh belajar berbagai hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian membuktikan anak usia dua tahun yang diasuh orang tua yang banyak bicara, cenderung lebih cepat bisa bicara dibanding anak yang diasuh orang tua pendiam. Menurut penelitian itu juga, percakapan yang nyata sajalah yang mampu mendorong anak belajar berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi tidak mampu membantu anak belajar bicara, karena anak sibuk memperhatikan gambar, bukan dialognya. Anak yang sering diajak bicara memiliki banyak perbendaharaan kata yang memudahkannya menyusun percakapan.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Immanuella F. Rachmani&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-2593878557822151633?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/2593878557822151633/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=2593878557822151633' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/2593878557822151633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/2593878557822151633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/06/si-2-tahun-sekolahku-supermarket.html' title='Si 2 tahun “Sekolahku”: Supermarket'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-8156482548941344734</id><published>2010-06-01T19:46:00.000-07:00</published><updated>2010-06-01T19:46:00.850-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi - interaksi'/><title type='text'>Si 4 tahun Gemar Ngobrol</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perbendaharaan kata si empat tahun yang melonjak drastis, membuatnya senang betul mengobrol. Anda selayaknya bersikap positif menanggapi obrolannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah, tadi di jalanan macet enggak ? Terus ayah ngapain ? Ayah capek? Mau dipijitin kepalanya? Tadi temanku Adelia ngompol di sekolah. Padahal aku mau nganterin dia pipis lho. Tapi dianya enggak mau,” kata si kecil Vito. Bagai tak ada henti, Vito terus nyerocos. Sementara ayah yang sudah lelah, tak sanggup menimpali obrolan Vito. Ia hanya mengelus kepala Vito sambil terduduk lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi ayahnya, Vito kian hari kian cerewet. Kebutuhannya untuk ngobrol kian tinggi. Kadang-kadang, Vito menelepon ke ponsel ayah, sementara si ayah sedang rapat. “Nak, nanti Ayah telepon. Ini lagi rapat. Nanti ya…,” begitu biasanya ayah Vito menghentikan pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mulai gemar ngobrol&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli perkembangan meneliti mengapa anak usia prasekolah sangat suka ngobrol. Menurut mereka, di usia sekitar empat tahun, organ bicara anak cukup matang. Pengucapan kata dan artikulasi semakin baik. Huruf “ r” tidak lagi dilafalkan “ l” , huruf “ k” tidak lagi diucapkan “ t” . Anak usia ini sudah bisa diharapkan mengucapkan bunyi-bunyi yang sulit seperti “prajurit” dan “krupuk”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama usia ini, anak berusaha menyelaraskan berbagai bunyi untuk mendapatkan pengucapan yang tepat. Ia tidak hanya dapat mengucapkan kata, tetapi juga tahu artinya. Sampai usia empat tahun, perbendaharaan katanya mencapai 1500 kata. Padahal, di usia sebelumnya, maksimal 500 kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat yang diucapkan si empat tahun semakin rumit, terdiri dari enam sampai delapan kata. Di usia ini, anak paham kata-kata atau kalimat yang diucapkannya dapat mempengaruhi orang lain. Ia tahu bagaimana berbicara untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan. Ia dapat membujuk ibunya agar diperbolehkan bermain hujan-hujanan, misalnya. Saat bermain pun ia dapat mempengaruhi teman sebayanya agar mau bergabung bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak usia ini juga sudah bisa belajar aturan sosial dalam berbicara; seperti tutur kata, bahasa tubuh, berbicara agar orang lain paham dan bagaimana mendengar orang lain berbicara. Dengan berbagai kemahiran yang dicapainya, anak-anak usia ini gemar sekali mengobrol.&lt;br /&gt;Butuh teman, jangan abaikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang tua, Anda berperan penting dalam proses perkembangan bicara anak. Anda adalah model bicara bagi anak dalam memperkenalkan kata-kata baru, bertanya dan menjawab pertanyaan serta menggunakan tata bahasa yang baik. Anda juga menjadi contoh bagi anak dalam hal menyukai bacaan dan menulis atau mengarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila si empat tahun tidak berhenti mengajak Anda mengobrol, tetaplah bersikap positif padanya. Anda dapat mengarahkannya bercerita tentang apa saja. Tetaplah memusatkan perhatian pada cerita anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, mengobrol saat di meja makan dapat memenuhi kebutuhan si kecil berbicara. Namun bila saatnya anak harus berhenti bicara, katakan dengan tegas ia sudah harus menggosok gigi dan tidur. Obrolan bisa dilanjutkan besok.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Immanuella F. Rachmani&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-8156482548941344734?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/8156482548941344734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=8156482548941344734' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/8156482548941344734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/8156482548941344734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/06/si-4-tahun-gemar-ngobrol.html' title='Si 4 tahun Gemar Ngobrol'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-545873595652691861</id><published>2010-05-27T21:27:00.000-07:00</published><updated>2010-05-27T21:27:00.213-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pembelajaran anak'/><title type='text'>Si 4 Tahun Ikuti Perintah Dua Tahap</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dia makin pintar. Dua instruksi berurutan sudah ia pahami. Dia sudah bisa berpikir logis, runtut dan sistematis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Farah, nanti piring kotor bekas makan kue tart ditaruh di dapur ya.... Tapi sampahnya buang dulu di keranjang sampah ya sayang...,” ujar Erlinda pada putrinya yang berusia 4,5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Ma. Sekarang Farah buang sampahnya dulu di keranjang sampah. Udah itu baru ditaruh di dapur. Beres ‘kan Ma?” ujar Farah riang sambil mengerjakan instruksi mamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Paham konsep dan urutan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usianya kini, si kecil mulai mengembangkan landasan berpikir logis dan sistematis, sebagai modal untuk memahami berbagai disiplin ilmu kelak. Kemampuan ini berkat ia semakin memahami berbagai konsep dengan baik. Ia juga semakin paham segala sesuatu di sekelilingnya dapat terjadi dan dilakukan berdasarkan proses dengan urut-urutan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski si empat tahun memahami dan dapat melakukan instruksi dua tahap, namun, sesekali ia masih melakukan kekeliruan. Ini karena dalam mengasah kemampuan berpikir logis, sistematis dan runtut, si kecil masih sangat bergantung pada pengalamannya. Dengan kata lain, kemampuan memahami perintah dua tahap ini ia peroleh dari proses belajar melalui eksplorasi coba-salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perlu diasah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadangkala orang tua bingung melihat anaknya tak mengerti dua instruksi yang diberikan secara bertahap ini. Bila ini yang terjadi, jangan buru-buru menghakimi si kecil, bahwa ia tak secerdas teman sebayanya atau juga menilai ia masih belum bisa berpikir runtut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa keterampilan anak yang belum berkembang optimal dari sisi perkembangan kognitif, dan bisa juga dari perkembangan berbahasanya. Bila ini yang terjadi, Anda perlu membantunya mengembangkan keterampilannya. Salah satunya melalui kegiatan bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada berbagai permainan yang dapat membantu anak berpikir runtut. Misalnya, bermain balok. Saat melakukan permainan ini, Anda dapat mengatakan pada anak bahwa ia dapat membangun sebuah menara dengan menyusun balok lebih besar menyangga balok kecil secara berurutan. Bisa juga Anda mengajaknya mencari potongan puzzle dan bersama-sama menyusunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukan kegiatan bermain ini sambil tetap mengajaknya berkomunikasi. Katakan langkah-langkah atau instruksi secara bertahap pada anak. Permainan sebaiknya secara santai tanpa harus memaksa si kecil segera memahami instruksi dua tahap yang Anda berikan.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cherry Riadi Lukman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-545873595652691861?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/545873595652691861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=545873595652691861' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/545873595652691861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/545873595652691861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/05/si-4-tahun-ikuti-perintah-dua-tahap.html' title='Si 4 Tahun Ikuti Perintah Dua Tahap'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-1990394422370175562</id><published>2010-05-20T21:26:00.000-07:00</published><updated>2010-05-20T21:26:00.772-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perilaku Anak'/><title type='text'>Si 4 tahun Komentar Seenaknya</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Komentarnya sering memerahkan telinga. Bijak menanggapi adalah tindakan yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu! Ibu! Anak itu putih sekali. Rambutnya bisa kuning begitu. Bule ya?” teriak Eri saat makan di sebuah restoran, sambil menunjuk seorang anak berkulit albino. Dika salah tingkah dan berbisik, “Ssssttt…jangan suka ngomentari orang begitu.” Eri, yang belum juga ngeh bertanya, “Iya, tapi kenapp….” Belum selesai ucapannya, Dika membungkam mulut anaknya, “Ssssttt….!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak kerap kali berkomentar di mana saja dan kapan saja, tanpa memikirkan dampaknya bagi orang yang dikomentari. Anak-anak usia ini tak paham bahwa komentarnya bisa saja tidak dapat diterima orang lain. Mereka tentu tak bisa disalahkan, karena mereka belum matang secara sosial. Mereka juga belum mampu berpikir sebelum bicara. Namun, di sisi lain, anak sebenarnya mulai peka terhadap sesuatu yang tidak lazim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tidak bermaksud menghina&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh Bunda, orang itu pendek sekali!” Atau, “Orang itu kenapa hidungnya tidak ada?” Orang yang sangat pendek, orang yang tidak punya hidung, merupakan sesuatu yang tidak lazim. Anak mulai sadar ada sesuatu yang “tak beres”. Kesadaran ini tentu bukan sesuatu yang jelek. Masalahnya adalah, bagaimana melatih si kecil agar tidak berkomentar pada yang tak lazim itu, meski ia tidak berniat menyakiti hati orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum melatih anak peka terhadap orang lain, sebelummya Anda perlu introspeksi. Bisa saja anak belajar dari Anda. Namun bila anak nyata-nyata tidak meniru dari Anda, pengaruh lingkungan sekitar atau televisi mungkin biang keladinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, apa pun sumber cara anak berkomentar, Anda perlu mengubah perilaku anak agar sesuai tuntutan lingkungannya. Bila cara anak berkomentar terhadap kelainan orang lain tidak pada tempatnya, Anda dapat melatihnya tanpa membuat si kecil merasa dipermalukan. Bila anak berkomentar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jawab komentar anak dengan bijak; “ Ada banyak macam manusia. Ukurannya juga macam-macam. Ada yang tinggi sekali, ada yang pendek sekali. Tuhan menciptakan manusia bermacam-macam. Warna kulitmu apa? Di kelasmu ada enggak anak yang paling tinggi?” Saat Anda mengatakan ini, arahkan pandangan Anda pada wajah anak. Jangan biarkan ia terlalu lama memandangi orang yang dikomentari.&lt;br /&gt;* Jangan membuat anak merasa bersalah karena apa yang dikatakannya itu benar.&lt;br /&gt;* Setelah Anda hanya berdua dengan anak, misalnya di dalam mobil, jelaskan padanya bahwa ia tak boleh berkomentar seperti itu. Apalagi mengomentari orang di tempat umum mengenai keadaan fisik bisa membuat orang itu sedih, marah, atau tersinggung.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Immanuella F. Rachmani(ayahbunda)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-1990394422370175562?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/1990394422370175562/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=1990394422370175562' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/1990394422370175562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/1990394422370175562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/05/si-4-tahun-komentar-seenaknya.html' title='Si 4 tahun Komentar Seenaknya'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-9155152403385967610</id><published>2010-05-12T21:22:00.000-07:00</published><updated>2010-05-12T21:22:00.554-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkembangan Anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pembelajaran anak'/><title type='text'>Belajar Lewat Games</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Bermain dan permainan dapat menjadi ajang pembelajaran anak. Permainan apa saja yang dapat mengasah kecerdasannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menyenangkan, bermain merupakan cara anak mengenal dunia. Melalui permainan si kecil mempelajari suatu keterampilan atau sesuatu yang baru. Permainan di luar ruang yang aktif membantu meningkatkan koordinasi fisik anak. Permainan huruf mengembangkan kemampuan anak berbahasa. Permainan yang berkaitan dengan fantasi mengembangkan dunia imajiner si kecil yang diperlukan anak untuk menulis cerita saat ia bersekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini beberapa permainan (games) yang dapat mengasah berbagai aspek perkembangan si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Memory games&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan memori dapat mengasah daya ingat anak. Memiliki daya ingat yang baik mendukung kemudahan anak belajar. Anda dapat mulai mengasah daya ingat anak sedini mungkin.&lt;br /&gt;Mengingat Benda dalam Nampan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak usia 2 tahun ke atas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letakkan lima atau lebih benda pada nampan dan ajak anak memperhatikan benda-benda tersebut. Mintalah si kecil menutup matanya, lantas Anda sembunyikan satu benda yang ada di nampan. Minta anak membuka matanya dan tanyakan benda yang tidak ada pada nampan. Anda dapat pula melakukan permainan ini dengan menutup nampan dan memintanya menyebutkan benda-benda pada nampan yang sebelumnya telah dilihat dan diingatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2 . Creative games&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan kreatif ini mengasah kemampuan si kecil untuk mengatasi berbagai masalah yang mungkin ditemuinya, sehingga ia tahu solusi untuk memecahkan masalah saat dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyusun Balok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak usia 2 tahun ke atas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajak si kecil membuat rumah seperti rumahnya atau rumah yang diimpikannya menggunakan balok-balok kayu atau plastik. Biarkan imajinasinya berkembang untuk membuat bentuk apa pun.&lt;br /&gt;Melipat, Menggunting dan Menempel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak usia 4 tahun ke atas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunakan kertas berwarna untuk membuat benda-benda. Misalnya, katak, burung atau anjing. Kemampuan melipat, yang merupakan keterampilan motorik halus anak pun terasah karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat juga Anda mengajak si kecil menggunting kertas berwarna membentuk benda, misalnya jeruk atau mangga. Kemudian, tempelkan guntingan kertas itu pada buku atau selembar kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Socialization games&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan sosialisasi melibatkan beberapa anak sebaya. Kegiatan ini mengembangkan kemampuan si kecil bersosialisasi. Lebih baik lagi bila permainan ini menuntut kerja sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Saling Tumpuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak usia 2 - 5 tahun)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat dimainkan 5 -10 anak. Anak-anak duduk dalam satu lingkaran. Seorang anak mulai meletakkan kepalan tangan kanannya di tengah lingkaran, disusul kepalan tangan kanan anak lain yang diletakkan di atas kepalan tangan anak yang pertama, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semua kepalan tangan kanan tertumpuk, anak pertama meletakkan kepalan tangan kirinya di atas tumpukan kepalan tangan kanan yang terakhir. Penumpukan kepalan tangan kiri ini disusul anak lain hingga semua kepalan tangan kiri bertumpukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, kepalan tangan paling bawah berpindah ke atas, disusul tangan berikutnya. Perpindahan tangan dari bawah ke atas semakin lama semakin cepat. Dalam permainan ini tidak ada pihak yang menang atau kalah.&lt;br /&gt;Bermain Kartu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak usia 4 tahun)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda dapat menggunakan kartu bergambar khusus untuk anak-anak. Selain mengembangkan keterampilan sosial, karena anak dituntut berinteraksi dengan anak lain, kemampuan si kecil mengingat pun terlatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Observation games&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan observasi mengajar anak mengenali detail. Lihat baik-baik sebuah gambar dan dorong si kecil mengenal rincian gambar. Kemampuan ini dapat menjadi modal penting anak saat belajar mengenal huruf. Misalnya, ia mampu mengenal perbedaan huruf “b” dan “p”.&lt;br /&gt;Mencari Perbedaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak usia 3 tahun ke atas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambarlah dua gambar serupa dengan beberapa bagian berbeda. Minta si kecil melihat gambar tersebut dan cari apa atau bagian mana yang berbeda. Misalnya, gambar anak perempuan dengan pita rambut. Sedangkan gambar satunya tidak mengenakan pita.&lt;br /&gt;Mengenali Objek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak usia 2 tahun ke atas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buka satu halaman di buku cerita anak, dan minta anak mendeskripsikan objek di halaman yang dipilih Misalnya, gambar orang. Bantu anak dengan pertanyaan Anda. Misalnya, apa warna rambut orang tersebut, panjang-pendek rambut dan jenis kelaminnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. Imaginative games&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua anak menyukai permainan imajinatif, seperti bermain pura-pura. Permainan jenis ini memperkaya imajinasi anak dan merangsangnya berpikir kreatif.&lt;br /&gt;Boneka tangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak usia 2 tahun ke atas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berceritalah dengan menggunakan boneka tangan. Mulai dengan cerita yang sudah dikenal anak. Setelah itu, minta anak mengulang cerita atau mengemukakan ceritanya sendiri menggunakan tokoh boneka tangan.&lt;br /&gt;Bermain peran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak usia 3 tahun ke atas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan yang satu ini bisa jadi sering dilakukan dan menyenangkan anak. Anda dapat terlibat dalam permainan menggunakan berbagai material sungguhan seperti kue kering untuk suguhan saat main tamu-tamuan, selimut untuk atap rumah, atau kursi untuk dinding rumah. Anda dan si kecil juga dapat bermain peran sesuai tokoh dalam film favoritnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6. Physical games&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menyenangkan, latihan fisik mengembangkan koordinasi anggota tubuh anak, badan si kecil fit dan sehat, membuat tidur si kecil lebih lelap, dan nafsu makannya lebih bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Ayo Melompat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak usia 2 tahun ke atas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan-jalanlah bersama anak di taman kompleks perumahan Anda. Mintalah anak melangkah beberapa kali, kemudian buat loncatan dua kali. Anda dapat meminta anak berlari dari satu pohon menuju Anda dalam hitungan sekian, tergantung jarak pohon ke tubuh Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7. Alphabet games&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui permainan alfabet anak belajar mengenal huruf dan angka. Pengenalan awal ini bisa menjadi bekal pengetahuan dan mempermudah si kecil saat ia belajar huruf dan angka di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat Buku “Huruf” .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak usia 3 tahun ke atas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunakan halaman berbeda untuk setiap huruf dan letakkan gambar objek yang dimulai dengan huruf termaksud. Misalnya, hurup “A” untuk gambar apel atau huruf “H” untuk gambar harimau.&lt;br /&gt;Menyambung Titik-Titik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak usia 2,5 tahun ke atas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat huruf dari titik-titik. Minta si kecil menyambungkan tiap titik. Tempelkan gambar objek yang di mulai dengan huruf tersebut. Kegiatan ini juga dapat meningkatkan keterampilan motorik halus anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8. Singing games&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan bernyanyi ini menyenangkan. Kegiatan yang memunculkan irama dan lagu dapat memperkaya bank data kata-kata dan frase si kecil yang dapat digunakannya sewaktu-waktu ia perlukan. Dengan begitu, tanpa terasa, melalui bernyanyi anak belajar berbagai hal.&lt;br /&gt;Menebak Kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak usia 2, 5 tahun ke atas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyanyikan lagu anak yang dikenalnya, kemudian hilangkan satu-dua kata dalam kalimat lagu dan lantas minta si kecil menebak kata yang hilang. Semakin besar usia anak, semakin banyak kata yang dapat Anda hilangkan.&lt;br /&gt;Memperagakan Tindakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak usia 2,5 tahun ke atas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bernyanyilah untuk si kecil. Gunakan lagu yang dikenalnya. Pada kata kerja yang ada pada lagu, Anda tak perlu menyanyikan melainkan memperagakannya. Minta si kecil menyebutkan apa yang Anda peragakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Grahita Purbasantika Nugraha (ayahbunda)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-9155152403385967610?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/9155152403385967610/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=9155152403385967610' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/9155152403385967610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/9155152403385967610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/05/belajar-lewat-games.html' title='Belajar Lewat Games'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-6879475013106792887</id><published>2010-05-08T21:21:00.000-07:00</published><updated>2010-05-08T21:21:00.139-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mainan Anak'/><title type='text'>Mainan dari Kayu</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya mainan balok, ada berbagai mainan lain terbuat dari kayu dengan manfaat berbeda dan aman bagi anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mainan terbuat dari kayu dengan warna-warna cerah menarik, memang tampak unik karena, saat ini sebagian besar mainan anak terbuat dari bahan plastik. Apa yang perlu Anda perhatikan dalam memilihkan mainan kayu untuk si kecil?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perhatikan kualitas kayu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sedikit peralatan di sekitar si kecil terbuat dari kayu. Coba lihat peralatan dapur: sendok nasi dari kayu, sumpit dan ulekan kayu dengan piring penguleknya. Anak bisa saja minta memainkannya, karena apa saja memang bisa menjadi alat bermain si kecil. Namun, tentu saja, Anda perlu memperhatikan keamanan dan manfaatnya ketika mengizinkan anak memainkan peralatan rumah tangga terbuat dari kayu meski ringan, tanpa lapisan vernis dan cat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula, saat memilihkan mainan anak dari bahan kayu. Sekarang ini banyak dijual berbagai mainan berbahan dasar kayu dengan warna-warna yang sangat menarik. Namun, Anda perlu mempertimbangkan kualitas kayu. Apakah kayu untuk mainan itu rapuh dan mudah pecah? Mainan dari bahan kayu yang aman untuk anak adalah kayu yang digosok hingga halus dan tidak menyisakan serat, yang bisa menyelusup ke dalam pori-pori kulit si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak usia kurang dari dua tahun mengenali dunia sekitarnya dengan cara memasukkan benda-benda ke dalam mulut. Mainan dari bahan kayu mengalami proses pembuatan yang melibatkan bahan-bahan kimia. Vernis dan cat digunakan untuk melapisi kayu agar tampak mengilap dan menarik. Pikirkan bahayanya bila ini tertelan si kecil saat ia ‘mencicipi’ mainannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keakuratan dan sambungan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Anda memilih dan memutuskan membeli mainan dari bahan kayu, hal penting yang juga perlu Anda perhatikan adalah: usia anak, jenis mainan, dan aspek perkembangan si kecil yang ingin Anda beri rangsangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya saja, permainan susun balok, meski cocok untuk perkembangan motorik halus dan koordinasi, sebaiknya tidak diberikan kepada anak usia kurang dari dua tahun. Rocking horse, kuda-kudaan dari kayu, lebih sesuai untuk meningkatkan keseimbangan anak usia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Anda memberi mainan balok untuk anak di atas usia dua tahun, perhatikan potongan baloknya. Bila tidak akurat, balok-balok sulit disusun. Susunan balok yang berkali-kali roboh dapat membuat anak frustrasi dan tidak ingin memainkannya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu pula diperhatikan apakah mainan itu memiliki sudut yang runcing. Bila mainan itu tidak terbuat dari sepotong kayu namun memiliki sambungan; bagaimana penyambungan antar bagian? Apakah menggunakan paku atau lem?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya, hindari mainan kayu yang disambung dengan paku. Bila menggunakan lem, pikirkan juga kemungkinan lem itu mengeluarkan aroma yang mengganggu pernapasan si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ciptakan Keamanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jauhkan anak balita dari mainan yang memiliki bagian-bagian kecil dan tajam.&lt;br /&gt;* Sediakan tempat menyimpan mainan yang mudah dijangkau agar anak dapat menyimpan sendiri mainannya.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Immanuella F. Rachmani (ayahbunda)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-6879475013106792887?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/6879475013106792887/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=6879475013106792887' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/6879475013106792887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/6879475013106792887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/05/mainan-dari-kayu.html' title='Mainan dari Kayu'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-183731348138066664</id><published>2010-05-02T21:18:00.000-07:00</published><updated>2010-05-02T21:18:00.223-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mainan Anak'/><title type='text'>Mainan dari Plastik</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar mainan anak terbuat dari plastik. Tidak semua sesuai untuk anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plastik memang memiliki peran cukup penting sebagai bahan dasar untuk berbagai perlengkapan anak. Coba lihat; dari botol susu, peralatan makan, kursi, hingga mainan anak terbuat dari plastik. Ini karena bahan plastik membuat perlengkapan tersebut lembut dan tidak kaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mainan anak yang terbuat dari plastik, sudah lebih dari 50 tahun para pembuat mainan plastik menggunakan bahan polyvinyl chloride ( PVC ) atau yang lebih dikenal dengan vinyl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aman dan tahan lama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan vinyl memang kerap digunakan untuk membuat mainan dari plastik. Mengapa vinyl ? Bahan ini aman dan tahan lama. Selain itu, bahan ini dapat dibentuk sesuai kebutuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kerap terdengar pertanyaan-pertanyaan seputar keamanan penggunaan bahan ini dalam mainan si kecil. Misalnya, apakah bayi bisa terkontaminasi bahan Diisononyl phthalate ( DINP ) yang ada dalam vinyl? DINP ini memang digunakan dalam pembuatan mainan plastik dengan tujuan membuat mainan jadi lembut dan fleksibel. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh American Council on Science and Health membuktikan, bahan DINP ini aman digunakan dan tidak melukai anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sesuaikan usia anak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski mainan yang terbuat dari plastik aman bagi si kecil, namun orang tua perlu memilih mainan plastik yang sesuai dengan usia buah hatinya. Karena, kadangkala, ada mainan plastik yang mudah pecah menjadi bagian-bagian kecil, sehingga cukup berbahaya bagi anak usia prasekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila anak Anda berusia antara enam bulan sampai satu tahun, Anda dapat memilihkan mainan plastik yang lembut dan tebal. Misalnya, aneka mainan kunci plastik besar yang dilengkapi dengan pegangan, balok aneka warna, atau mainan yang bila ditekan tombolnya dapat mengeluarkan bunyi-bunyi yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi anak usia satu sampai tiga tahun, Anda dapat memberi mainan plastik berupa aneka kotak yang dapat didorong menjadi beberapa ukuran, mangkuk dan sendok plastik, mobil-mobilan, boneka, telepon mainan, atau sepeda roda tiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara bagi anak usia empat sampai lima tahun, Anda dapat memilihkan mainan plastik yang bersifat edukatif. Misalnya, lego atau menyusun balok-balok aneka bentuk.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cherry Riadi Lukman(Ayahbunda)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-183731348138066664?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/183731348138066664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=183731348138066664' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/183731348138066664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/183731348138066664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/05/mainan-dari-plastik.html' title='Mainan dari Plastik'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-7996564252294312522</id><published>2010-04-29T21:17:00.000-07:00</published><updated>2010-04-29T21:17:00.377-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menulis'/><title type='text'>Si 5 Tahun Tak Rapi Menulis</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Tulisan si lima tahun Anda masih saja jelek. Repotnya, ia ogah-ogahan berlatih menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan menulis memang membutuhkan keterampilan yang kompleks. Ini diawali dengan kemampuan menggenggam krayon dan membuat benang kusut pada usia sekitar dua tahun. Selanjutnya, mulailah perkembangan membuat kurva-kurva dan garis-garis yang merupakan modal awal membuat suatu huruf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si kecil tidak akan tiba-tiba mahir menulis jika tidak mendapatkan kesempatan untuk melatih motorik halusnya. Namun, tak perlu khawatir jika tulisan si lima tahun masih saja jelek. Dengan latihan dan semakin matangnya perkembangan otot anak, tulisannya akan semakin baik. Yang lebih penting, gugahlah minatnya untuk mencoba menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kapan bermasalah?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa anak memang mengalami masalah dalam keterampilan menulis. Jika khawatir, Anda dapat membicarakannya dengan guru si kecil. “Guru melihat anak Anda dalam berbagai situasi di sekolah. Ia dapat membandingkan kemajuan si kecil dengan anak-anak lainnya. Dengan begitu guru dapat melihat jika ada masalah dengan anak Anda,” kata Eve Stabinsky-Ackert , ahli pendidikan usia dini di Monroe , Connecticut , Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Pusat Kesulitan Belajar dan para ahli pendidikan usia dini di Amerika memberikan beberapa petunjuk untuk mengenali apakah si kecil Anda mengalami masalah dalam belajar menulis atau tidak. Sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Si kecil tampak tidak nyaman dalam menggenggam pensil atau bolpen.&lt;br /&gt;* Bermasalah untuk merencanakan atau memulai menulis. Ia, misalnya, hanya duduk dan menatap kertas saja dalam waktu yang lama.&lt;br /&gt;* Mudah frustrasi begitu disuruh duduk untuk menulis.&lt;br /&gt;* Tidak ada minat untuk mengekspresikan diri di atas kertas.&lt;br /&gt;* Gelisah secara ekstrim dan tidak dapat duduk diam untuk mencoba membuat sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Anda tak perlu khawatir berlebihan jika si kecil mempunyi tanda-tanda seperti di atas. Keterampilan menulis akan tetap dipelajari si kecil hingga ia di Sekolah Dasar kelak. Selain itu, bermasalah dalam menulis bukan berarti ia mengalami kesulitan belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Latih dengan bermain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melatih si kecil menulis, rancanglah sejumlah permainan yang menyenangkan. Mengingat, melalui cara inilah anak belajar. Carilah cara yang tidak memudarkan kemauan berlatihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Worobey, Ph.D, psikolog perkembangan dan pendidik anak usia dini dari Rutgers University , Amerika Serikat, menyarankan beberapa cara yang untuk menyokong keterampilan anak menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Saat Anda menulis daftar belanjaan, misalnya, minta si lima tahun mengikuti. Cara ini membuat anak menyadari pentingnya keterampilan menulis dalam kehidupan sehari-hari. Tentu, Anda perlu membuat tulisan sejelas dan sebesar mungkin, agar mudah diikuti si kecil.&lt;br /&gt;* Bermain dengan huruf magnet. Ini dilakukan untuk melatihnya menulis dan mengeja. Atau, Anda dapat memberinya majalah atau buku anak-anak yang memuat tugas menulis.&lt;br /&gt;* Buat agar aktivitas ini tidak membosankan anak. Misalnya, menyatukan titik-titik yang berbentuk huruf. Pilih pensil berwarna atau krayon warna merah untuk huruf “A”, warna biru untuk huruf ”B”, dan lainnya. Cara ini membantunya mematuhi aturan dan mengajarkan ketelitian.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grahita Purbasantika Nugraha (ayahbunda)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-7996564252294312522?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/7996564252294312522/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=7996564252294312522' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/7996564252294312522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/7996564252294312522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/04/si-5-tahun-tak-rapi-menulis.html' title='Si 5 Tahun Tak Rapi Menulis'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-1077821772436650520</id><published>2010-04-23T21:17:00.000-07:00</published><updated>2010-04-23T21:17:00.608-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bicara'/><title type='text'>Keliru Cara Bicara, Si Balita Apriori &amp; Mogok Omong</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Si balita seringkali tak menuruti kata-kata Anda. Dalam hati Anda bertanya, apakah ia memang tak mau menurut atau tidak paham penjelasan yang Anda sampaikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua muda kerapkali tidak paham, mengapa si balita tampak tak paham diajak bicara atau diberi pengertian. Mungkin sekali, seperti yang ditengerai Hans Grothe , ahli perkembangan anak Jerman, cara bicara orang tua yang kelirulah penyebabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kolumnis majalah Jerman Eltern ini, jika cara bicara yang keliru ini terus diterapkan, maka bisa timbul kesalahpahaman. Si kecil, bisa jadi, mogok bicara. Bahkan, dalam kasus ekstrem, anak terhambat perkembangan bicara dan kecerdasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Beberapa kekeliruan klasik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah cermati beberapa cara bicara Anda pada anak. Grothe menemukan bahwa dengan mengubah cara bicara, anak lebih mudah diajak berkomunikasi dan diberi pengertian. Inilah cara-cara bicara yang harus Anda ubah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Formulasi kalimat terlalu rumit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah Anda membuat si kecil bingung dengan ungkapan sebagai berikut? “Sudah, Kakak, jangan ganggu adik! Bunda akan lebih senang kalau Kakak berhenti mengganggu adik bayi! Nanti adik menangis kalau diganggu terus” Bukan hanya si tiga tahun Anda yang bingung, mungkin ayahnya pun akan bertanya heran kalau ia tak benar-benar menyimak perkataan Anda. Kira-kira dimanakah letak pesan inti dari kalimat panjang-lebar itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda cukup mengatakan, “Kakak, tolong berhenti mengganggu adik, ya!” Saat mengatakannya, cobalah Anda menatap mata anak dan mintalah ia memusatkan perhatian pada apa yang Anda katakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak-anak lebih mudah memahami kalimat sederhana dan to the point . Kalimat yang terlalu bertele-tele dan panjang hanya membuat anak bingung dan tak tertarik menyimak celoteh Anda,” jelas Grothe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Informasi terlalu padat dan banyak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendala utama orang tua yang memiliki anak balita adalah waktu dan kesabaran. Segudang kesibukan dan ulah si kecil yang tak ada habisnya memang dua hal yang menimbulkan dilema bagi orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Anda hendak menyampaikan sebuah pesan penting, mungkin, saatnya tidak tepat. Sebagai contoh, Anda sedang bertamu ke rumah seorang kerabat yang suka mengoleksi berbagai wadah kristal. Lalu si balita berulah merebut perhatian orang-orang yang baru dijumpainya. Gregetan adalah reaksi hampir semua orang tua dengan balita seperti ini. Namun, tak mudah memberitahu anak agar berhenti berlari ke sana-sini dalam kalimat-kalimat yang singkat dan padat. Yang keluar dari mulut orang tua biasanya omelan yang tiada mengenal tanda “titik” atau “koma”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grothe mengakui berbicara pada anak balita tidak mudah. Meskipun demikian, jangan abaikan peristiwa semacam ini. Segeralah beritahu si empat – lima tahun sesampai di rumah, tentang pelanggaran yang dilakukannya, lalu diskusikan. Sampaikan padanya bahwa Anda tidak setuju dengan perilakunya disertai alasan yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beri anak kesempatan untuk membela diri, kemudian akhiri dengan kesepakatan. “Mas, lain kali kalau sulit diberitahu, Bunda memilih pergi sendiri. Mas, tunggu di rumah saja”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dengan si tiga tahun, Anda harus kritis dan responsif. Seandainya Anda mencium gelagat ia semakin menjadi-jadi saat bertamu, segeralah mengajaknya bicara di sebuah sudut. Hanya berdua, empat mata. Ini penting dan tidak hanya berkaitan dengan kegiatan menyimak dan mematuhi. Cara seperti ini memperlihatkan, Anda menghormati harga dirinya. Dengan demikian, kemungkinan besar Anda juga akan memperoleh imbalan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Berbicara terlalu cepat dan tanpa intonasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan ketiga, orang tua sering berbicara terlalu cepat dan tanpa intonasi. Semua kata diberi intonasi tinggi, atau sebaliknya, sehingga balita bingung, apa pesan utama dari ucapan Anda. Jika pesan yang Anda sampaikan merupakan rangkaian kalimat yang sedikit panjang, cobalah selalu menempatkan sebuah penekan pada kata kunci atau yang Anda anggap penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara efektif pada balita sebaiknya perlahan, tegas dan berintonasi. Sebagai contoh Anda mengajak si balita mandi karena hari sudah sore. “Sudah sore, Kak, kita mandi, yuk!”. Penekanan pada kata “mandi” akan membuat balita lebih mudah menangkap pesan Anda. “Mandi, yuk! “Mandi…,” demikian biasanya jawaban si kecil terhadap kalimat yang memiliki penekanan pada kata “mandi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, si kecil belum memahami konsep waktu sehingga jika Anda mendesak dengan mengatakan, “Ayo sudah sore, nih!”, kemungkinan kecil memperoleh respons yang sama seperti pada contoh pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Terlalu sering mengulang kata dan kalimat perintah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan keempat adalah kesalahan umum orang tua. Ketika waktu yang tersedia sangat singkat dan kesabaran habis, kalimat-kalimat perintah atau instruksi sering Anda ulang-ulang. “Aduh, Bunda sudah lima kali bilang ”jangan”!”. Menurut Grothe, saat orang tua mengatakan demikian, si kecil dapat saja menjahili, “Nah, kalau Bunda sudah melarang lima kali, saya juga bisa dong, melanggar enam atau tujuh kali”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengulang-ulang sebuah ujaran, apalagi instruksi dan larangan, akan sangat berbahaya, apabila orang tua tidak siap dengan sikap antisipatif menghadapi sikap atau perilaku yang bersifat menguji,” saran Grothe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup katakan satu kali, dengan tegas, singkat dan suara yang lembut, di situasi yang tepat yaitu saat si kecil siap menerima pesan dan Anda siap berargumen. Tak perlu menggelegar dan menimbulkan rasa takut. Jangan harap membuat si kecil paham dan menurut, dengan cara ini ia malah takut dan tak mengerti maksud Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Saran agar memahami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya Anda ingin membuat si kecil menuruti dan memahami kata-kata Anda, sebaiknya Anda:&lt;br /&gt;* Menyampaikan pesan dalam kalimat yang jelas dan sederhana.&lt;br /&gt;* Menghindari penjelasan yang panjang dan berbelit-belit.&lt;br /&gt;* Melakukan kontak mata saat menjelaskan pada anak. Sedapat mungkin lakukan pula kontak fisik. Misalnya, membelai dan mengusap.&lt;br /&gt;* Menyampaikan pesan di situasi yang tepat, yaitu saat si kecil siap menerima penjelasan, dan Anda juga siap berargumen menyikapi perilaku si kecil yang menguji kesabaran Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi dan interaksi verbal merupakan suatu kebutuhan yang sangat mendesak sehingga sangat perlu dilakukan. Berbicara, mendukung perkembangan balita, terutama aspek kognitifnya. Namun, orang tua juga perlu belajar melihat situasi dari sudut pandang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penting pula memperhatikan timing , kesempatan yang tepat, untuk mengatakan sesuatu. Hasilnya, tak hanya pesan yang sampai, Anda bisa hemat energi meski hidup bersama balita. Anak pun sangat suka mendengarkan jika orang tuanya berbicara.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi Maerzyda A. D. Th. (ayahbunda)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-1077821772436650520?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/1077821772436650520/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=1077821772436650520' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/1077821772436650520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/1077821772436650520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/04/keliru-cara-bicara-si-balita-apriori.html' title='Keliru Cara Bicara, Si Balita Apriori &amp; Mogok Omong'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-3628648626902709488</id><published>2010-04-18T21:16:00.000-07:00</published><updated>2010-04-18T21:16:00.413-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perilaku Anak'/><title type='text'>Si 3 Tahun Membongkar Belanjaan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Membongkar kantong belanjaan mama menjadi hobi baru. Ini tanda perkembangan rasa ingin tahu dan juga motorik halusnya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mama beli apa?” tanya si tiga tahun ketika Anda pulang berbelanja. “Banyak Kak,” jawab Anda. Si kecil pun menyambut belanjaan yang Anda letakkan di meja. Satu persatu isi kantong dikeluarkannya dan ia teliti. Apa membuatnya tertarik pada kantong belanjaan Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ingin tahu dan motorik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa ingin tahu mendorong si kecil senang menyambut Anda pulang belanja, karena sebentar lagi ia boleh membongkar belanjaan ibu. Rasa ingin tahunya ini didukung perkembangan motorik yang semakin matang. Kini ia tak hanya mampu membuka, tapi juga pintar mengeluarkan barang-barang dari kantong belanjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih lagi saat ini si kecil telah mengenal beberapa barang yang sering dia dan Anda gunakan. Mengenali barang yang Anda bawa dalam kantong belanjaan, memunculkan kebahagiaan tersendiri bagi anak. Misalnya, saat ia mengenali sampo, susu, maupun sabun yang Anda beli untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pelajaran penting&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hobi baru ini memang terlihat sepele. Tetapi, sebenarnya, dapat menjadi pelajaran penting bagi si kecil. Anda dapat mengajaknya mengatur barang-barang belanjaan ke dalam lemari. Secara tidak langsug si kecil belajar pentingnya mengorganisasi barang. Namun, pastikan anak tidak mengangkat barang yang berat atau mudah pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda juga dapat mengenalkan si kecil berhitung serta mengelompokkan barang sesuai jenisnya secara sederhana. Berapa banyak jumlah yang Anda beli per item, misalnya. Kenalkan pula anak pada barang-barang yang Anda beli. Misalnya, daun bayam yang kalau sudah dimasak menjadi sayur kesukaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau ia antusias dan menikmati betul membuka kantong belanjaan untuk mengetahui isinya, pastikan anak hanya membuka kantong belanjaan Anda. Jangan biarkan ia melakukannya terhadap barang-barang orang lain, baik saat di rumah orang lain maupun saat orang lain berada di rumah Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski usianya baru tiga tahun, si kecil juga perlu dibiasakan tidak lancang membuka barang milik orang lain. Ia perlu mengenal arti “kepemilikan”.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grahita Purbasantika Nugraha (ayahbunda)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-3628648626902709488?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/3628648626902709488/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=3628648626902709488' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/3628648626902709488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/3628648626902709488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/04/si-3-tahun-membongkar-belanjaan.html' title='Si 3 Tahun Membongkar Belanjaan'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-4835060558969905813</id><published>2010-04-12T20:20:00.000-07:00</published><updated>2010-04-12T20:20:00.680-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perilaku Anak'/><title type='text'>Si 2 Tahun Coba-Coba Menyiapkan Makan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Si dua tahun ingin sekali membantu Anda di dapur. “Oh… tidak. Bisa celaka dia dan kerjaanku berantakan,” ujar Anda. Padahal, bisa kok, asal Anda sabar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganang (2,5 tahun) berkali-kali memaksa Mimi, sang ibu, agar diperbolehkan ikut mengerjakan apa yang ibunya lakukan. Jika dilarang, tantrumnya ‘kambuh’. “Bukannya tidak percaya kemampuannya! Tapi jika diberi kesempatan, semuanya bisa berantakan!” ujar Mimi pada Heru, ayah Ganang. Benarkah demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gemar meniru dan berfantasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak seusia Ganang umumnya gemar meniru. Ia senang sekali meniru apa yang dilakukan orang-orang di sekelilingnya. Jika ini terjadi, tak perlu khawatir si dua tahun berkembang menjadi anak yang tidak punya inisiatif. Meniru bagi anak usia ini merupakan ’kendaraannya’ dalam belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain meniru, anak-anak usia ini juga gemar berfantasi. Mereka senang sekali bermain pura-pura. Hari ini berpura-pura jadi polisi, besok dengan mudah berganti peran menjadi seorang suster atau guru. Karenanya, keinginannya yang besar untuk melakukan hal-hal yang dikerjakan orang dewasa di sekelilingnya merupakan perpanjangan dari fantasinya bahwa ia juga dapat berperilaku seperti orang-orang yang ditirunya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membiarkan si kecil ikut melakukan yang Anda kerjakan merupakan suatu ‘permainan’ baginya. Jika si dua tahun tertarik, ajaklah ia melakukan sesuatu di seputar rumah. Misalnya, menyiapkan makan. Kegiatan sederhana ini dapat memberi banyak manfaat bagi anak. Tentu, perlu disesuaikan dengan kemampuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perlu bimbingan Anda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengajak si dua tahun membantu menyiapkan makanan memang butuh kesabaran Anda. Bisa-bisa bukannya meringankan tugas Anda, kerap terjadi pekerjaan Anda malah berantakan karena ulahnya. Jangan khawatir! Dengan bimbingan Anda, si kecil lambat laun dapat mengerjakan porsi pekerjaannya dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak usia ini umumnya sudah memahami sebab-akibat. Dengan begitu Anda dapat menjelaskan jika mau membantu di dapur, ia harus melakukannya dengan ekstra hati-hati. Banyak peralatan di dapur yang dapat mencelakakannya jika ia tidak berhati-hati. Perkenalkan si kecil terbuat dari bahan apa benda-benda di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, gelas yang terbuat dari bahan kaca bisa pecah jika terjatuh. Gelas plastik lebih aman bagi anak. Si kecil juga dapat Anda perkenalkan pada fungsi masing-masing benda dan bahaya dibalik benda-benda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berbagai manfaat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, pikirkan kegiatan yang kira-kira dapat dilakukan dan bermanfaat bagi si dua tahun. Misalnya, memintanya mempersiapkan sarapan dengan mengoleskan mentega dan menaburkan muisjes di atasnya. Kegiatan ini dapat mengasah motorik halusnya. Atau, menggali kreativitas anak melalui menghias roti, kue atau pizza dengan bahan makanan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda juga dapat mengajarkan si dua tahun membuat kue sederhana yang tidak memerlukan kompor. Misalnya, membuat kue bola-bola coklat dari biskuit, susu kental dan coklat bubuk yang dibulatkan lantas digulirkan di piring berisi muisjes . Tahapan ‘memasak’ yang diperkenalkan sejak dini dapat membantu melatih logika berpikir anak sesuai tahapan membuat suatu karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuannya menata meja dengan piring maupun gelas yang tidak mudah pecah juga membuatnya belajar membuat suatu pengelompokan atau klasifikasi. Gelas disatukan dengan gelas, piring dengan piring. Atau, membuat pengelompokan yang terdiri dari piring, gelas, sendok dan garpu dalam satu kelompok dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah… tunggu apa lagi? Mulailah meminta si kecil membantu Anda menyiapkan makan bersama!&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esthi Nimita Lubis&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-4835060558969905813?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/4835060558969905813/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=4835060558969905813' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/4835060558969905813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/4835060558969905813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/04/si-2-tahun-coba-coba-menyiapkan-makan.html' title='Si 2 Tahun Coba-Coba Menyiapkan Makan'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-816619340708439144</id><published>2010-04-07T20:19:00.000-07:00</published><updated>2010-04-07T20:19:00.507-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pembelajaran anak'/><title type='text'>Si 5 Tahun Belajar Bahasa Inggris</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Sekarang ini si prasekolah sudah dituntut untuk belajar bahasa Inggris. Apakah si kecil perlu kursus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai studi menemukan, masa keemasan perkembangan bahasa adalah selama usia balita, yaitu sejak tahun pertama hingga usia enam tahun. Pembelajaran bahasa pada balita diketahui berlangsung efektif melalui kegiatan bermain dan mendengarkan secara intens. Artinya, tanpa perlu stimulasi berlebih, balita dapat belajar bahasa ibu secara alami dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena globalisasi, bahasa kedua terutama bahasa Inggris, ditawarkan melalui kursus-kursus sejak sangat dini. Asumsinya, di usia balita, anak-anak dapat menyerap dan belajar bahasa kedua sama baiknya dengan bahasa ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Saat tepat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini marak prasekolah menawarkan program bilingual. Program yang ditawarkan terbilang beragam, dari program untuk bayi usia enam bulan, sampai program untuk anak TK. Menurut para ahli neurologi, dugaan masa emas perkembangan bahasa anak itu memang ada, yaitu sejak tahun pertama usia anak hingga awal usia sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namun hingga usia lima tahun anak belajar bahasa secara berbeda. Hanya hingga usia empat atau lima tahun, anak belajar bahasa (baik bahasa ibu maupun bahasa kedua) tanpa aksen," jelas Prof. Wolf Singer , Direktur Penelitian Otak pada Max-Planck Institut , Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang tua merasa cemas si lima tahunnya terlambat memulai belajar bahasa asing. Padahal, menurut para pengajar bahasa Inggris untuk anak-anak di Jerman, tidaklah demikian. Berbeda dengan anak usia 3 - 4 tahun, si lima tahun lebih cermat dan teliti mengamati aturan tata bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya si lima tahun lebih siap mengikuti pendidikan di luar rumah dan mengikuti aturan-aturan di tempat kursus. Seperti halnya Indonesia , Jerman adalah negara yang bukan berbahasa utama Inggris, sehingga ada kecemasan pada beberapa kalangan bahwa belajar bahasa Inggris terlalu dini membawa dampak buruk pada perkembangan kognitif anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Asalkan orang tua jeli memilih program yang sesuai untuk anak, tidak perlu terlalu khawatir," jelas Karin Jampert , ilmuwan bidang pendidikan pada Deutschen Jugendinstitut (institut penelitian anak dan remaja Jerman), Munchen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Metode tepat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Anda hendak mengikutsertakan si lima tahun kursus bahasa Inggris, Anda perlu memperhatikan beberapa hal, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Pastikan si lima tahun senang belajar bahasa Inggris dan proses pengajaran berlangsung menyenangkan, penuh permainan, mengundang rasa ingin tahu dan sesuai tahapan perkembangan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Menurut para ahli, jika Anda ingin anak tak hanya mengenal bahasa Inggris secara dini, melainkan juga mahir menggunakannya, ia perlu sesering mungkin menggunakan atau mendengar bahasa tersebut. Anda dapat menyediakan buku, kaset lagu anak dan VCD/DVD berbahasa Inggris serta aktif menggunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dalam membiasakan anak berbahasa Inggris, tidak disarankan menggunakannya bersamaan dengan bahasa ibu. Ini hanya membingungkan anak. Upayakan menyediakan kesempatan khusus untuk aktif menggunakan bahasa asing itu. Misalnya, sambil membacakan buku cerita atau bernyanyi bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jika si lima tahun tidak menikmati kursus bahasa Inggris itu, tak perlu memaksa. "Tak ada gunanya memaksa si lima tahun belajar sesuatu yang tak menimbulkan rasa senangnya. Jika akhirnya si kecil baru belajar bahasa Inggris ketika masuk SD, tidak ada ruginya. Ia bisa sama mahirnya dengan teman-temannya yang kursus sejak masih kecil. Bedanya hanya terletak pada cara si usia sekolah belajar sebuah bahasa Inggris dibanding dengan si balita," jelas Jampert.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi Maerzyda A. D. Th.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-816619340708439144?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/816619340708439144/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=816619340708439144' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/816619340708439144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/816619340708439144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/04/si-5-tahun-belajar-bahasa-inggris.html' title='Si 5 Tahun Belajar Bahasa Inggris'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-4764238315550865340</id><published>2010-04-02T20:17:00.000-07:00</published><updated>2010-04-02T20:17:00.527-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebiasaan buruk'/><title type='text'>Mati Deh!...Bila si Kecil Kecanduan Computer Games</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waspada jika anak terlalu asyik bermain electronic games, jangan sampai ia kecanduan. Ini bisa berdampak negatif pada tumbuh-kembangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di rumah, Albi (4,5 tahun) segera menuju ruang keluarga untuk bermain playstation . Tak berapa lama ia tenggelam dalam keasyikannya bermain. Seruan ibunya untuk minum susu, makan siang dan beristirahat, seperti tak didengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alvin dan Wina, orang tua Albi, tak bisa berbuat banyak terhadap putra semata wayangnya. Kesibukan di luar rumah membuat pasangan muda ini tak bisa total mengawasi Albi di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, kalau mau jujur, Alvin dan Wina paling tidak untuk sesaat, sangat tertolong dengan adanya perangkat permainan elektronik ini. Kalau sudah asyik bermain, Albi tidak rewel dan tak bersikap manja pada kedua orang tuanya. Tapi, tentu ada beberapa dampak negatif yang harus diwaspadai dengan fenomena ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Membuat ketagihan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perangkat electronic games seperti computer games, handheld atau portable game dan playstation , diciptakan untuk menjadi teman bermain anak (dan juga orang dewasa) yang menyenangkan. Efek grafis, animasi dan suara mereka semakin hari semakin luar biasa, dan makin mendekati realitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya game pun sudah semakin interaktif, sehingga para pemain bisa saling berlaga di Internet. Lebih lagi, permainan ini, umumnya selalu memompa rasa penasaran dan kompetitif yang semuanya menggenjot adrenalin sang pemain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Games yang cenderung popular juga sarat adegan kekerasan, seperti tembak-menembak, pemboman, perkelahian, dan lainnya. Efeknya jelas, orang bisa amat ketagihan, kurang bergerak fisik dan bahkan mungkin jadi agresif, dan kurang sensitif terhadap kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dunia ini sudah diwabahi fenomena kecanduan games . Termasuk Indonesia. Tanya saja pada anak-anak apa itu “Ragnarok”. Dengan merebaknya piranti lunak bajakan dan warnet di berbagai lokasi, mudah bagi anak-anak – atau pun ayahnya – jadi ketagihan. Perlu dicatat, fenomena ini biasanya lebih menimpa anak laki-laki atau pun pria dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ria Myriam (32 tahun) mengalami kesulitan memisahkan putra bungsunya, Daffa (5 tahun), dengan electronic games . Ria awalnya menolak membelikan playstation buat si kecil, karena tidak suka dengan sifat gamenya yang sarat kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, Daffa dapat segera menemukan alternatif. Ia terkespos dengan games berbasis komputer dan internet dari kakeknya sendiri. “Saat melihat kakeknya asyik bermain games di komputer. Ia langsung bertanya-tanya tentang permainan ini pada kakeknya. Di rumah, Daffa bisa menyalakan komputer sendiri, lantas main games dari permainan kartu hingga tembak-tembakan,” cerita Ria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau sudah asyik main games di komputer, Daffa susah disuruh makan atau beristirahat. Sampai-sampai, saat kami sekeluarga bepergian, pasti Daffa kepingin cepet-cepet pulang karena ingin segera main games, ” ungkap Ria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain dengan Diandra (4 tahun), anak kedua Indra Ilyas (36 tahun) mengenal permainan elektronik ini dari sang kakak, yang juga gemar memainkan perangkat ini. “Dari usia sekitar tiga tahunan, Adel (panggilan kesayangan Diandra- Red .) biasa bermain portable game boy . Karena ringan dan mudah dibawa ke mana-mana, Adel jadi leluasa bermain di mana saja,” ujar Indra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Negosiasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa dampak negatif – yang sebernarnya bisa ditebak -- yang kemungkinan besar akan terjadi bila balita Anda ketagihan games . Pertama, ia akan pasif secara fisik dan kedua, social skill -nya pun menjadi kurang terbina. Biar bagaimana pun, anak-anak harus aktif bergerak dan berinteraksi dengan anak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut psikolog pengembangan Dr . Hera Mikarsa dari Universitas Indonesia, kuncinya ada pada orang tua. Anda lah yang pertama kali membelikan mereka perangkat bermain ini, apakah itu konsol playstation atau pun komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, seharusnya Anda pulalah yang dari awal menetapkan aturan kapan si kecil bisa bermain, kapan harus berhenti, atau, kalau perlu, juga pilihan jenis game nya. Pendeknya, Andalah yang menentukan proses negosiasi dengan si buyung yang ingin terus bermain di kamar dengan peralatan tersayangnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini misalnya dilakukan Indra. “Biasanya saya memilihkan jenis permainan yang bukan fighting games namun adventure games atau racing. Dengan demikian, sambil bermain anak-anak mengembangkan keterampilan memecahkan masalah dan melatih daya ingat. Dalam memilih jenis permainan ini, saya biasanya mencari tahu melalui majalah games lokal, mana permainan yang sesuai untuk anak-anak saya,” ujar Indra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ria juga berusaha memantau apa yang dilakukan Daffa di komputer kesayangannya. “Saya memang tak bisa melarang Daffa berhenti bermain komputer. Tetapi saya berusaha memantau Daffa dan kerap menyarankan dia bermain menggunakan program paint di komputer. Di sini ia bisa menggambar dan tak bermain tembak-tembakan atau bermain kartu melulu,” lanjut Ria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sikap seperti itu dianjurkan Hera, psikolog dari UI itu. “Bila orang tua terlalu membebaskan anak bermain electronic games , anak bisa enggan belajar, enggan bersosialisasi, memiliki ambang yang rendah dalam pengendalian diri, serta dikhawatirkan melakukan proses imitasi tokoh games tersebut,” ungkap Hera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, pengaruh sehat terjadi bila orang tua tetap memantau dan konsisten dalam hal waktu bermain. “Anak jadi lebih mahir berkonsentrasi, mengasah daya ingat, dapat melakukan satu hal dengan penuh perhatian dan juga tahu kemajuan teknologi,” ujar Hera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cherry Riadi Lukman(ayahbunda)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-4764238315550865340?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/4764238315550865340/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=4764238315550865340' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/4764238315550865340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/4764238315550865340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/04/mati-dehbila-si-kecil-kecanduan.html' title='Mati Deh!...Bila si Kecil Kecanduan Computer Games'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-1011774147838679690</id><published>2010-03-30T20:11:00.000-07:00</published><updated>2010-03-30T20:11:00.373-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perilaku Anak'/><title type='text'>Si 2 Tahun Mengulang-ulang Perilaku</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Hati-hati bereaksi terhadap perilaku anak yang dianggap lucu. Ia akan mengulangnya berkali-kali, karena mengira Anda menyetujui perbuatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisy merasa serba salah. Suatu ketika ia terbahak melihat Fido melemparkan mainannya dan mengenai si Ciko, anjing kesayangan keluarga. Ekspresi Ciko membuat Sisy dan Mbak Asih, pengasuh Fido, tertawa terbahak-bahak karena geli. Merasa mendapat sambutan hangat, Fido pun meluapkan kegembiraannya dengan mengulangi perbuatannya berkali-kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cegah berulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan Fido juga dilakukan anak-anak seusianya. Jika mereka tidak sengaja menumpahkan susu dari gelas dan melihat tindakannya membuat orang di sekelilingnya tertawa, si kecil cenderung mengulangi perbuatan itu berkali-kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, sebenarnya, apa yang mereka lakukan selayaknya tak perlu terjadi dan Anda pun cenderung menghentikannya segera. Para ahli mengajukan beberapa cara yang bisa Anda coba:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jika perlu, hindarkan si kecil bermain permainan yang sama. Dalam kasus Fido, Anda dapat mencegah Fido dekat-dekat dengan si Ciko untuk beberapa waktu. Paling tidak, hingga Fido lupa perbuatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jangan menyalahkan anak jika ini terjadi. Dalam kasus Fido, apa yang dilakukannya itu awalnya tak disengaja. Jelaskan bahwa Ciko pasti merasa sakit jika terus menerus dilempari mainan. Ajak Fido mencoba rasakan apa yang Ciko alami jika hal serupa terjadi pada Fido.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Alihkan perhatian anak dengan permainan lain yang lebih menantang, sehingga ia lupa dengan kesenangannya mengulang perilaku yang tak nyaman bagi pihak lain atau lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jika tanpa disadari Anda marah pada anak hingga berteriak, cobalah menjelaskan mengapa Anda marah. Misalnya dengan berkata, “Tentu saja Mama marah. Kamu menumpahkan susu tersebut berkali-kali di atas taplak yang baru mama beli.” Sambil mengatakan ini Anda perlu menyertai permintaan maaf karena telah membentak si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jika anak melakukan sesuatu yang membuat kotor, ia harus bertanggung jawab terhadap kekotoran yang diciptakannya. Beri si kecil lap untuk membersihkan kotoran tersebut.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esthi Nimita Lubis&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-1011774147838679690?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/1011774147838679690/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=1011774147838679690' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/1011774147838679690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/1011774147838679690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/03/si-2-tahun-mengulang-ulang-perilaku.html' title='Si 2 Tahun Mengulang-ulang Perilaku'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-472864437507367174</id><published>2010-03-24T20:10:00.000-07:00</published><updated>2010-03-24T20:10:00.336-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perilaku Anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pembelajaran anak'/><title type='text'>Si 3 Tahun Belajar Mengatur dan Menyimpan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika anak terbiasa menata dan menyimpan benda-benda dengan baik, kecil kemungkinan ia lupa di mana meletakkannya. Kebiasaan ini sangat bermanfaat agar anak mandiri mengatur isi tasnya saat ia bersekolah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak prasekolah kerapkali berperilaku seperti ‘profesor linglung’. Pensil berwarna tertinggal di rumah teman. Topi tercecer, bahkan hilang. Kekesalan orang tua memuncak karena benda-benda yang hilang atau tertinggal, bila dikalkulasi, tidak murah harganya. Untuk menghindarinya, ajak si kecil menyusun semua peralatan dan mainannya dengan rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seperti di kelompok bermain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Donna Goldberg , seorang penata profesional menyarankan agar kamar tidur atau tempat beraktivitas anak dibagi dalam zona atau wilayah seperti di kelompok bermainnya. Biarkan, misalnya, mainan mobil dan buku cerita bergambar berada di sudut berbeda. Dengan begitu si tiga tahun bisa menemukan benda yang ia butuhkan dan menaruhnya kembali ke tempat semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarkan mainan dari kotak aslinya lantas masukkan ke wadah transparan yang disusun berdasarkan jenis. Beri label warna-warni dan tentukan warna sesuai wadah penyimpanannya. Akan lebih mudah bagi si tiga tahun untuk “membaca” gambar yang berbeda-beda ketimbang tulisan. Jadi, beri tanda setiap wadah dengan gambar yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan begitu si tiga tahun belajar mengatur dan menyimpan benda-benda yang digunakannya di tempat yang sesuai sambil melatih ingatannya. Apabila, di suatu waktu, ia hendak mengambil benda yang dibutuhkan; jika anak terbiasa hidup tertata sedemikian rupa, kecil kemungkinan ia lupa di mana ia menyimpannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tak tertinggal atau hilang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengajarkan anak menata dan menyimpan benda miliknya dengan rapi amat bermanfaat. Ia akan selalu ingat di mana menaruh dan di mana meninggalkan mainan favorit atau benda yang penting dibawanya ke kelompok bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan ini juga sangat bermanfaat untuk membiasakan anak mandiri mengatur isi tasnya sendiri saat di TK dan SD nanti. Anak-anak yang suka kehilangan benda karena tercecer atau lupa meletakkan, biasanya menemui banyak masalah di masa sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Margarethe Schindler , psikolog dari Tuebingen, Jerman, menyebutkan bahwa masih terlalu ‘pagi’ bagi orang tua untuk mengingatkan dan menegur si tiga tahun untuk mengatur sendiri segala keperluannya guna dibawa ke kelompok bermain. Hal ini baru bisa dilakukan ketika anak berusia sekitar lima tahun. Namun, si tiga tahun bisa Anda ajak untuk selalu mengingat benda-benda yang harusnya dibawa. Misalnya, dengan mengatakan, “Tempat makan sudah dibawa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya juga demikian. Misalnya saja Anda menjemput si tiga tahun dari taman bermain, secara rutin tanyakan, “Mainanmu sudah dibawa semua?” Atau, “Kalau kamu lupa, kembalilah ke kelas dan periksa. Ibu akan menunggumu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sejak dini si kecil terbiasa selalu memeriksa kembali benda-benda sebelum meninggalkan kelas atau berangkat dari rumah, maka besar kemungkinan ia akan menjadi sosok yang teliti dan cermat dengan benda yang dibawa atau disimpannya.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi Maerzyda A. D. Th &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-472864437507367174?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/472864437507367174/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=472864437507367174' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/472864437507367174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/472864437507367174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/03/si-3-tahun-belajar-mengatur-dan.html' title='Si 3 Tahun Belajar Mengatur dan Menyimpan'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-2557977707997297717</id><published>2010-03-19T20:09:00.000-07:00</published><updated>2010-03-19T20:09:00.870-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aktifitas Anak'/><title type='text'>10 Alasan Berkemah Bersama Anak</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengisi liburan dengan berkemah di alam terbuka merupakan pengalaman yang perlu diperkenalkan pada anak. Apa saja manfaatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan…, melewati liburan bersama anak, dengan mengajaknya berkemah di alam, tentu mengasyikkan. Mengingat anak masih berusia di bawah lima tahun, berkemah pun paling-paling dilakukan di pinggir pantai suatu arena rekreasi atau di halaman rumah, jika kondisi memadai. Waktu berkemah juga terkadang hanya sepanjang siang hingga sore hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian, lingkungan di sekeliling tenda yang Anda dirikan, pastilah merupakan miniatur alam yang menyediakan beragam makhluk hidup. Berikut ini 10 alasan yang menjelaskan mengapa Anda perlu mengajak si kecil berkemah bersama di alam terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Memberi kesempatan pada si kecil untuk sering bersetuhan dengan alam dapat merangsang kecerdasan naturalisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Tidak seperti orang dewasa, anak-anak tidak mengambil jarak dengan lingkungan sekitarnya. Mereka tidak menganggap lingkungan sekitar hanya latar belakang dari setiap peristiwa yang dialaminya. Anak dan alam menyatu, sehingga kembali ke alam sangat menyenangkan baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Si kecil ‘merasakan’ lingkungan alam melalui sensorinya. Persepsi ini membuat hal-hal fisik di alam menjadi sangat penting bagi perkembangan kecerdasannya yang lain. Misalnya, saat kupu-kupu ‘mengajak’, anak berlari mengejarnya, keterampilan motorik si kecil pun terangsang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Si kecil lebih rileks, begitu pula Anda, karena keindahan alam cenderung berdampak demikian. Kelekatan Anda dan si kecil pun saat berada di tengah-tengah alam terjalin lebih tulus dan murni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Berbagai flora dan fauna di sekitar tempat Anda dan si kecil berkemah menawarkan sebuah dunia lain yang menarik untuk dieksplorasi. Ketertarikan anak sejak dini pada flora dan fauna yang terus menerus dipupuk, mengasah kepekaan si kecil terhadap lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Berbagai kegiatan ketika berkemah ‘memaksa’ anak mengerahkan seluruh inderanya untuk menyerap pengalaman-pengalaman baru yang bermanfaat. Anak tak hanya melihat serunya kawanan serangga membangun sarang, misalnya, namun juga mendengarkan cicit burung, menyentuh berbagai tekstur kayu, dan mencium wangi bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Observasi terhadap alam ketika berkemah membawa anak pada satu kesadaran baru bahwa beragam makhluk di alam saling berkaitan dan saling membutuhkan. Perhatikan saja bagaimana kupu-kupu mengisap madu bunga sambil membawa serbuk sarinya, sehingga ia bisa menyebarkannya di tempat lain. Tentu saja pemahaman ini perlu Anda perkenalkan saat berkemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Hukum sebab-akibat karena saling keterkaitan di alam juga membuat si kecil lebih menghargai lingkungannya. Hal ini dilakukannya karena memahami akibat dari ketidakpedulian orang terhadap alam. Misalnya, dengan melihat banyaknya sampah yang merusak pemandangan di tempat berkemah, atau memahami keterkaitan antara bencana alam dengan sikap manusia yang merusak alam dengan perilaku yang tidak bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Alam menyediakan berbagai kejutan. Apa yang ditemui si kecil di pagi hari, di siang hari, sore maupun malam hari berbeda satu dengan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Anda dapat mengajarkan bahwa kesederhanaan dan kesahajaan juga indah. Kenalkan anak bahwa mengobrol bersama di atas tikar sambil memandang alam tak kalah indah dari nikmatnya dengan duduk di dalam gedung indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Esthi Nimita Lubis(ayahbunda)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-2557977707997297717?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/2557977707997297717/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=2557977707997297717' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/2557977707997297717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/2557977707997297717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/03/10-alasan-berkemah-bersama-anak.html' title='10 Alasan Berkemah Bersama Anak'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-5612995979591299852</id><published>2010-03-12T20:08:00.000-08:00</published><updated>2010-03-12T20:08:00.634-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang tua harus perhatikan ini...'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips - Kiat'/><title type='text'>7 Kiat agar Anak Tekun</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Tak cuma cerdas, anak juga perlu tekun agar ia survive. Bagaimana cara memupuk ketekunan?&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah kisah. Seorang pria sangat jenius ketika di bangku sekolah, namun ia sering tak punya uang. Berkat jasa seorang teman, pria itu dipercaya mengerjakan sebuah proyek. Karena jenius, pasti proyek itu beres. Betulkah? Si pria menghilang begitu saja! Tentu saja proyek terbengkalai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepandaian memang seringkali tidak berbanding lurus dengan prestasi seseorang. Motivasi untuk berprestasilah yang lebih menentukan. Maka banyak terjadi seorang anak yang tidak terlalu pandai justru dapat menunjukkan prestasi akademis lebih baik dibanding anak yang pandai. Idealnya, memang, anak punya keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para orang tua di Cina dan Jepang yakin kesuksesan anak di sekolah sangat tergantung pada ketekunan dibanding kemampuannya. Anda sependapat? Bila ya, Anda perlu mendorong anak-anak Anda lebih termotivasi dan tekun dalam melakukan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda memang bisa membantu anak menjadi sosok yang tekun, sehingga bisa menjalankan tugas sebaik-baiknya. Berikut ini beberapa cara yang bisa Anda lakukan agar buah hati Anda memiliki ketekunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menciptakan lingkungan kondusif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi sangat senang menguasai keterampilan baru. Lihat saja, sekali ia berhasil membalikkan badan, ia ulang-ulang kegiatan itu. Reaksi ini sangat alamiah. Motivasi untuk berprestasi sesungguhnya berakar sejak awal kehidupan anak. Anda bisa membantu si kecil dengan menyediakan mainan dan lingkungan yang mendorongnya mengembangkan diri. Kenali keterampilan anak dan sediakan alat bermain sesuai perkembangan si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengatakan hal-hal positif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa studi menunjukkan, anak adalah sosok optimis dalam belajar. Bahkan tidak sedikit di antara anak-anak prasekolah yakin betul jika sesuatu dikerjakan dengan sungguh-sungguh pasti berhasil. Memang betul, anak terlahir sebagai sosok yang optimis! Sayang sekali, lingkungan seringkali membuat ia frustrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, ketika oma tiba-tiba mengatakan, “Adi saja bisa menyusun balok itu, masak kamu tidak.” Meski maksud omongan oma ingin menumbuhkan motivasi eksternal, tapi bisa saja si kecil frustrasi. Sang cucu kecewa karena dianggap belum memiliki keterampilan motorik halus yang cukup untuk menyusun balok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya, anak belum bisa membedakan penyebab mengapa ia berhasil atau gagal melakukan satu tugas. Namun, ia tahu anak yang berusaha keras adalah anak yang cerdas dan ia akan berhasil. Anda bisa berperan mendukungnya dengan sabar dan sungguh-sungguh. Jika sekarang ia belum bisa menggunting kertas dengan baik, misalnya, katakan tak perlu khawatir agar anak yakin pasti ia segera bisa melakukannya, karena ia akan tumbuh lebih kuat dan lebih pandai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memberi pujian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir usia dua tahun, anak mulai mengenal peran orang lain dalam membentuk motivasinya. Oleh sebab itu, evaluasi Anda atas keberhasilan dan kegagalannya dalam melakukan sesuatu sangat mempengaruhi caranya menguasai keterampilan baru. Tentu Anda berharap si kecil selalu bisa menguasai keterampilan baru. Namun, Anda perlu realistis. Apakah harapan Anda sesuai usia dan tahap perkembangan anak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, yang sangat penting, adalah memberi pujian. Beri anak pujian jika ia berhasil melakukan sesuatu dengan baik. Sebaliknya, jika ia tidak melakukan dengan baik, Anda tak perlu mengecamnya berlebihan. Hargai upayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengajarkan sesuatu secara bertahap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas yang terlalu rumit membuat si kecil cepat frustrasi. Ajaklah anak membagi tugasnya dalam urutan tahap. Misalnya, ketika belajar untuk bertanggung jawab pada mainannya, ajak anak untuk bersama-sama membereskannya setelah ia selesai bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, pada hari berbeda, ajarkan bagaimana ia merapikan mainan. Misalnya, berdasarkan jenis, fungsi, atau warna ke dalam kotak tertentu. Anda dapat mengajarkannya sambil bermain, sehingga lebih menyenangkan saat anak melakukannya. Bisa juga Anda membelikan kereta dorong mainan sebagai tempat mainannya, sehingga ia senang merapikan mainannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ia dapat menjalankan tugasnya dengan baik, jangan lupa memuji. Selain pujian, hadiah kecil bisa Anda berikan. Hadiah tak harus barang. Anda dapat mengajaknya berjalan-jalan ke kebun binatang, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Melihat halangan sebagai tantangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya si kecil bukan sosok yang mudah frustrasi. Jika menghadapi satu halangan, dan ia tidak bisa melewatinya dengan baik, bisa jadi ia marah atau frustrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu risau. Umumnya kemarahan atau rasa frustrasi anak mudah reda. Namun hati-hati menghadapi si kecil yang berusia 4 – 5 tahun. Ia sudah bertemu banyak orang dengan beragam reaksi. Si empat tahun bisa mudah menyerah jika menghadapi tantangan. Misalnya, jika balok yang disusunnya berbentuk rumah roboh, ia enggan menyusunnya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah penelitian, anak-anak yang mengalami frustrasi ini diberi boneka. Pada si boneka mereka mengatakan, “Dia dihukum soalnya enggak bisa nyusun balok sih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, anak-anak sangat dipengaruhi penilaian orang tentang dirinya. Di sini Anda bisa berperan mengajak si kecil melihat setiap tantangan bukan sebagai halangan. Katakan, ”Apa yang ingin kamu buat? Mau bikin bangunan kantor? Atau mobil? Atau robot. Kamu pasti bisa!” Beri si kecil alternatif cara berpikir yang bisa dilakukannya untuk memecahkan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menumbuhkan motivasi internal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring masuknya si kecil ke dunia yang lebih luas, pandangan orang lain sedikit demi sedikit mempengaruhi dirinya. Jangan biarkan anak bergantung pada pendapat orang lain mengenai dirinya. Dunia si kecil adalah dunia yang gembira dan penuh acara bermain. Doronglah minat anak untuk mempelajari sesuatu dengan kegembiraannya bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, si kecil enggan mendengarkan cerita tentang binatang yang Anda bacakan, tapi ia malah sibuk dengan mainannya. Pilihlah buku cerita bergambar binatang, dan ajaklah si kecil menggambar binatang. Selagi ia menggambar, Anda bisa menceritakan bagaimana kehidupan binatang yang digambarnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan metode yang kreatif ini, motivasi internal anak akan tumbuh. Anda dan si kecil dapat menikmati waktu bersama yang menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memberi contoh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada cara yang lebih efektif untuk mengajarkan ketekunan pada si buah hati selain memberi contoh. Lihat saja, jika ia melihat Anda asyik membaca buku, si kecil mengambil sebuah buku dan membalik-balik halamannya meski ia belum mengenal satu huruf pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciptakanlah iklim keluarga yang menyenangkan dan mengembangkan motivasi internal dan harga diri anak yang kuat. Jika Anda dan pasangan saling menghargai dan saling mendorong untuk mengembangkan minat masing-masing, si kecil pun terdorong melakukan segala hal yang menjadi minatnya dengan tekun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Eleonora Bergita(ayahbunda)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-5612995979591299852?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/5612995979591299852/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=5612995979591299852' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/5612995979591299852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/5612995979591299852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/03/7-kiat-agar-anak-tekun.html' title='7 Kiat agar Anak Tekun'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-4374606790676777705</id><published>2010-03-07T20:06:00.000-08:00</published><updated>2010-03-07T20:06:00.432-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkembangan Anak'/><title type='text'>Si 1 tahun Apa Ini, Apa Itu?</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Semangat eksplorasinya kian hebat dan bersiaplah menjawab kecerewetannya menanyakan “ini-itu”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hari ke hari, si satu tahun semakin pandai saja. Kepintaran baru yang ia tunjukkan terkadang mengundang rasa heran Anda. Memang di usianya kini, kemampuan kognitif, sosial, motorik, emosi dan juga bahasanya semakin berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak mulai ingin tahu berbagai hal mengenai apa yang dilihatnya. Kemampuan ini, selain mengasah kognitifnya, juga mendukung proses perkembangannya. Dengan mengetahui berbagai hal baru di lingkungannya, si kecil berusaha semakin memahami diri dan keberadaannya di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muncul rasa ingin tahu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan kognitifnya memacu si kecil untuk mencari tahu tentang segala hal. Lihat saja, dalam berbagai kesempatan, ia seringkali mengajukan pertanyaan, ”Itu apa sih Ma...?” Pertanyaan semacam ini menandakan aktivitas kognitifnya berproses. Si kecil perlu jawaban dan penjelasan yang mudah ia mengerti untuk memenuhi rasa ingin tahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi situasi ini, bukan tidak mungkin, giliran Anda yang kewalahan atau, bisa jadi, bosan menjawab pertanyaannya, baik tentang hal yang baru atau pun yang itu-itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bijak menjawab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tentu tak ingin memberikan jawaban asal-asalan meski, mungkin, Anda kerepotan juga menanggapinya. Untuk menjawab secara proporsional, pahami tujuan pertanyaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi si kecil masih sangat terbatas. Bila ia melontarkan pertanyaan, “Itu apa?” sambil menunjuk seekor cicak yang merayap di dinding, segera beri jawaban, ”Itu cicak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu kesal mendengar si satu tahun mengulangi pertanyaan yang sama. Terkadang ia, sebenarnya, tak butuh jawaban. Ia hanya ingin mengajukan pertanyaan pada dirinya sendiri. Atau, bisa jadi, ia mengulangi pertanyaannya karena ingin Anda terus memberinya perhatian di saat ia tengah tertarik mengamati sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu menjawab pertanyaannya akan mendukung perkembangan kognitif anak. Sebaliknya, beri juga pertanyaan-pertanyaan yang mudah si kecil pahami. Misalnya, Anda bisa kembali bertanya, ”Ade... itu yang di dinding, apa namanya?” sambil jari telunjuk Anda mengarah ke cicak yang merayap di dinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebisa mungkin kurangi pertanyaan yang hanya memerlukan jawaban “ya” dan “tidak” dari si kecil. Pertanyaan semacam itu kurang mendorong kemampuan intelektual anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, pertanyaan terbuka memungkinkan si kecil melakukan refleksi di dalam pikirannya untuk menjawab pertanyaan. Cara ini dapat mendorong aktivitas kognitif dan linguistik si kecil yang sangat bermanfaat bagi perkembangan kecerdasannya.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cherry Riadi Lukman (ayahbunda)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-4374606790676777705?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/4374606790676777705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=4374606790676777705' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/4374606790676777705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/4374606790676777705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/03/si-1-tahun-apa-ini-apa-itu.html' title='Si 1 tahun Apa Ini, Apa Itu?'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-4528392124292249110</id><published>2010-03-02T20:05:00.000-08:00</published><updated>2010-03-02T20:05:00.072-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkembangan Anak'/><title type='text'>Si 3 Tahun “Nama dan Umurku…”</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya pengalaman dan meningkatnya kemampuan mengingat membuat si tiga tahun mampu menyebut namanya secara lengkap, juga usianya kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namanya siapa?” tanya teman Anda pada si tiga tahun. Dengan mantap ia menjawab, ”Sabrina Izazi Azhari.” “Umurmu berapa?” tanya teman Anda lagi. “Tiga tahun,” jawab si kecil. Wah…, Anda pasti bangga sekali mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pesatnya perkembangan kognitif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia sekitar tiga tahun ini, perkembangan kognitif anak sedang berkembang pesat. Saat Anda memberitahu namanya, indera pendengar anak merekamnya untuk kemudian menyimpan data tersebut dalam ingatan jangka panjangnya. Dan ketika ditanya seseorang, dengan cepat ia akan membuka file dan menjawab pertanyaan dengan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan menyebutkan nama secara lengkap berikut usianya ini sangat bergantung pada stimulus yang Anda berikan. Jika ia tidak pernah mendengar nama lengkapnya, mana mungkin ia mampu menyebut namanya, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Daya ingat dan perhatian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar si tiga tahun dapat menyebut nama lengkap serta umurnya dengan percaya diri maka ia perlu diberitahu dan diajak mengingatnya. Tidak sulit bagi Anda mengajarkan hal ini. Karena, saat ini kemampuan anak mengingat sedang dalam puncaknya. Berikut hal-hal yang perlu Anda lakukan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Latih anak untuk memusatkan perhatian. Karena, kemampuan mengingat seseorang ditentukan oleh kemampuan saat memusatkan perhatian, yang meningkat di usia 1 – 3 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Bila nama lengkap anak cukup panjang, misalnya terdiri dari empat kata, mulailah dengan menyingkatnya. Misalnya, nama lengkapnya Tamara Fajar Kartika Sari, bisa Anda sebutkan dahulu dua nama terdepannya: Tamara Fajar. Lakukan pengulangan sampai ia hafal. Beberapa waktu kemudian barulah tambahkan dua nama belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Untuk usia, anak cenderung menyebutkan angka yang ia ingat. Dua, misalnya. Jadi, kalau ditanya usianya, si kecil cenderung menyebutkan angka tersebut. Anda tak perlu buru-buru mengoreksinya. Latih terus anak untuk menyebutkan usianya yang tepat.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grahita Purbasantika Nugraha (ayahbunda)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-4528392124292249110?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/4528392124292249110/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=4528392124292249110' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/4528392124292249110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/4528392124292249110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/03/si-3-tahun-nama-dan-umurku.html' title='Si 3 Tahun “Nama dan Umurku…”'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-3831117718021534053</id><published>2010-02-28T20:04:00.000-08:00</published><updated>2010-02-28T20:04:00.214-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pembelajaran anak'/><title type='text'>Si 5 tahun Belajar dari Nyala Api</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mengajak anak bermain api? Berbahaya kan …. Tak perlu khawatir kalau Anda ikuti aturannya. Si kecil pun mendapat berbagai manfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Api merupakan unsur tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Dari api kompor sampai api lilin ulang tahun, kita butuh sumber cahaya dan panas yang satu ini. Ya, api memang teman sejati manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana jika kita ajak si kecil main api? Jauh dari bayangan akan membakar rumah, si kecil bisa belajar berbagai hal dari nyala api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ada aturan main&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal tahu caranya, bermain api bisa mengasyikkan dan mengajarkan berbagai hal. Tak percaya? Yuk… kita coba!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksperimen dengan api sering dilakukan anak-anak di sebuah Tempat Penitipan Anak (TPA) di Bayern, Jerman. Dari pengalaman mereka, kita bisa belajar. Tanpa Anda duga, si kecil malah bisa sangat berhati-hati ketika memegang korek api yang tengah menyala. Bahkan, tanpa pengawasan ketat pun, anak bisa bertanggung jawab terhadap nyala api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, anak yang tak pernah bermain api, justru panik ketika melihat nyala api. Akibatnya, tentu, berbahaya karena ia tak tahu batasan seperti, tindakan apa yang “harus” dan yang “tidak boleh” dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara di TPA itu bisa saja Anda cobakan bersama si kecil di rumah. Kuncinya? Anda dan si kecil perlu berdisiplin. Misalnya, letakkan sebuah tempat semacam papan besi yang berukuran sedang. Lalu, kemukakan aturan main: si kecil dan Anda hanya boleh bermain api di tempat tersebut. Api tak boleh keluar dari papan itu untuk mengurangi risiko bahaya terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah dengan hal-hal sehari-hari, seperti menyalakan api dengan korek api atau pemantik gas. Kemudian, anak juga perlu mengenal bagaimana menyalakan lilin. Perkenalkan juga beragam bahan yang mudah terbakar, seperti kertas atau plastik. Setelahnya tunjukkan perbedaannya dengan bahan yang sulit terbakar, seperti batu atau besi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Belajar konsentrasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mungkin mengira si kecil akan bermain seenaknya dan tidak berhati-hati ketika berurusan dengan api. Coba lihat, apa yang dilakukan anak malah bisa sebaliknya. Anak-anak bisa sangat berhati-hati dan penuh konsentrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman di TPA di Bayern membuktikan, bahkan anak-anak yang hiperaktif pun bisa tenang. Mereka bahkan tidak bertengkar ketika bersama-sama bermain api. Dengan bermain api, si kecil punya pengalaman bagaimana api dapat menyebar dengan cepat dan bahan-bahan apa saja yang dapat dengan mudah dilalap si jago merah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar acara bermain api aman, Anda perlu mencermati beberapa hal:&lt;br /&gt;* Tempatkan papan besi di bidang yang kokoh.&lt;br /&gt;* Siapkan kain dan air agar bila terjadi kebakaran, Anda dengan cepat dapat memadamkannya.&lt;br /&gt;* Ikat rambut si kecil yang panjang dengan bahan yang tidak mudah terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang Anda dan si kecil siap bereksperimen dengan api. Selamat main api!&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eleonora Bergita (ayahbunda)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-3831117718021534053?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/3831117718021534053/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=3831117718021534053' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/3831117718021534053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/3831117718021534053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/02/si-5-tahun-belajar-dari-nyala-api.html' title='Si 5 tahun Belajar dari Nyala Api'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-6649941129527070537</id><published>2010-02-24T20:02:00.000-08:00</published><updated>2010-02-24T20:02:00.654-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Music'/><title type='text'>The Power of Music</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Musik membuat hidup ini serasa indah. Tapi tahukah Anda musik dapat juga mengoptimalkan kecerdasan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penulis Inggris abad 19 pernah berujar, “Musik itu adalah nyanyian para malaikat.” Tidak bisa dibantah, musik memang punya kekuatan luar biasa, yang berdampak besar bagi kejiwaan. Dan hal ini juga berlaku bagi bayi dan anak. Lihat saja ketika si kecil mulai suka ketawa atau, kalau sudah bisa jalan, sedikit bergoyang mengikuti irama yang ia suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Musik dan matematika&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak penelitian membuktikan, janin menunjukkan reaksi tertentu jika diperdengarkan musik. Ibu hamil merasakan gerakan janin yang semakin cepat atau justru lebih santai. Sementara itu, banyak juga yang berpendapat musik klasik yang diperdengarkan pada ibu hamil, dan juga janinnya, dapat ‘mencetak’ anak dengan kecerdasan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikolog Fran Rauscher dan Gordon Shaw dari University of California-Irvine , Amerika Serikat, pada tahun 1994 melakukan penelitian yang membuktikan bahwa erat kaitan antara kemahiran bermusik dan penguasaaan level matematika yang tinggi dan keterampilan-keterampilan sains.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah delapan bulan, penelitian kedua pakar Amerika ini menunjukkan bahwa anak-anak yang mendapatkan program pendidikan musik meningkat inteligensi spasialnya (kecerdasan ruang) sebesar 46 persen dibandingkan anak-anak yang tidak diekspos oleh musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Musik dan bermain anak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Getaran musik itu rupanya masuk ke jiwa kita melalui neuron di otak. Ahli saraf dari [J1] Harvard University , Mark Tramo, M.D. mengatakan, ”Dalam otak kita, jutaan neuron dari sirkuit secara unik menjadi aktif ketika kita mendengar musik. Neuron-neuron ini menyebar ke berbagai daerah di otak, termasuk pusat auditori di belahan kiri dan belahan kanan. ” Rupanya mulai dari sinilah kaitan antara musik dan kecerdasan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, ini bukan berarti Anda harus buru-buru membobol tabungan untuk beli grand piano buat si kecil. Anda juga tak wajib mendominasi rumah dengan komposisi Rachmaninoff. Yang penting, biasakanlah musik menghiasi ruang di sekitar anak-anak. Putarkan lagu di radio. Bernyanyilah bersama. Kalau perlu ekspresikan bakat “Inul terpendam“ bersama si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui kegiatan bermain, anak memperoleh manfaat dari musik. Dr. Dee Joy Coulter (1995) pendidik neuroscience dan penulis buku Early Childhood Connections: The Journal of Music and Movement-Based Learning , mengklasifikasikan lagu-lagu, gerakan dan permainan anak sebagai latihan untuk otak yang brilian, yang mengenalkan anak pada pola bicara, keterampilan-keterampilan sensory motor, dan strategi gerakan yang penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya perkembangan bahasa dan kosa kata anak meningkat melalui permainan yang mengandung musik, namun juga logika dan keterampilan-keterampilan beriramanya. Logika membuat anak nantinya mampu mengorganisasi ide dan mampu memecahkan masalah. Karena berbagai manfaat yang didapat dari musik, pendidikan prasekolah pun menggunakan musik sebagai bagian dari proses pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aktif bermusik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedengkot musik jazz Louis Armstrong pernah berkata, “What we play is life.” Dalam konteks mendidik anak, petuah si “Satchmo” (nama julukan Armstrong) pantas diikuti dengan agak harafiah. Untuk mendapat manfaat optimal dari musik, anak harus aktif bermain dengan musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia harus memiliki kesempatan berpartisipasi dalam menyanyi, menari (gerakan kreatif), mendengarkan dan memainkan alat musik. Kombinasi ini dinamakan keterampilan membuat musik secara aktif. Namun, pada awalnya, alat musik tidaklah harus alat musik sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dalam belajar berbicara, anak harus mendengar suara orang bicara. Kemampuan berbahasanya tidak akan lengkap jika ia tidak mendapat kesempatan berbicara dengan orang lain. Demikian pula dengan musik. Ia harus punya kesempatan membuat musik secara aktif. Mendengar musik tanpa punya kesempatan memproduksi musik sama saja mendengarkan bahasa tanpa punya kesempatan berkomunikasi dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kegiatan bermusik yang paling mudah dan mungkin pertama kali dilakukan si kecil adalah bernyanyi. Saat ini, karena kesibukan orang tua pada masa kini dan sejalan dengan berkembangannya, industri musik membuat musical play (kegiatan bermain yang melibatkan musik) dan bernyanyi, dilupakan dan digantikan dengan CD yang berisi dentuman energik drum dan lagu-lagu anak yang lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak memerlukan model vokal yang pantas. Dr. John Feierabend (1996) menyarankan cara memilih lagu yang menarik minat anak. ia merekomendasikan folk songs , misalnya, karena terdiri dari kata-kata dan musik. Kalau Anda kurang suka dengan musik seperti ini, bisa juga mainkan lagu anak-anak klasik baik yang berbahasa Indonesia atau pun Inggris. Ia juga percaya kalau teks seharusnya berhubungan dengan dunia anak: imajinatif, kreatif dan penuh dengan pengamatan dari kacamata anak yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bernyanyi juga menyediakan kesempatan untuk ekspresi diri, membantu mengembangkan kesadaran diri. Musik klasik yang berbeda-beda mempengaruhi perilaku anak. Karya Mozart, Bach, dari Chopin memiliki efek terapeutik pada pendengar. Sementara, karya-karya Wagner dan Pagan memiliki efek energizing . Musik jenis ini mempertinggi hiperaktivitas pada beberapa anak. Rock dan disko dengan irama yang berat dapat menjadi overstimulating pada beberapa anak prasekolah. [J2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktif bermusik juga berarti mendapat kesempatan untuk menghasilkan bunyi. Saat anak mendapatk an kesempatan untuk memainkan instrumen sederhana, ia mendapatkan pengalaman musik yang penting. Menciptakan bunyi dengan cara mengeksplorasi instrumen sederhana membuat si kecil mengekspresikan dirinya secara unik. Improvisasi dan eksperimen dengan drum, sticks berirama, rattle , dan bahkan irama dari perkakas rumah, membuat anak memiliki kesempatan menghubungkan antara suara yang bervariasi dan bagaimana menghasilkan suara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang paling penting, janganlah terlalu serius. Bermainlah dengan musik. Bila anak sudah agak besar dan memang menunjukkan minat atau bakat, barulah misalnya kita ajak les piano atau alat musik lainnya. Nikmati saja keindahan musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Grahita Purbasantika Nugraha(ayahbunda)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-6649941129527070537?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/6649941129527070537/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=6649941129527070537' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/6649941129527070537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/6649941129527070537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/02/power-of-music.html' title='The Power of Music'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-5052817465482536077</id><published>2010-02-19T19:54:00.000-08:00</published><updated>2010-02-19T19:54:00.387-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkembangan Anak'/><title type='text'>Cerdas Sejak Bayi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Si kecil bisa belajar bernalar sedini mungkin lewat berbagai kegiatan yang dirancang cermat sesuai tahapan perkembangan kognitifnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Anda seperti Jenny yang selalu kesal jika Adri, putranya, membuka-buka isi tas tangannya dan mengeluarkan semua benda di dalamnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ttunggu dulu. Tidakkah Anda ingin tahu mengapa si kecil melakukan itu? Jangan remehkan anak, meski masih kecil, pikirannya berproses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya si kecil mengasah kemampuan kognitifnya, bisa jadi, membuat Anda kesal karena rumah jadi berantakan atau Anda cemas karena ia mengutak-utik benda berbahaya. Jangan buru-buru melarang. Ia sedang mengasah pikiran yang membuatnya lebih pintar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berpikir bersama orang sekitar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu lahir anak melakukan interaksi dengan lingkungannya. Ketika ia menangis, ibu menghampiri untuk melihat apakah popoknya basah, dan kemudian menggantinya. Dari interaksi ini anak mulai paham bahwa ia dapat melakukan sesuatu untuk memperoleh yang diinginkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski periode pacu tumbuh otak (brain growth spurt) anak dimulai sejak berusia 3 bulan dalam rahim ibu, namun setelah lahir, aktivitas berpikir ini merupakan proses sosial. Jadi anak belajar berpikir bersama orang-orang di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan kognitif adalah proses kegiatan akal budi untuk mengetahui sesuatu. Proses berpikir anak terjadi ketika ia gembira, ketika mengenali wajah ibu atau ayahnya, atau ketika ia bisa menuangkan apa yang dilihatnya dalam dunia nyata ke dalam gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, dengan memahami cara manusia bernalar, Anda juga dapat merancang kegiatan apa yang sesuai bagi si kecil sesuai usianya ( Lihat boks: Tahap Perkembangan Logika Balita ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Daya nalar berkembang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah Anda melihat si satu tahun asyik meneliti mainan yang dipegangnya? Selama berapa lama ia seperti tak bisa lepas dari benda itu. Memang, sebuah proses berpikir tengah terjadi di benaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jean Piaget , [J1] pakar psikologi perkembangan dari Swiss, mengungkap bagaimana manusia beradaptasi dengan lingkungannya, sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Usia 0 – 4 bulan&lt;br /&gt;Bayi memiliki gerak refleks. Dengan bertambahnya usianya dan perkembangan keterampilan fisik dan emosi-sosialnya, refleks perlahan digantikan gerak yang merupakan hasil dari proses berpikir anak. Gerakan ini semakin kompleks dari hari ke hari. Si kecil tahu ia melakukan sesuatu untuk tujuan tertentu. Ketika Anda memberikan puting susu, misalnya, ia membuka mulutnya sesuai ukuran puting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Usia 4 – 8 bulan&lt;br /&gt;Bayi mulai memahami “sebab-akibat”. Ia, misalnya, akan tertawa-tawa senang ketika Anda menggodanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Usia 8 – 12 bulan&lt;br /&gt;Bayi mulai suka membuang-buang mainannya karena tahu Anda akan segera mengambilkannya. Ia sedang mengeksplorasi lingkungannya untuk mengetahui bagaimana benda yang dibuangnya bisa kembali kepadanya. Jika tak membahayakan, tak perlu melarang segala tingkahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Mulai usia 12 bulan&lt;br /&gt;Sejak ulang tahunnya yang pertama, ia mulai bisa mengenali sebuah benda meski benda itu tak lagi ada di hadapannya.. Ia juga mulai mengenali benda yang tidak kongkret. Pada akhir tahap sensor motorik ini, keterampilan berbahasa si kecil mulai tampak. Ia bisa melakukan komunikasi. Dengan mengajaknya bercakap dan mengeksplorasi keterampilan bahasanya, anak semakin terampil menerima, menyimpan dan mengolah informasi yang diterimanya. Keterampilan ini merupakan aspek penting dalam berlogika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rasa ingin tahu yang besar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai umur dua tahun, perkembangan keterampilan motorik mendorong daya nalarnya berkembang lebih pesat lagi. Rasa ingin tahu akan dunia sekelilingnya meningkat. Dan, ia berusaha keras memenuhinya. Rangsang apa yang bisa Anda berikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Beri anak rumah imajiner, yang terbuat dari dua kursi yang ditutupi selimut. Ia bisa berjam-jam menghabiskan waktu untuk bermain dalam ‘rumah’nya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Mintalah kakak mengajak adik bermain boneka tangan bersama. Selain melatih imajinasi, keterampilan bahasa si kecil pun berkembang. Permainan pura-pura seperti ini membantu si kecil menarik benang merah antara dirinya dengan lingkungan sosial yang lebih luas. Di kemudian hari permainan ini membantu anak berani berpikir dengan perspektif berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lewat pengalaman sehari-hari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia sekitar masih menjadi objek eksplorasi yang sangat kaya bagi anak. Apa yang bisa Anda lakukan bersamanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tumbuhan, batu, binatang, angin atau udara bisa menjadi materi belajar yang mengasyikkan baginya. Ajaklah si kecil ke kebun. Tunjukkan padanya bagaimana tumbuhan bertumbuh, terus berkembang hingga akhirnya berbunga dan berbuah. Mengenal proses hidup tumbuhan merangsang daya nalar anak akan siklus kehidupan dan membuatnya menghargai kehidupannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Anak juga bisa belajar dari air. Ia dapat mengambil air dengan gelas lalu menuangnya ke gelas lain. Melalui kegiatan ini ia bisa paham bahwa bentuk air akan berubah bila diletakkan di sebuah bentuk yang berbeda. Ajaklah ia berdiskusi tentang hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bermusik juga bisa mengasah daya nalar anak. Lihat bagaimana ia menggerakkan tangan dan kakinya mengikuti irama. Dari sini dapat kita lihat bahwa pesan yang disampaikan telinganya diolah oleh pikirannya untuk kemudian menentukan gerakan mana yang sesuai dengan musik yang sedang terdengar. Ini adalah sebuah proses bernalar yang rumit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kenalkan si kecil pada konsep matematika melalui berhitung. Ia senang bila berhasil membuat kategori. Ajaklah anak membuat pola, misalnya mengelompokkan piring dengan piring, gelas dengan gelas, atau membuat pengelompokan berdasarkan warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Di usia lima tahun, ia bisa menggunakan bahasa bilangan, seperti mengenal konsep angka dengan menghitung jumlah barang yang ada di depannya. Ajaklah si kecil bermain tebakan dengan menggunakan konsep bilangan yang mulai dikuasainya itu. Ajaklah ia menyusun potongan-potongan puzzle menjadi sebuah bentuk sederhana. Kegiatan yang mengasah keterampilan kognitif ini memberinya rasa percaya diri jika ia berhasil menyelesaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat begitu pesatnya perkembangan berpikir si kecil, Anda patut berbangga. Kebahagiaan Anda menemani si kecil menjalani masa emas periode tumbuh kembangnya mengantar si kecil bak ulat yang menjadi kupu-kupu untuk terbang ke angkasa!&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eleonora Bergita (ayahbunda)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-5052817465482536077?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/5052817465482536077/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=5052817465482536077' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/5052817465482536077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/5052817465482536077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/02/cerdas-sejak-bayi.html' title='Cerdas Sejak Bayi'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-3872459199872769772</id><published>2010-02-12T19:48:00.000-08:00</published><updated>2010-02-12T19:48:00.598-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi - interaksi'/><title type='text'>Si 4 Tahun Suka Salah Ucap</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Si empat tahun mulai cerewet berkata-kata. Namun ia masih sering salah mengucapkan kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mau main di lumah aja sama Lina," ujar Sasya pada ibunya. Di usia yang keempat ini, si kecil masih sulit mengucapkan huruf “R” dengan benar. "Gimana ya menghilangkan cadel Sasya?" ungkap Santi, sang ibu, pada suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kemampuan berbahasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasaan bahasa berkaitan erat dengan kemampuan kognisi anak. Sistematika anak dalam berbicara, menggambarkan sistematika berpikirnya. Bagaimana pun bahasa, dalam hal ini bahasa lisan, tidak dapat dipisahkan dari pola pikir seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan bahasa anak-anak usia ini memang masih jauh dari sempurna. Justru itulah potensi mereka perlu dirangsang melalui latihan dengan cara berkomunikasi aktif menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kualitas bahasa yang digunakan ayah, ibu maupun anggota keluarga lain sangat mempengaruhi keterampilan anak berbicara dan berbahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan bagaimana anak bicara. Apakah ia mulai lancar atau ada hambatan di sana-sini? Berikan tanggapan responsif terhadap apa yang diucapkan si empat tahun, sekalipun itu tidak tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun anak perlu umpan balik agar ia dapat belajar dari ’kesalahan’ yang dibuatnya, menuju keterampilan berbahasa yang lebih baik. Orang tua perlu memberi perhatian penuh terhadap pencapaian si kecil di bidang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masalah yang mungkin timbul&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia empat tahunan, anak terkadang terdorong untuk bereksperimen dengan kebolehannya berbicara. Misalnya, ia dengan sengaja mengucapkan kata terbalik-balik, seperti kata “koran” menjadi "ranko" atau kata "kepala" menjadi "kelapa". Hal ini perlu mendapat perhatian jika anak mengucapkannya berulang-ulang tanpa merasa bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda perlu mengucapkan kata yang sebenarnya perlahan-lahan, tanpa bermaksud menyalahkannya. Misalnya, "Maksud Didi ‘koran’ ya…?" Jika si kecil tetap saja menyebutkan kata dengan terbalik-balik hingga beberapa waktu, sudah saatnya Anda periksakan ia pada ahlinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, si empat tahun pun kerap salah menyebut beberapa huruf, seperti “K” menjadi “T”, atau “R” menjadi “L”, seperti terjadi pada Sasya. Jika ini terjadi, cobalah mengoreksi tanpa menyalahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pancinglah si kecil untuk mau berlatih menyebut huruf yang sulit disebutkannya berulang kali. Misalnya, melalui permainan menyebut kata yang mengandung huruf yang sulit disebut anak dengan cara yang lucu. Contohnya, " Ada burung di atas pagar, begitu Rani datang langsung… brrrrrr… burung itu terbang!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang juga kerap salah adalah mendengar sebuah kata. Misalnya, kata “turun” anak dengar seperti kata yang hampir mirip, seperti “nyunyun”. Atau kata “susu” ia dengar “cucu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah betulkan kata-kata yang diucapkannya. Katakan, misalnya, "Oh maksud Sasya turun ya…?" Namun, jika terus berulang, Anda perlu memeriksakan pendengaran si kecil pada ahli yang tepat.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esthi Nimita Lubis&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-3872459199872769772?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/3872459199872769772/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=3872459199872769772' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/3872459199872769772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/3872459199872769772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/02/si-4-tahun-suka-salah-ucap.html' title='Si 4 Tahun Suka Salah Ucap'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-6679100132541124307</id><published>2010-02-06T19:39:00.000-08:00</published><updated>2010-02-06T19:39:00.181-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi anak'/><title type='text'>Rahasia Mengatasi Rasa Bosan si Balita</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bosan? Siapa pun pernah mengalaminya. Tapi, sangat mudah membuat anak ceria dan bersemangat kembali. Bagaimana caranya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak adalah makhluk yang senantiasa ceria dan bersemangat. Mereka antusias menemukan hal-hal baru, mencari tahu rahasia alam. Anak-anak juga gemar melakukan suatu kegiatan berulang-ulang untuk mempelajari proses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ada kalanya, mereka dihinggapi rasa bosan. Mereka jadi enggan melakukan eksplorasi dan rasa ingin tahunya seakan padam. Apa yang menyebabkan rasa bosan tiba-tiba menyerang balita? Bagaimana mengatasinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Rasa bosan” itu penting&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa bosan adalah reaksi normal manusia pada umumnya, yang muncul saat melakukan kegiatan secara monoton. Memang tak semua orang mudah merasa bosan. Sebab, ada pula yang dikatakan para ahli memiliki ambang batas kejenuhan dan kebosanan yang cukup tinggi. Tentu inilah yang membedakan cara mengatasi jika bosan datang, terutama bila terjadi pada balita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia modern mengisi sebagian besar waktunya dengan kesibukan dan kerja. Dengan pola pendidikan masa kini, anak terbiasa disibukkan berbagai stimulasi, baik oleh lingkungan, maupun orang tua atau pengasuh. Padahal, anak tak selalu harus sibuk. Orang tua perlu juga mempertimbangkan agar si kecil beristirahat sejenak dari kegiatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Hans Grothe , psikolog dan kontributor tetap majalah Eltern di Jerman, rasa bosan penting dalam kesehatan mental. Rasa bosan dapat dianalogikan sebagai sebuah “sistem alarm”, pemberi tanda bahaya. Fungsinya, untuk memberitahu yang bersangkutan bahwa dirinya butuh break sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ini berkenaan dengan anak-anak, rasa bosannya bermanfaat bagi orang tua atau pengasuh. Sedikit ketidakaktifan (bersikap pasif) menurut berbagai studi, berguna untuk mengistirahatkan motor penggerak tubuh si kecil, yang sehari-hari tiada henti bereksplorasi. Momen tanpa kegiatan, penting bagi si balita. Namun jangan biarkan si pembosan menikmati “diam” dengan hanya menonton televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kenali dulu, baru atasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak bayi, rasa bosan dapat tiba-tiba datang dan mengganggu keceriaan si kecil. Pada bayi, rasa bosan muncul dalam bentuk kerewelan dan tangisan . Apabila tidak teratasi, rasa bosan dapat berubah menjadi frustrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi bosan terutama karena merasa kurang mampu meraih sesuatu atau tak dapat membuat orang lain memahami apa keinginannya. Sebuah studi di Jerman menunjukkan, hampir semua bayi merasakan kebosanan yang kronis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi rasa bosan bayi, orang tua perlu cermat bereaksi. Jika terlalu responsif menanggapi tangisnya, salah-salah ia menangkap bahwa kesepian, kesendirian dan rasa bosan adalah sesuatu yang menakutkan, sesuatu yang seharusnya tak menimpa siapa pun. Dengan begitu, bisa jadi, ia terbiasa menyerukan satu teriakan, dan bantuan segera ada di depan matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grothe menyarankan orang tua untuk melakukan cek dan ricek “Tengoklah secara diam-diam ke kamarnya untuk memastikan apakah si kecil baik-baik saja,” saran Grothe. Sebab, bisa saja anak berteriak hanya untuk mencari perhatian. Tetapi orang tua tak perlu ragu untuk segera memberi uluran tangan, apabila ia benar-benar membutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada balita, orang tua dapat melibatkan anak untuk turut mencari jalan keluar. Anda dapat mengajarkan si balita mengenali sinyal yang diberikan oleh ‘sistem alarm’ tadi. Anak-anak pembosan memiliki ‘sistem alarm’ yang sangat peka. Oleh karenanya, mereka kerap menerima ‘tanda bahaya’ setiap ada stimuli yang dapat memicu rasa bosan. Untuk itu, balita perlu diajarkan cara bereaksi, apabila menerima ‘tanda bahaya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila anak Anda adalah anak yang mudah bosan, Anda perlu mengajarkan bahwa dalam setiap kegiatan terdapat sebuah kesenangan tersendiri . Selain itu, penting bagi orang tua menyadarkan anak bahwa kesenangan akan lebih besar diperolehnya jika kegiatan yang dilakukannya dirancang dan diciptakannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berlatih mengusir rasa bosan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Grothe, orang tua masa kini perlu membekali anak-anak mereka dengan keterampilan atau seni memotivasi diri, bermain, serta belajar sendiri, dan juga bekerja mandiri. Bekal semacam ini tak tergantikan oleh mainan atau benda menyenangkan lainnya. Seolah harta berharga, keterampilan ini serupa alat antibosan yang membantu anak-anak ketika dihinggapi rasa jenuh. Jika mereka menguasainya, tak hanya masa kanak-kanaknya menjadi masa penuh kesenangan, bahkan juga di usia dewasanya nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kapan orang tua perlu mengajarkan anak hal ini? “Sejak si kecil bayi. Ajak anak menemukan gagasan sederhana yang bisa dilakukan sendiri atau bersama orang lain,” ujar Grothe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk si 3 tahun, Grothe menyarankan orang tua mengajarkannya membangun menara dengan balok konstruksi atau kardus. Atau, menciptakan permainan baru tanpa merasa bosan. Ajarkan cara yang bervariasi. Kalau si kecil kehilangan minat untuk bermain, berikanlah kesempatan untuk mengatasi kebosanannya dengan membantu Anda. Misalnya, membereskan rumah, memasak, atau membuat kue kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh sederhana dapat Anda lakukan saat anak meminta roti untuk sarapan. Sediakan roti tawar dan olesi margarin atau mentega. Selebihnya, biarkan si kecil berkreasi sendiri dengan mesyes , atau selai buah maupun kornet. Beri contoh, bagaimana cara menghias roti dengan selai atau cokelat oles. Sediakan juga variasi teman makan roti itu di meja dan biarkan anak bereksperimen. Apa yang tersedia di atas meja pun habis dilahap. Syaratnya, Anda tak terlalu banyak mengatur ini-itu untuk mencegah meja makan porak-poranda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika si kecil sering Anda ajak ke tempat umum, misalnya apotik atau bank, bawalah selalu mainan atau benda kesayangannya. Biarkan ia berkreasi dengan memanfaatkan imajinasinya di sela kegiatan menunggu atau momen tanpa kegiatan utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Coba aktivitas outdoor !&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan di luar rumah selalu menggairahkan. Anda dapat melakukannya bersama si bayi dan balita. Ketika si kecil seharian tampak murung karena jenuh, tak bergairah bermain dan rewel, ajaklah ia jalan-jalan menghirup udara segar. Jika hari akan hujan, biarkan sedikit tetes hujan menyentuh jarinya. Atau, berkreasi dengan permainan yang bersifat intermeso sebagai selingan.. Misalnya, lomba lari di sekitar rumah, atau memungut dedaunan kering di taman rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melakukan aktivitas fisik sebagai selingan, anak biasanya merasa lebih segar. Karena lebih rileks, ia biasanya memilih beristirahat tanpa melakukan kegiatan. Sebagai imbalan, Anda dapat menghadiahi anak dengan membacakan buku cerita pengantar istirahat sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan lain, apabila Anda menguasai beberapa teknik meditatif atau relaksasi, Grothe menyarankan mempraktekkan bersama anak. Latihan pernapasan dan relaksasi pikiran sejak dini membantu si kecil merasakan pengalaman berbeda. Untuk itu, sediakan bantal besar atau kasur kecil atau tumpukan selimut lembut sebagai alas berbaring, lalu putarkan musik instrumental yang menenangkan. Biarkan anak menemukan arti dan makna diri, saat ia tak melakukan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 1001 aktivitas menarik yang dapat menjadi obat penawar kebosanan si kecil. Jika Anda berhasil memegang kunci rahasia ini, rasa bosan pada balita tak akan menjadi sumber kecemasan Anda dan si buah hati!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Andi Maerzyda A. D. Th.(ayahbunda)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-6679100132541124307?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/6679100132541124307/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=6679100132541124307' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/6679100132541124307'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/6679100132541124307'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/02/rahasia-mengatasi-rasa-bosan-si-balita.html' title='Rahasia Mengatasi Rasa Bosan si Balita'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-5437541316060870307</id><published>2010-02-01T19:48:00.000-08:00</published><updated>2010-02-01T19:48:00.825-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perilaku Anak'/><title type='text'>Si 5 Tahun Belajar di Dapur</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Renyahnya keripik, lembutnya es krim, harumnya bumbu dapur dan sayur-mayur merupakan pengetahuan yang merangsang anak untuk belajar di dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan eksplorasi yang dilakukan si lima tahun kini makin terarah menuju kepada suatu pengetahuan tertentu. Lewat mengenal beragam perbedaan rasa, tekstur dan bau, si lima tahun semakin kaya pengetahuan terhadap alam sekitar dan juga perihal dirinya. Ia sadar, indera dan organ yang dimilikinya berguna untuk mencecap, merasakan, dan memroses sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dapur juga oke&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pemahaman yang biasanya sudah berkembang, belajar bersama si lima tahun dapat dilakukan di mana saja. Salah satunya, di dapur dan ruang makan. Dari dua tempat ini si lima tahun tak hanya mengenal perbedaan keras-lembutnya sayur-mayur, tekstur keju dan perbedaan aroma beragam bumbu, ia juga belajar bagaimana menggunakan indera dan organnya untuk memroses bahan makanan hingga bisa diolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli ilmu gizi yakin anak-anak belajar atau mengamati dari bahan makanan yang mudah diidentifikasi atau mudah dikunyah. Dengan cara menggenggam potongan keju atau wortel yang dipotong sebesar mulutnya, si kecil tak segan-segan mencoba dan belajar dari benda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dapat dilakukan orang tua adalah mengajak anak terlibat dalam membuat makanan yang disukainya. Misalnya, mengiris sayuran untuk telur dadar, mengiris atau memarut keju, mengaduk adonan dan menghias makanan. Saat melahap hidangan, mata si kecil turut pula makan.&lt;br /&gt;Mengendalikan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat kegiatan di dapur bersama si kecil tak hanya membantu mengatasi sulit makan pada anak. Jika terbiasa mengiris sayuran, tentu dengan peralatan yang aman untuk si lima tahun, maka anak belajar mengatur posisi tangan, tenaga yang dikeluarkan dan cara memperlakukan bahan yang sedang diolah. Misalnya, ia belajar mengiris wortel atau buncis untuk sup butuh kekuatan jari dan keterampilan yang lebih tinggi disbanding keterampilan mengiris pisang untuk membuat Banana Split , misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain melatih dan mengendalikan tenaga, si lima tahun juga belajar kesabaran di dapur. Ia belajar bahwa perlu sikap sabar menunggu hingga sesuatu masak atau dapat segera dimakan. Pengetahuan dari dapur berguna untuk jangka panjang, karena dimulai dengan kegiatan eksplorasi sederhana dalam menyiapkan bahan untuk dimasak. Saat memasuki usia sekolah, ia juga dapat belajar kemandirian melalui kegiatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda dapat mendampingi si kecil belajar mengenali manfaat serta risiko dari alat-alat masak; seperti pisau, pemarut, atau api dari kompor dan oven yang panas. Dengan memperkenalkan alat dan fungsi, anak sekaligus belajar mengantisipasi apabila benda-benda tersebut mengundang bahaya, saat akan digunakan. Jelaslah, dapur bukan hanya pusat mengolah bahan makan, melainkan laboratorium praktis yang pasti ada di setiap rumah.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi Maerzyda A. D. Th. (ayahbunda)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-5437541316060870307?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/5437541316060870307/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=5437541316060870307' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/5437541316060870307'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/5437541316060870307'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/02/si-5-tahun-belajar-di-dapur.html' title='Si 5 Tahun Belajar di Dapur'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-3458166267724177106</id><published>2010-01-30T19:45:00.000-08:00</published><updated>2010-01-30T19:45:00.309-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Membaca'/><title type='text'>Si 2 Tahun Asyik ‘Membaca’</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Si dua tahun terlihat serius betul “membaca” buku ceritanya. Apa sih yang ia lakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinda (2,5 tahun) membuka halaman buku cerita favoritnya, Cinderela. Ia mulai membuka halaman pertama, dan berujar dengan lancar, ”Pada suatu hari, ada putri cantik bernama Cinderela….,” sambil matanya terus melihat ke buku. Sekilas Dinda seperti membaca. Benarkah ia sudah bisa membaca?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berminat pada buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usia dua tahunan, anak mulai “mengembangkan” aneka ragam minat. Salah satunya minat pada buku. Buku dengan gambar dan warna menarik menjadi salah satu pemicu minat anak untuk bermain-main dengan benda ini. Terlebih bila Anda sering membacakan si kecil buku cerita favoritnya. Ketertarikannya pada buku pun bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya si dua tahun senang buku cerita berukuran besar dengan gambar-gambar yang besar pula serta warna-warni yang indah. Cerita yang biasa digemari si kecil berkisar pada kisah-kisah petualangan cilik, putri dan pangeran, juga binatang. Si dua tahun tak akan berminat pada buku miskin gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat anak tertarik pada buku, dapat Anda lakukan seawal mungkin. Mulailah selalu membuka halaman buku cerita yang menarik perhatiannya. Sambil membaca, tunjukkan gambar-gambar yang mengiringi cerita tadi. Cara ini semakin membuat anak tertarik dan berminat pada buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lambat laun, si dua tahun kenal buku. Ia mulai tahu bahwa buku terdiri dari beberapa lembar kertas yang ada gambarnya. Ia juga mulai mengerti di dalam buku itu ada tulisan yang kerap Anda bacakan saat Anda bercerita untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memperhatikan lalu meniru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa Anda sadari, si kecil memperhatikan dan mengingat dengan baik isi cerita yang Anda bacakan. Dari proses mengamati, si dua tahun mencoba meniru apa yang biasa Anda lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meniru merupakan bagian dari proses kemandirian anak. Ia mencoba mempraktekkan bagaimana Anda membaca dan mengucapkan kalimat-kalimat dari buku cerita tersebut. Ia ingat persis, sehingga begitu melihat buku cerita favoritnya, ia buka halaman demi halaman dan meniru gaya Anda saat membaca buku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jangan kaget dan menduga si dua tahun sudah pandai membaca. Sesungguhnya ia meniru apa yang biasa Anda ucapkan saat membuka halaman buku cerita. Dengan begitu, sekilas si dua tahun terlihat asyik membaca bukunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ini terjadi, hindari bergegas mengambil alih buku dan membacakan untuk si kecil. Lebih baik puji anak, ”Wah, Ade semakin pandai ya. Ade sedang membaca buku ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada salahnya Anda mendengarkan si kecil ‘membaca’ dan bercerita menurut gaya dan versinya. Tak usah repot memperbaiki atau mengoreksi cerita yang ia ‘baca’. Yang penting, Anda memberinya perhatian dan mendukung minatnya membaca. Apa yang Anda lakukan ini mendukung proses tumbuh-kembang anak.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cherry Riadi Lukman (ayahbunda)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-3458166267724177106?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/3458166267724177106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=3458166267724177106' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/3458166267724177106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/3458166267724177106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/01/si-2-tahun-asyik-membaca.html' title='Si 2 Tahun Asyik ‘Membaca’'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-2538424944040007870</id><published>2010-01-24T19:44:00.000-08:00</published><updated>2010-01-24T19:44:00.236-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Stress - Gangguan Mental'/><title type='text'>Si 3 Tahun Stres</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan perilakunya pertanda ia stres. Ia butuh bantuan untuk menata perasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap berada di Taman Bermain tanpa Anda di sebelahnya, si kecil terus-menerus menggigit kuku jari tangannya. Anda tahu ini dari laporan guru kelasnya. Bila bersama Anda, si tiga tahun nampak santai dan ceria. Apa penyebabnya?&lt;br /&gt;Kenali tandanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya orang dewasa, si tiga tahun bisa mengalami stres. Perubahan suasana dan lingkungan dapat membuatnya tertekan. Misalnya, pindah tempat tinggal (yang berarti beradaptasi dengan rumah, lingkungan, Taman Bermain dan kebiasaan baru), perpisahan kedua orang tuanya, serta kematian orang dekat atau hewan peliharaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan yang tidak dipersiapkan dengan baik juga dapat membuatnya tertekan. Misalnya, tiba-tiba ia harus berada di Taman Bermain dan terpisah dari Anda. Atau Anda yang kini kembali bekerja, tidak lagi dapat bersamanya 24 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, pola asuh dengan kekerasan, tidak konsisten, atau pun overprotective juga dapat membuat anak tertekan. Masalah-masalah di Taman Bermainnya, entah dengan teman atau guru, dapat juga membuatnya stres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedanya dengan orang dewasa, si tiga tahun tak dapat berteriak, “Aku stres!”, karena ia tidak menyadarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bantuan Anda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda dapat membantunya dengan melihat tanda-tanda stres yang ditunjukkannya. mencari tahu penyebabnya dan lantas mencari jalan keluarnya. Terkadang hal yang tidak terpikir oleh kita dapat menjadi pemicu stres si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berikut hal-hal yang perlu Anda perhatikan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Pada beberapa anak, tanda-tanda stres terlihat dengan hobi barunya menggigit kuku pada situasi tertentu.&lt;br /&gt;* Anak jadi sulit makan.&lt;br /&gt;* Anak jadi lebih rewel.&lt;br /&gt;* Anak bermasalah dalam tidur.&lt;br /&gt;* Amati kapan gejala itu mulai muncul dan ingat-ingat ada kejadian apa dalam masa itu yang mungkin bermakna bagi anak. Misalnya, si tiga tahun mulai suka memlintir-mlintir rambutnya sejak tiga minggu terakhir.&lt;br /&gt;* Kapan saja kebiasaan tersebut timbul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Komunikasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Anda mengenali tanda-tanda stress yang ditunjukkannya, Anda bisa mulai mencari penyebabnya dan jalan keluarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika masalahnya berhubungan dengan kelekatan Anda dan si kecil yang kini harus berpisah karena Anda bekerja, buatlah perpisahan bertahap sehingga si tiga tahun dapat menyesuaikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membina komunikasi terbuka dengan si tiga tahun merupakan modal utama dalam membantu mengatasi stresnya. Cara ini membuat Anda mengetahui apa yang dirasakan atau dialaminya. Tak hanya perasaan atau pengalaman negatif, tapi juga positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan si tiga tahun mengatasi stresnya kali ini, akan membentuk kemampuannya menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap perubahan di masa datang. Namun, jika stres si kecil cukup berat dan Anda tak mampu membantu mengatasinya, bantuan profesional diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Grahita Purbasantika Nugraha(ayahbunda)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-2538424944040007870?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/2538424944040007870/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=2538424944040007870' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/2538424944040007870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/2538424944040007870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/01/si-3-tahun-stres.html' title='Si 3 Tahun Stres'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-842502764784528050</id><published>2010-01-18T19:42:00.000-08:00</published><updated>2010-01-18T19:42:00.454-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang tua harus perhatikan ini...'/><title type='text'>Cerdaskan &amp; Bahagiakan Anak</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah cerdas, bahagia pula. Senang sekali jika anak-anak kita punya keduanya. Asal Anda rela, tak sulit menyeimbangkan antara kegiatan yang mencerdaskan dan yang membahagiakan si kecil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ma, boleh enggak Kayla hari ini enggak usah les?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa? Bosan?” tanya Tita, ibu Kayla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mmm… Iya. Kayla hari ini pingin main sepeda sama Dira,” jawab Kayla yang les bahasa Inggris sejak usia 5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu harus rajin les. Kalau kamu pintar bahasa Inggris, kamu juga yang senang,” bujuk Tita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayla diam termangu, membayangkan senangnya bersepeda bersama teman-teman. Sebetulnya Kayla juga sudah lelah dengan kegiatan lain, seperti les menari yang dipelajarinya sejak ia berusia 4 tahun karena, menurut ibunya, Kayla berbakat menari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ibu, Tita merasa bertanggung jawab memberi stimulasi yang tepat bagi anaknya. Kecerdasan di semua bidang haruslah mendapat stimulasi agar Kayla berkembang menjadi manusia cerdas yang kelak mengisi ruang-ruang sekolah yang bagus, perguruan tinggi terbaik dan dunia kerja yang tak mungkin terisi oleh orang yang biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era globalisasi, dunia kerja di negeri ini bisa saja diisi orang bule atau orang-orang negeri jiran yang konon lebih hebat dibanding orang kita. Mungkin Tita satu contoh dari sekian banyak orang tua yang gemar menakut-nakuti diri sendiri dengan berbagai isu masa depan. Bisa jadi Anda pun punya kekhawatiran seperti Tita, sehingga kalap dalam menstimulasi si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Stimulasi memang penting&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara alami, anak punya potensi menjadi cerdas. Sejak bisa berjalan, ia punya keinginan kuat mempelajari apa saja. Secara alami pula, anak punya potensi bersikap optimis dan bahagia. Kalimat-kalimat menjanjikan itu ditulis Martha Heineman Pieper, Ph.D . dan beberapa rekannya dalam buku Smart Love.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana potensi kecerdasan distimulasi? Apa sebenarnya yang dipahami orang tua tentang kecerdasan? “Banyak orang tua salah kaprah memahami kecerdasan. Kebanyakan mengira anak yang dapat melakukan banyak hal adalah anak cerdas,” ujar Erniza B. Joewono , M.Si , Staf Pengajar di Bagian Perkembangan, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia . Padahal, mengacu pada definisi kecerdasan, anak cerdas adalah anak yang punya kemampuan global untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional dan menyesuaikan diri dengan lingkungan secara efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah dua anak balita, Panca B. Wibawa (35 tahun), berpendapat bahwa kecerdasan muncul dalam perilaku. Kecerdasan bagi konsultan kesehatan ini merupakan gabungan dari pemahaman teori dan kreativitas. Anak cerdas berarti anak yang bersikap taktis menghadapi lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Rina Pane (37 tahun), ibu dari Fauzan (7 tahun) dan Resi (5 tahun) menyakini adanya multiple intelligence, kecerdasan majemuk, sehingga dalam usahanya mencerdaskan anak, Rina tak menuntut anak jadi juara di sekolah. Ia memperhatikan kekuatan anaknya dan memberi stimulasi pada kekuatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjadi anak cerdas, stimulasi memang penting. Stimulasi apa yang mampu mencerdaskan anak? “Untuk anak usia prasekolah, bermain merupakan kegiatan utama. Berbagai kegiatan dan beragam permainan bisa dilakukan orang tua bersama anak untuk menyeimbangkan otak kanan dan otak kirinya,” tandas Erniza.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Stimulasi sesuai kebutuhan anak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, banyak juga orang tua tak paham soal itu. Dari pengalaman di ruang konsultasi, Erniza menemui tidak sedikit anak-anak usia sekolah dengan masalah emosi. Orang tua mengeluhkan prestasi belajar anak yang menurun. “Setelah diteliti, ternyata anak-anak itu sangat jenuh dengan berbagai aktivitas yang dijalaninya sejak usia prasekolah, yang kadang-kadang bukan kegiatan yang disukai anak,” ujar Erniza. Psikolog ini mencontohkan, “ Ada anak yang dipaksa belajar piano, padahal ia lebih suka menulis puisi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa ini bisa terjadi? Orang tua mengidentifikasikan diri mereka pada anak-anaknya. Mereka memberi stimulasi sesuai keinginannya, bukan kebutuhan anak. Orang tua memaksakan minatnya pada anak. Kalau anak berhasil, orang tua juga merasa berhasil. “Kebanggaan dirinya duluan yang diutamakan,” kata Erniza.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan itu, menurut Erniza, terjadi di perkotaan. Anak disuruh belajar banyak hal, hingga tak ada lagi waktu senggang untuk bermain. Padahal anak butuh bermain. Si kecil pun belajar banyak hal melalui bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Faktor usia menentukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para psikolog perkembangan di seluruh dunia sepakat anak belajar melalui bermain. Kathy Hirs - Pasek, Ph.D, penulis Einstein Never Used Flash Cards: How Our Children Really Learn, And Why They Need to Play More and Memorize Less, mengungkapkan bermain sama dengan belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melakukan permainan sederhana merupakan kunci dari mengasuh anak agar cerdas dan bahagia. Sependapat dengan Pasek, Erniza mengatakan, untuk anak usia prasekolah, usaha mencerdaskan yang tepat adalah melalui permainan. “Anak-anak yang dicintai dan diasuh orang tua yang menikmati bermain bersama anak, akan tumbuh cerdas dan bahagia,” ungkap Pasek dalam bukunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang otak anak usia prasekolah, menurut Erniza, bukan untuk diisi dengan kegiatan akademik. Lalu, bolehkah anak usia prasekolah diberi stimulasi yang sifatnya terstruktur? Kapan waktu yang tepat? “Boleh saja, sejauh kegiatan itu sifatnya bukan akademis. Sesuatu yang sifatnya mengembangkan kreativitas seperti melukis atau menari, dan tidak menyita waktu istirahat dan waktu bermainnya,” tandas Erniza.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kecerdasan majemuk dan kecerdasan emosi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rina, yang melihat kekuatan Resi di bidang bahasa, mengikutkan Resi dalam sebuah kursus bahasa Inggris sejak putranya berusia 4 tahun. Bagi Rina, bidang lain pun, seperti olahraga dan musik perlu distimulasi mengingat adanya kecerdasan majemuk tadi. Itu sebabnya Fauzan diikutkan dalam olahraga Tae Kwon Do. Rina pun berencana memasukkan Resi ke kelas piano, bila kelas untuk anak seusianya dibuka. “Resi ingin belajar piano,” demikian alasan Rina, yang sempat cemas dengan isu globalisasi hingga ia bingung memilih TK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ayah dua putri berusia 3 tahun dan 2 bulan, Panca merasa yakin stimulasi kecerdasan yang sangat penting untuk anak balita hanyalah bermain. Ada saatnya anak bermain bersama orang tuanya, tetapi di usia tertentu, anak juga perlu bermain secara terarah, misalnya di kelompok bermain. “Tapi yang paling penting bagi anak agar ia cerdas dan bahagia adalah kebebasan,” ujar Panca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan, bagi Panca, merupakan landasan anak menata perilakunya. Dengan kebebasan yang ia berikan kepada Azka, Panca percaya Azka belajar menghargai kebebasan orang lain, bebas mengekspresikan diri serta bebas berbicara dan berkepribadian terbuka. Panca yakin kepribadian macam inilah yang dapat mengantar anak pada keberhasilan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam istilah lain, yang dimaksud Panca bisa jadi, selain kecerdasan intelektual, anak perlu cerdas secara emosi. Erniza menekankan orang tua perlu terus-menerus disadarkan dan diingatkan pentingnya mengasah kecerdasan emosi anak-anaknya. (Lihat boks: 10 Cara Melatih Anak Cerdas Emosi ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Anak butuh dukungan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal dilakukan orang tua demi kebaikan anak. Dari itu semua yang penting adalah dukungan terhadap aktivitas anak, apalagi bila aktivitas itu pilihan si kecil. “Suatu saat kalau Azka ingin belajar melukis, saya akan mencarikan sanggar lukis. Bila usianya sudah cukup untuk belajar bahasa, sejauh itu keinginan Azka, saya mengizinkannya belajar bahasa,” ungkap Panca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski dukungan orang tua terhadap kegiatan yang diminati anak itu penting, orang tua juga perlu waspada kebablasan , karena dukungan bisa-bisa berubah jadi tuntutan. “Tuntutan sama artinya tidak ada dukungan,” ujar Erniza. Anak yang selalu dituntut, tidak punya motivasi. Sementara dukungan yang tepat memotivasi anak mencapai prestasi yang baik (Lihat boks : Tepat Mencerdaskan &amp;amp; Membahagiakan Anak ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dukungan yang tepat dapat berupa pujian saat anak mendapat prestasi dari kegiatan yang disukainya. Misalnya, saat anak mendapat hadiah dari sanggar tari karena ia dapat melakukan gerakan tari dengan baik. Sepatutnyalah orang tua memberi pujian. Jangan karena menari bukan kegiatan yang orang tua sarankan, lantas anak tidak dipuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dukungan dan pujian yang tepat merupakan pupuk bagi pertumbuhan harga diri yang sehat. Harga diri sehat merupakan sumber kebahagiaan anak. “Sayangnya, ada saja orang tua yang tidak perhatian terhadap kebahagiaan anak. Menurut mereka, kebahagiaan sudah ada pada anak dengan sendirinya,” tutur Erniza (Lihat boks: Syarat Anak Bahagia: Punya Self Esteem &amp;amp; Self Confidence ). Lalu, karena kebahagiaan itu sudah ada, orang tua merasa tak perlu lagi memupuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan begitu, yang terjadi, anak-anak di usia dini merasa tidak bahagia. “Mereka merasa dituntut, tetapi tak pernah mendapat pujian. Akibatnya, anak-anak itu terusik harga dirinya. Mereka tak punya self esteem ,” papar Erniza, yang juga ibu dua anak beranjak dewasa. Padahal kebahagiaan itu bersumber pada harga diri. Prioritaskanlah membangun harga diri anak sekarang juga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Im&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;manuella F. Rachmani (ayahbunda)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-842502764784528050?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/842502764784528050/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=842502764784528050' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/842502764784528050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/842502764784528050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/01/cerdaskan-bahagiakan-anak.html' title='Cerdaskan &amp; Bahagiakan Anak'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-6554508842674548013</id><published>2010-01-12T19:41:00.000-08:00</published><updated>2010-01-12T19:41:00.313-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perilaku Anak'/><title type='text'>Si 3 Tahun Tidak Menurut</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan yang kuat merupakan karakteristik khas si tiga tahun. Bagaimana melihat sikapnya itu dengan cara positif agar Anda tak kesal, dan membuat si kecil semakin bertingkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau coklat!”, “Naik mobil!”, “Mau ikut!” adalah kalimat favorit si tiga tahun. Kesal karena ia sulit sekali menurut jika diberitahu? Cobalah lihat sisi positifnya! Cari tahu apa di balik kekerasan hatinya, dan temukan cara jitu menghadapinya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hanya ketika merasa aman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika si tiga tahun mulai menggunakan ‘senjata’ ampuhnya menuntut orang tua untuk memenuhi keinginannya, tak perlu kesal, apalagi marah. Seandainya saja, Anda tahu bahwa ia hanya berlaku demikian pada orang yang dikenalnya, atau yang dengannya ia merasa aman, Anda tentu menyesal memarahinya. Tak mengherankan, jika ia sering menguji kesabaran orang yang punya hubungan emosi dekat dengannya, seperti Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal tahu saja, di balik kekerasan hatinya untuk mengutamakan keinginan diri ketimbang menuruti kata-kata Anda, ia sedang belajar mengembangkan kesadaran diri dan ego. Ketika kenyataan yang dihadapinya berbeda dengan mind setting yang ditatanya dalam benak, maka kekecewaan dan kegetiran mengajarkannya untuk menata emosi. Tentu saja perasaan kecewa dan sedih sama pentingnya dengan rasa puas dan senang dalam mengajarkan si kecil kecerdasan intrapersonal dan emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cegah dan kendalikan diri Anda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda ingin si kecil mengenal dirinya sejak dini dan punya kecerdasan intrapersonal, sebaiknya Anda tak selalu mengatakan “Tidak” atau menyuruhnya mengikuti instruksi. Biarkan ia mencoba hal-hal yang sebelumnya Anda larang dan biarkan ia menghadapi akibatnya jika ia ngotot mengutamakan keinginannya ketimbang menurut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, jika ia justru mencoba mengenakan sepatu ayah yang kebesaran, padahal Anda melarangnya, biarkan ia merasakan betapa besar kemungkinan ia terjatuh. Ketika ia jatuh pun, biarkan si tiga tahun belajar menerima akibatnya. Secara tak langsung ia belajar bahwa ada alasan mengapa Anda melarangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara lain yang juga perlu Anda coba terapkan adalah dengan menghindari terjadinya perdebatan ketika Anda melarangnya memakan coklat yang belum dibayar di supermarket . Tentu saja, Anda bisa memprediksikan hal demikian pasti terjadi jika Anda mengajaknya berbelanja ke supermarket. Untuk menghindarinya, Anda tak perlu membawanya ketika belanja cukup banyak, kecuali Anda memperkirakan dapat mengatasi rengekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Temukan resep yang pas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah lain dalam menangani anak yang sulit menurut dan suka ngotot berkenaan dengan penataan emosi orang tua. Terkadang masalahnya justru ada pada diri orang tua. Biasanya orang tua punya cara tersendiri untuk mengendalikan diri. Resep berikut dapat Anda coba:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Ketika anak mulai berulah, coba alihkan perhatian Anda darinya, lalu tatalah cara Anda bernapas. Ambil napas dalam-dalam hingga hitungan 20. Ini membuat Anda lebih tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dalam kondisi tenang, alihkan perhatian si kecil yang berulah dengan nyanyian suara yang cukup keras. Pilihlah lagu gembira yang disenangi anak! Biasanya suasana hati anak akan berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jika konflik terjadi di dalam kamar, ajaklah si kecil berpindah ruangan. Jika Anda berdua di sebuah toko, segera selesaikan pembayaran dan keluarlah. Perpindahan ruangan membuat perhatian anak beralih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hanya beberapa saran. Anda bisa temukan sendiri cara yang pas untuk Anda dan si kecil. Ulah ‘si pemberontak’ tak perlu membuat Anda pusing!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Andi Maerzyda A. D. Th.(Ayahbunda)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-6554508842674548013?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/6554508842674548013/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=6554508842674548013' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/6554508842674548013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/6554508842674548013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/01/si-3-tahun-tidak-menurut.html' title='Si 3 Tahun Tidak Menurut'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-8527531046994628220</id><published>2010-01-06T19:40:00.000-08:00</published><updated>2010-01-06T19:40:00.247-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkembangan Anak'/><title type='text'>Si 1 Tahun Kaget Perubahan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Si satu tahun terbiasa dengan sesuatu yang rutin. Perubahan yang tiba-tiba, terutama pada ibu atau ayahnya, ia tolak mentah-mentah. Bagaimana sebaiknya bersikap?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja si satu tahun menangis melihat Anda tanpa kacamata. Menurut Elizabeth Pantley , penulis buku Gentle Baby Care , perilaku anak ini karena ia khawatir, penampilan baru Anda akan membuat Anda menjadi orang yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Terbiasa yang rutin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan kemampuan anak mengeksplorasi dunia, si satu tahun setiap hari menghabiskan waktu dengan menemukan hal-hal, tempat-tempat dan orang-orang baru. Ia baru saja mempelajari perubahan. Menghadapi ini semua, sesuatu yang dikenalnya dengan baiklah yang akan menenangkan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan suatu perubahan kecil pun dapat membuat anak kaget atau takut. Si satu tahun mungkin akan mencoba “mengembalikan” Anda seperti sebelum ada perubahan. Saat Anda pertama menggunakan lensa kontak dan meninggalkan kacamata Anda, ia bersikeras memaksa Anda mengenakan kacamata kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si satu tahun juga terbiasa dengan sesuatu yang rutin. “Perubahan yang tiba-tiba, terutama yang dilakukan oleh ayah atau ibunya, akan mendapat penolakan keras si kecil,” kata Kate Keenan, Ph.D, psikolog anak dari Universitas Chicago, Amerika Serikat. Itu sebabnya, si satu tahun juga dapat menjadi demikian rewel ketika Anda memutuskan kembali bekerja penuh waktu.&lt;br /&gt;Menyesuaikan dengan perubahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ia menolak perubahan fisik Anda, Anda perlu meyakinkannya bahwa Anda tetaplah seperti dulu. Bersamanya, duduklah di muka cermin. Tambahi penampilan Anda dengan topi, wig atau kacamata, lalu biarkan ia melepaskannya. Kemudian, pakaikan benda-benda tersebut pada dirinya. Biarkan ia memandangi dirinya mengenakan benda-benda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika perubahan itu begitu drastis, seperti Anda mewarnai rambut Anda, ia memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan perubahan itu. Anda dapat membantunya mengurangi kekagetannya ini dengan melakukan kegiatan yang biasa Anda lakukan bersamanya. Misalnya, menyanyikan lagu yang biasa Anda lakukan untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika perubahan berkaitan dengan rutinitas, lakukanlah secara perlahan. Dengan begitu ia terbiasa terlebih dulu. Misalnya, saat Anda berniat bekerja penuh kembali, biasakan si kecil sedikit demi sedikit berpisah dengan Anda. Atau, jika ia menolak roti sarapannya berbentuk segitiga, ajak ia menyiapkannya, sehingga ia tahu bahwa roti itu tetaplah sama. Si kecil pun akan lebih fleksibel menghadapi perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Grahita Purbasantika Nugraha(ayahbunda)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-8527531046994628220?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/8527531046994628220/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=8527531046994628220' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/8527531046994628220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/8527531046994628220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/01/si-1-tahun-kaget-perubahan.html' title='Si 1 Tahun Kaget Perubahan'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-7873520884796568831</id><published>2010-01-01T19:37:00.000-08:00</published><updated>2010-01-01T19:37:00.470-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perilaku Anak'/><title type='text'>Si 4 Tahun Kesal dan Mengomel</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terselip di balik kekesalan dan omelan si empat tahun? Ada cara efektif untuk menghadapi dan mengatasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dasar bego!” umpat Dendi pada pengasuhnya saat ia diminta mengganti kaosnya yang kotor karena tanah merah. Maklum, sore setelah hujan itu, diam-diam ia ikut para sepupunya yang lebih besar bermain bola di halaman belakang yang becek. Di waktu lain, ia mengomel pada ibunya yang mengajaknya beranjak dari toko mainan untuk segera pulang.&lt;br /&gt;Dominasi perasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak-anak punya banyak keinginan. Biasanya si empat tahun berupaya keras mewujudkan keinginannya dengan berbagai cara, antara lain dengan memaksakan kehendak. Jika tak tercapai, ia mengomel. Padahal, sebagian besar keinginannya itu lebih didasarkan pada perasaan dan bukan kebutuhan diri yang sebenarnya,” jelas Ulrich Diekmeyer , psikolog perkembangan di Muenchen, Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi pada Dendi, mengomel, karena keasyikannya bermain bola terganggu oleh kegiatan lain yang tidak didasarkan pada keinginannya. Padahal, apa yang dilakukan orang lain untuknya adalah demi kebaikannya. Ini artinya, si empat tahun butuh banyak penjelasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap orang tua yang tak cukup memberi penjelasan, melainkan memarahi atau memberi sangsi, tentu saja kurang bermanfaat. Tindakan tersebut bahkan dapat membuat anak frustrasi sebab seolah ada informasi yang terlewatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diekmeyer mengingatkan para orang tua, “Melalui penjelasan, anak harus mengetahui dan menyadari bahwa perilakunya tidak baik. Tetapi jangan sampai menyebabkan anak merasa bersalah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Meredakan amarah si kecil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak situasi dalam keseharian yang menyebabkan anak kesal dan mengomel: mengganti pakaian karena kotor setelah bermain, tidak mau beranjak dari tempat bermain, makan sambil bermain dan sebagainya. “Dari sepuluh situasi keseharian, mestinya sembilan situasi di antaranya berjalan baik atau netral. Salah satu situasi memang mungkin saja memunculkan konflik,” ungkap Diekmeyer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan begitu, tak heran, ada saja konflik antara orang tua dan anak yang terjadi setiap hari. Jika lebih banyak situasi yang memicu amarah dibanding sebaliknya, ada baiknya Anda berkonsultasi pada psikolog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini beberapa situasi dan reaksi yang sebaiknya orang tua perlihatkan..Dengan pendekatan tertentu, diharapkan pemahaman si empat tahun berkembang, terutama berkenaan dengan pengendalian diri dan berperilaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Andi Maerzyda A. D. Th.(ayahbunda)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-7873520884796568831?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/7873520884796568831/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=7873520884796568831' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/7873520884796568831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/7873520884796568831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2010/01/si-4-tahun-kesal-dan-mengomel.html' title='Si 4 Tahun Kesal dan Mengomel'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-3571365956344269740</id><published>2009-12-28T07:13:00.000-08:00</published><updated>2009-12-28T07:13:00.299-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keracunan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='First Aid'/><title type='text'>Si Kecil Keracunan Makanan?</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak Perlu Panik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keracunan makanan yang tidak segera ditangani, bisa berakibat fatal. Apa yang perlu diperhatikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika anak keracunan makanan, jangan panik. Kalau Anda panik, kondisi anak malah bisa memburuk. Agar tidak salah bertindak, teliti dulu kondisi si kecil. Simak beberapa hal berikut yang sering jadi pertanyaan orang tua:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apa saja gejalanya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Kram perut&lt;br /&gt;* Demam&lt;br /&gt;* Muntah-muntah&lt;br /&gt;* Sering buang air besar yang bercampur darah, nanah, atau lendir.&lt;br /&gt;* Merasa lemas dan menggigil.&lt;br /&gt;* Kehilangan nafsu makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Muntah-muntah dan buang air besar bisa jadi masalah serius pada bayi atau balita, karena bisa menyebabkan dehidrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berapa lama gejala akan timbul?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala keracunan makanan dapat terlihat sekitar 4-24 jam setelah si kecil terkontaminasi makanan yang beracun. Gejala ini bisa berlangsung sekitar 3-4 hari. Tapi bisa jadi lebih lama lagi, jika anak yang keracunan tak sengaja masih mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Gejala akan lebih cepat terlihat pada anak kecil, karena tubuhnya lebih rentan. Misalnya, hanya 2 jam setelah ia mengonsumsi makanan yang terkontaminasi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tindakan pertama yang harus dilakukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jika ia muntah-muntah dan sering buang air besar, periksa suhu tubuhnya. Siapa tahu ia juga demam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Periksa juga tinjanya. Apakah ada lendir atau darah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Baringkan si kecil dan jangan beri makanan yang harus dikunyah dulu. Sebagai gantinya, berikan oralit sedikit demi sedikit. Jika Anda tidak punya oralit, beri saja air yang dicampur dengan garam dan gula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Coba telusuri lagi apa yang menyebabkan anak keracunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yang perlu jadi catatan penting&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jika si kecil menolak minum cairan apa pun, coba berikan melon untuk dihisap-hisap. Atau, berikan saja buah tersebut dalam bentuk es mambo. Dengan begitu, tubuhnya tidak akan kekurangan cairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Pada waktu pemulihan, berikan makanan yang mudah dicerna; seperti sup, yogurt atau jelly .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Efek diare akibat keracunan ini biasanya berlangsung sekitar seminggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kapan ke dokter?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jika ia muntah dan diare terus, sementara asupan cairan tidak bisa maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jika ia masih bisa dan mau minum, tetapi kondisinya tidak membaik dalam jangka waktu 12 jam. Ia masih saja diare dan demam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Jika dokter Anda tidak bisa segera menanganinya, cepat bawa si kecil ke UGD (Unit Gawat Darurat) rumah sakit terdekat. Bisa jadi, ia perlu diinfus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mungkinkah dicegah?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Biasakan anak memperhatikan kebersihan tangan , sebab keracunan makanan sangat menular. Ia juga harus selalu mencuci bersih tangannya sehabis buang air besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jika Anda yang mengurus ‘kotoran’ si kecil , Anda juga harus selalu mencuci tangan sampai bersih sehabis membersihkan tinjanya atau mengganti popoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Simpan makanan matang ke dalam kulkas . Kalaupun mau dihangatkan, pastikan panasnya merata. Karena, Salmonella (yang jadi ‘biang keladi’ keracunan makanan) biasanya ‘senang’ dan tumbuh subur di makanan yang hangat. Tapi, bakteri ini akan mati pada temperatur yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Masaklah makanan sampai benar-benar matang. Artinya, matangnya harus merata ke dalam bahan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Adakah kiatnya seputar memilih makanan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Ketika membeli makanan dalam kemasan , perhatikan kaleng atau tutupnya. Apakah masih mulus ataukah sudah terbuka? Apakah kalengnya agak menggelembung atau tidak? Jangan sekali-kali memilih makanan yang kemasannya cacat atau kalengnya menggelembung. Bisa jadi, makanan tersebut sudah terkontaminasi bakteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Belilah daging dan makanan hasil laut di tempat yang dapat dipertanggungjawabkan kebersihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jangan biarkan si kecil makan daging mentah. Daging yang sama sekali tidak diolah merupakan sasaran empuk bakteri penyebab keracunan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jangan berikan madu pada bayi di bawah usia 1 tahun. Dikhawatirkan, madu mengandung bakteri Clostridium botullinum yang dapat menyebabkan si kecil keracunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ini juga Perlu Diperhatikan!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika anak mengalami keracunan makanan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Letakkan baskom atau ember di dekat si kecil untuk wadah muntahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jika anak demam, kompres dahi atau ketiaknya dengan handuk basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Berikan air matang untuk kumur-kumur, serta air minum hangat untuk membersihkan bekas muntah dari mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Periksa kembali apa yang dimakan oleh si kecil selama 24 jam sebelum gejala keracunan ini muncul. Buang saja makanan, seperti daging, ikan, hasil olahan susu maupun makanan matang lainnya, yang diperkirakan jadi ‘biang keladi’ keracunan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-3571365956344269740?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/3571365956344269740/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=3571365956344269740' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/3571365956344269740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/3571365956344269740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/12/si-kecil-keracunan-makanan.html' title='Si Kecil Keracunan Makanan?'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-3348083702371131449</id><published>2009-12-20T06:22:00.000-08:00</published><updated>2009-12-20T06:22:00.198-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fungsi Otak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkembangan Anak'/><title type='text'>Kematangan Otak, dari Anak hingga Dewasa</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah fungsi otak untuk menganalisa dan memecahkan masalah baru sempurna saat seseorang menginjak dewasa? Studi terbaru menjawab dugaan para ahli yang selama ini keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini para ahli yakin bahwa “ledakan” tumbuh kembang otak terjadi di tahun-tahun pertama usia anak dan “menyurut” secara terus-menerus jika hubungan antar neuron (sel-sel saraf otak) tidak digunakan. Studi terbaru membuktikan bahwa dugaan tersebut keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga usia dewasa awal (19–40 tahun), kematangan otak manusia baru tercapai. Terutama, pada bagian korteks prefrontal, yang berfungsi sebagai pusat perencanaan ( planning ), mencari jalan keluar ( problem solving ), nalar, emosi, gerakan dan sebagian pusat bicara manusia. Itu artinya, masih ada banyak kesempatan yang mendukung tumbuh-kembang otak selama proses maturitas otak masih berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berkembang pararel dengan evolusi otak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi yang dilakukan oleh peneliti gabungan dari National Health of Mental Health (NIMH) dan University of California, Los Angeles (UCLA) ini dilaporkan secara online dan resmi pada tanggal 17 Mei 2004 lalu. Studi ini dilakukan terhadap 13 anak dan remaja yang sehat, selama 15 tahun. Responden berusia antara 4 sampai 21 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap anak di- scan dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI) setiap dua tahun sekali. Kerja korteks (bagian terbesar otak manusia) direkam dalam bentuk film tiga dimensi. Dalam rekaman, jaringan korteks otak yang sedang aktif bekerja berwarna abu-abu sehingga sering disebut sebagai “ gray matter ” (bagian abu-abu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekaman kerja otak menunjukkan bahwa bagian abu-abu menjadi matang dan semakin aktif di usia yang tahapan perkembangan ( milestone ) kognitif dan fungsionalnya juga semakin matang. Sebagaimana tumbuh kembang manusia, maka korteks menjadi matang sejalan dengan tahapan perkembangan. Artinya, “Urut-urutan maturasi otak umumnya terjadi secara paralel dengan evolusi otak mamalia,” jelas Nitin Gogtay dan rekan-rekan dari NIHM dan UCLA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Matang secara bertahap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi yang antara lain melibatkan Judith Rapoport dan Paul Thompson ini menemukan bahwa bagian otak yang pertama kali menjadi matang adalah bagian depan dan belakang, yang antara lain berfungsi memproses sensasi indrawi dan melakukan gerakan. Kemudian, diikuti oleh maturitas bagian otak yang berfungsi mengembangkan orientasi spasial dan bahasa. Sedangkan bagian otak dengan fungsi-fungsi yang lebih lanjut, seperti mengintegrasikan informasi dari berbagai indra, matang paling akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil studi ini sangat berarti bagi para ahli yang menangani gangguan fungsi dan tumbuh kembang otak, seperti autisme dan schizofrenia, yang juga diteliti Rapoport dan rekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, perspektif baru tumbuh kembang otak ini, menyebabkan ahli perkembangan, pendidikan dan neuroscience memiliki wawasan baru dan perlu membuat pendekatan berbeda dalam memandang perkembangan kecerdasan dan tumbuh kembang manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Andi Maerzyda A. D. Th. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-3348083702371131449?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/3348083702371131449/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=3348083702371131449' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/3348083702371131449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/3348083702371131449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/12/kematangan-otak-dari-anak-hingga-dewasa.html' title='Kematangan Otak, dari Anak hingga Dewasa'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-1712487096018489177</id><published>2009-12-15T09:03:00.000-08:00</published><updated>2009-12-15T09:03:00.283-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang tua harus perhatikan ini...'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fungsi Otak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkembangan Anak'/><title type='text'>Berlatih atasi masalah</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil bermain anak belajar mengatasi problem yang menghadang. Prosesnya spontan dan bebas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bari senang bermain pura-pura. Dia gunakan apa saja untuk bermain. Misalnya, selimut untuk mendirikan tenda atau menunggangi sapu sebagai pengganti kuda. Bermain pura-pura memberi kesempatan pada Bari untuk berlatih memecahkan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tanpa takut salah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui bermain, secara spontan anak belajar cara-cara memecahkan masalah. Karena, ketika bermain anak bebas bereksperimen, mengimajinasikan berbagai perilaku alternatif yang dibutuhkan untuk mengatasi persoalan, tanpa takut salah atau dinilai salah oleh orang dewasa. Bermain juga mendorong Anak bebas mengimajinasikan berbagai aksi berbeda berikut konsekuensinya, lalu memilih yang dirasanya tepat melalui simulasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Bari yang tanpa takut salah, ketika menyiapkan alat-alat permainan. Jika gagal? Gampang saja… Bari mencoba alternatif lain hingga ia mendapatkan cara paling tepat. Jika ditanya atau dikritik, paling-paling ia berkata dengan ringan dan tanpa beban, " Bari ‘ kan sedang main!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan anak mengobservasi lingkungan menjadi nilai tambah si kecil untuk meningkatkan kebisaannya menyelesaikan masalah. Di samping itu, anak pun mengetahui variasi permainan dan kesempatan seluas-luasnya untuk bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mampu mengatasi masalah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini berbagai permainan yang dapat meningkatkan kemampuan si kecil memecahkan masalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Puzzle&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan puzzle, yang membutuhkan cara memecahkan masalah secara coba-salah, merupakan salah satu permainan yang terbukti dapat membantu anak meningkatkan kemampuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Bermain peran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bemain peran, seperti dilakukan Bari , membantu meningkatkan kreativitas anak dalam memecahkan masalah melalui berbagai cara yang bebas dilakukan dalam permainan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Balok atau lego&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terlalu berbeda dengan puzzle , bermain balok atau lego meningkatkan kreativitas si kecil memecahkan masalah ketika ia berupaya membangun sesuatu menggunakan mainan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Games&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai games seperti bermain kartu, domino atau monopoli merupakan permainan yang mengajarkan anak strategi memecahkan masalah ketika bermain untuk memenangkan permainan. Tentu saja si kecil butuh waktu menguasai permainan jenis ini sebelum ia benar-benar mahir berstrategi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu ada permainan-permainan lain yang dapat membantu anak meningkatkan kemampuannya memecahkan masalah. Orang tua diharapkan kreatif mengolah permainan yang menarik bagi anak, dan membebaskan si kecil bereksperimen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Esthi Nimita Lubis &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-1712487096018489177?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/1712487096018489177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=1712487096018489177' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/1712487096018489177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/1712487096018489177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/12/berlatih-atasi-masalah.html' title='Berlatih atasi masalah'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-2941494440872333879</id><published>2009-12-10T19:14:00.000-08:00</published><updated>2009-12-10T19:14:00.667-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang tua harus perhatikan ini...'/><title type='text'>Waspada Pengaruh Negatif dari Teman Anak Anda</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;       &lt;p&gt;Mungkin anda pernah mendengar atau mengalami kenakalan anak yang diakibatkan salah dalam memilih teman. Anak anda mungkin berpendapat bahwa temannya biasa-biasa saja dan tidak mengganggu dirinya. Memang anak yang tidak mau mengikuti aturan atau senang menyakiti perasaan teman lainnya, sering kali di permasalahkan oleh orang tua temannya. Terkadang orang tua langsung melarang atau bahkan mendiamkannya dengan harapan anaknya akan baik-baik saja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saat anak duduk di bangku sekolah dasar, mereka sudah mempunyai kesukaan yang pasti dan ingin bermain serta bersahabat dengan semua anak. Dari segi perkembangan, anak akan memilih mana yang sebenarnya temannya. Jika anda tidak suka karena cara berpakaiannya, prilakunya atau karena latar belakang orang tuanya, sebaiknya diamkan saja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan begitu emosional dapat berkembang dan memiliki teman yang berbeda-beda dilihat dari lingkungannya. Tapi jika persahabatan tersebut membahayakan anak, maka orang tua harus mencari jalan untuk ikut campur. Hal tersebut dapat anda lihat dengan memperhatikan prilakunya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bila anak tampak tidak bahagia sesudah bermain dengan anak tersebut, maka anda patut mencurigainya. Karena pada umumnya anak akan bersemangat dan gembira sesudah bermain dengan temannya, bukan jadi murung dan sedih.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Anak usia sekolah dasar sering meniru gaya anak lain, tetapi jika kepribadian si kecil mendadak menjadi berubah sebaiknya pelajari apa penyebabnya. Jadi jika anak yang biasanya penurut atau kooperatif mendadak berubah menjadi provokatif, kemungkinan si kecil mendapat pengaruh negatif dari temannya. Jika anak yang biasanya rajin jadi mendadak tidak mau mengerjakan PR atau memperhatikan tugas sekolah, kemungkinan itu disebabkan anak menerapkan sisi negatif dari temannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Katakan dengan jujur kalau anda memang merasa hubungan anak dan temannya itu berbahaya dan jelaskan alasannya. Tapi untuk anak berusia di atas 8-9 tahun, melarangnya berteman bisa menjadi bumerang bagi anda. Karena mereka memiliki sejumlah kebebasan. Meskipun anda melarang persahabatan tersebut, mereka mungkin masih duduk bersebelahan di kelasnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Siasatilah dengan mengundangnya untuk datang ke rumah, sehingga anda bisa mengatur dan mengawasinya. Buatlah rumah anda menjadi tempat yang menyenangkan sehingga anak senang main ke rumah anda. Tegaskan bahwa di rumah anda, si teman harus mematuhi aturan-aturan tertentu. Puji mereka jika mematuhi peraturan, sehingga anda dapat melatih anak mempunyai sisi positif dan dapat mempengaruhi anak lainnya ketimbang si kecil dipengaruhi negatif.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika mereka menemui teman baru yang mempunyai minat atau kesenangan yang sama dengannya, pandangan hidup yang sama, maka akan mengalahkan persahabatan lama. Jika diberi pilihan, kebanyakan anak akan memilih untuk tidak meneruskan persahabatan yang merusak. Anak akan merasakan dengan sendirinya, sehingga dia akan memilih teman mana yang lebih menyenangkan untuk bermain dan belajar. [&lt;em&gt;perempuan&lt;/em&gt;]&lt;/p&gt;        &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-2941494440872333879?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/2941494440872333879/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=2941494440872333879' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/2941494440872333879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/2941494440872333879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/12/waspada-pengaruh-negatif-dari-teman.html' title='Waspada Pengaruh Negatif dari Teman Anak Anda'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-5811462776258033961</id><published>2009-12-05T08:00:00.000-08:00</published><updated>2009-12-05T08:00:03.294-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Virus - Bakteri - Penyakit'/><title type='text'>Jangan Biarkan Si Kecil Selesma</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balita sering jadi sasaran selesma. Jangan abaikan penyakit ini karena bisa “mengundang” penyakit lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggapan bahwa demam dan pilek adalah penyakit tersendiri memang benar-benar keliru. Sebab, keduanya jadi bagian dari gejala selesma ( common cold/coryza ). Yang pasti, balita sering jadi sasaran empuk penyakit ini. Maklumlah, daya tahan tubuhnya terhitung rentan, sehingga ia gampang tertular penderita selesma di sekitarnya. Bahkan, dalam setahun ia bisa kena selesma sampai 6-9 kali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Virus, si biang keladi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biang keladi dari selesma adalah berbagai virus. Salah satu di antaranya, virus influensa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau sering dianggap ringan, WHO atau Badan Kesehatan Dunia melaporkan, penyakit ini sudah beberapa kali menimbulkan epidemi. Misalnya, flu Hongkong, flu Spanish, dan yang paling terakhir adalah flu burung. Bukan apa-apa. Beberapa penderita dari epidemi flu ini bisa berujung dengan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ini dia gejalanya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, selesma ditandai dengan berbagai gejala, yakni:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pilek.&lt;br /&gt;- Batuk.&lt;br /&gt;- Demam.&lt;br /&gt;- Letih-lesu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa sih , si kecil bisa sampai pilek? Saat virus masuk ke dalam tubuhnya, timbul respons dari sistem kekebalan tubuh berupa pembengkakan dan peradangan pada membran hidung. Nah, virus tersebut akan merusak sel-sel lendir dan fungsi normal dari hidung. Produksi lendir pun meningkat. Tak heran kalau si kecil jadi pilek dan bersin-bersin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, batuk terjadi akibat virus yang menyerang tenggorokan menyebabkan sel-sel lendir memperbanyak diri dan dindingnya menebal. Tenggorokan pun gatal, dan merangsang batuk. Jika si kecil bersin atau batuk, virus ini akan “meloncat” keluar dan menulari orang di dekatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan demam? Demam itu sendiri adalah reaksi tubuh si kecil saat melawan infeksi. Sementara itu, letih-lesu terjadi karena anak yang sedang sakit merasa badannya tidak enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu Anda tahu, masa inkubasi selesma, yakni mulai dari masuknya virus sampai timbulnya gejala penyakit, rata-rata 2 hari dengan rentang jarak waktu antara 1-4 hari. Setelah itu, barulah timbul berbagai gejala selesma, yang akan bertahan selama 3-7 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jangan pernah sepelekan!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski dianggap sebagai penyakit ringan, jangan sekali-kali sepelekan selesma. Apalagi, Anda sampai membiarkan si kecil terus menerus didera berbagai gejala selesma. Bukan apa-apa. Virus yang tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan infeksi sekunder. Ini memang perkembangan dari selesma itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, virus dapat merembet ke organ lain, seperti paru-paru. Akibatnya, si kecil terkena radang paru ( pneumonia ). Gejalanya, demam tinggi (± 38°C) dan sukar bernapas (terdengar bunyi seperti mengorok). Asal tahu saja, data Dinas Kesehatan RI menyebutkan, tiap tahunnya, dari 1000 balita yang lahir hidup, terdapat 5 kematian akibat radang paru-paru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penting diingat, bila menyerang otak, virus dapat menyebabkan radang selaput otak alias meningitis. Gejala-gejalanya adalah demam, muntah-muntah, lelah, dan kaku pada anggota gerak (kaki dan tangan). Bahayanya, radang selaput otak berisiko pada kematian si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Istirahat , ya nak!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya, penyakit yang disebabkan oleh virus akan sembuh dengan sendirinya. Meski begitu, Anda tetap tidak boleh menganggap remeh selesma yang diderita balita. Nah, agar virus enyah dari tubuh si kecil, lakukan cara di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Biarkan si kecil banyak beristirahat dan benar-benar mengurangi aktivitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Beri banyak cairan, seperti jus buah dan air hangat. Minum air hangat akan membuat lendir mudah dikeluarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Terus memberinya makanan bergizi. Dengan begitu, tubuh si kecil membentuk antibodi sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Obat mengurangi gejala&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesma memang tidak dapat disembuhkan dengan obat-obatan apapun yang beredar di pasaran. Meski begitu, mengurangi gejalanya bisa saja dilakukan asal Anda memberinya obat yang tepat. Tentu saja, pemberian aneka obat-obatan ini tidak bisa sembarang dan harus sesuai petunjuk dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kalau masih bayi, si kecil cukup diberi parasetamol saja. Dengan begitu, panasnya bisa turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jika anak sudah agak besar, Anda bisa berikan parasetamol untuk menurunkan panas dan efedrin, misalnya, untuk mengurangi pilek. Bagaimana dengan batuknya? Bisa dikurangi dengan obat batuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Laila Andaryani Hadis(ayahbunda)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-5811462776258033961?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/5811462776258033961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=5811462776258033961' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/5811462776258033961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/5811462776258033961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/12/jangan-biarkan-si-kecil-selesma.html' title='Jangan Biarkan Si Kecil Selesma'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-199662689965874848</id><published>2009-12-01T20:04:00.000-08:00</published><updated>2009-12-01T20:04:00.714-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi anak'/><title type='text'>Keluarga  Tag : Anak, keluarga, Sulung Beban Anak Sulung</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;       &lt;p&gt;Anak sulung biasanya menikmati posisi istimewa dalam keluarga. Boleh dibilang, ia memiliki segalanya, status sebagai yang tertua, perhatian dan kasih sayang penuh dari orang tua, serta memperoleh pengalaman-pengalaman mengasyikkan yang mungkin tidak dinikmati adik-adiknya. Namun ada kalanya posisi sebagai sulung, membuat seorang anak memiliki beban mental yang berat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://www.ruangkeluarga.com/files/sysfiles/2008/08/anak-diam.jpg"&gt;&lt;img class="alignleft alignnone size-medium wp-image-357" style="float: left;" title="anak-pendiam" src="http://www.ruangkeluarga.com/files/sysfiles/2008/08/anak-diam.jpg" alt="Anak yang merasa kurang menikmati masa anak-anak" width="155" height="155" /&gt;&lt;/a&gt;Banyak orang tua terlalu memberikan banyak beban pada anak sulungnya. Mulai dari penanaman kedisiplinan, norma-norma tertentu, hingga soal tanggung jawab terhadap adik-adiknya. Pemberian beban yang berlebihan ini tidak sedikit yang menimbulkan beban psikologis pada anak sulung. Terlebih bila mereka tidak bisa mewujudkan harapan orangtuanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di antara anak dalam suatu keluarga, anak sulung memang menempati posisi yang istimewa. Kelahirannya biasanya sangat ditunggu-tunggu oleh kedua orang tuanya. Juga oleh kakek neneknya, apalagi kalau ia merupakan cucu pertama dalam keluarga. Ia bisa memiliki segalanya, mulai dari status anak sulung, perhatian serta kasih sayang penuh dari orangtua  dan orang sekitarnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hubungan anak sulung dengan orang tuanya sangat istimewa dan unik, penuh dengan keajaiban, kesenangan, kecemasan serta perasaan yang begitu kompleks. Dalam beberapa hal orang tua belajar untuk mengatasi persoalan anak bersamaan dengan pertumbuhan anak sulungnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sikap orang tua terhadap anak sulung mulai berubah ketika adiknya lahir. Sedikit banyak perhatian mereka mulai beralih ke bayi yang baru lahir. Perubahan in tentu kurang menyenangkan bagi anak sulung yang selama in menikmati hak-hak istimewanya. Karena itu tidak sedikit anak sulung yang bersikap ‘benci’ setengah mati pada adiknya yang dianggap telah merebut perhatian orang tua mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Untuk mengatasi hal tersebut, orang tua harus jauh-jauh hari mempersiapkan mental anak untuk menghadapi kelahiran adiknya. Berkurangnya perhatian dan sikap orang tua yang mulai berubah, serta banyak tuntutan untuk si sulung. Hal tersebut dilakukan semata-mata hanya untuk memberi contoh yang baik kepada adik-adiknya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hal ini jelas menimbulkan beban psikologis tersendiri pada sang anak. Semoga saja sulung anda dapat memenuhi semua harapan orang tua. Tetapi jangan kecewa bilang anak tidak berhasil, karena anak pun akan merasa bersalah. Keadaan seperti itu membuat anak sulung memiliki sifat lebih serius, disiplin dan bekerja keras daripada adiknya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada baiknya anda tetap perhatikan minat dan bakatnya, lalu arahkan dengan baik. Mudah-mudahan sulung anda juga menjadi yang terbaik di bidangnya. [&lt;em&gt;perempuan&lt;/em&gt;]&lt;/p&gt;        &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-199662689965874848?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/199662689965874848/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=199662689965874848' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/199662689965874848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/199662689965874848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/12/keluarga-tag-anak-keluarga-sulung-beban.html' title='Keluarga  Tag : Anak, keluarga, Sulung Beban Anak Sulung'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-2800972128804828654</id><published>2009-11-28T07:16:00.000-08:00</published><updated>2009-11-28T07:16:00.060-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang tua harus perhatikan ini...'/><title type='text'>Sunat, Perlu atau Tidak sih?</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya, sunat hanya dikenal di kalangan umat beragama Islam dan Yahudi. Adakah manfaat lain, disamping sekadar sebagai ritual agama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam agama Islam, sunat (disebut juga khitan atau sirkumsisi) merupakan kebiasaan yang merupakan kelanjutan dari millah atau ajaran Nabi Ibrahim a.s. Kala itu, Nabi Ibrahim a.s. (80 tahun) disunat dengan alat yang disebut qadum . Sebenarnya, kapan usia yang tepat untuk disunat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tak dibatasi usia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, tujuan utama dari bersunat adalah membersihkan diri dari berbagai kotoran serta penyebab penyakit yang mungkin melekat pada ujung penis atau zakar yang masih ada kulupnya. Ketika bersunat, kulup yang menutupi jalan ke luar urin dibuang, sehingga kemungkinan kotoran untuk menempel atau berkumpul di ujung penis jadi lebih kecil. Ini karena penis lebih mudah dibersihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, sunat dapat menghindari timbulnya berbagai penyakit. Misalnya, fimosis, parafimosis, kandidiasis, serta tumor ganas dan pra ganas pada daerah alat kelamin laki-laki. Dan, terbukti pula, penis laki-laki yang disunat lebih higienis. Jadi, di masa tuanya kelak, ia jadi lebih mudah merawatnya. Dan, yang paling menarik, selain jadi lebih sensitif, tidak mudah lecet dan terkena iritasi, bersunat juga punya pengaruh terhadap kehidupan seksual laki-laki. Ia akan terhindar dari ejakulasi dini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski ada seabrek manfaat sunat bagi kesehatan, para ahli di American Academy of Pediatric sejak tahun 1975 menyatakan, secara medis, tidak ada keharusan bagi bayi laki-laki yang baru lahir untuk bersunat, kecuali bila ada indikasi khusus. Misalnya, ia menderita fimosis . Begitu juga, jika bayi atau si kecil yang berusia di bawah lima tahun menderita infeksi saluran kemih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai catatan, kelainan pada kulup penis, khususnya fimosis, biasanya dialami oleh satu dari 20 bayi laki-laki. Makanya, ia sudah bisa disunat sebelum usia dua bulan. Namun, dalam tradisi agama Islam disebutkan, anak laki-laki yang sehat harus disunat begitu menginjak usia akil balik, yakni setelah mimpi basah. Umumnya, ini terjadi ketika ia berusia lebih dari 10 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mau cara apa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam dunia kedokteran, inilah langkah yang dilakukan ketika menyunat si kecil, yakni:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Mengiris kulit di bagian punggung penis (dorsumsisi). Ini dilakukan untuk mengeluarkan ujung bagian dalam penis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Mengiris kulit kulup yang mengelilingi penis (sirkumsisi). Dengan begitu, penis jadi terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dokter akan menjahit luka irisan tersebut agar penyembuhannya berlangsung cepat dan tidak timbul komplikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain cara klasik di atas, masih ada banyak cara untuk menyunat si kecil. Di antaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Cara kuno&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara bersunat tradisional dengan menggunakan sebilah bambu tajam. Para bong supit alias mantri sunat langsung memotong kulup dengan bambu tajam tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Cara ini mengandung risiko berupa terjadinya perdarahan dan infeksi, bila tidak dilakukan dengan steril.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Metode cincin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicetuskan oleh dr. Sofin, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, Yogyakarta , dan sudah dipatenkan sejak tahun 2001. Pada metode ini, ujung kulup dilebarkan, lalu ditahan agar tetap meregang dengan cara memasang semacam cincin dari karet. Biasanya, ujung kulup akan menghitam dan terlepas dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Proses sunat itu sendiri cukup singkat, sekitar 3-5 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Metode mangkuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih cocok dilakukan untuk balita atau anak yang memiliki pembuluh darah pada kulup lebih kecil dari ukuran normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Bila terjadi perdarahan, luka bekas kulup yang dipotong akan dijahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Metode lonceng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, tidak dilakukan pemotongan kulup. Ujung penis hanya diikat erat sehingga bentuknya mirip lonceng. Setelah itu, jaringan akan mati dan terlepas dengan sendirinya dari jaringan sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Metode ini membutuhkan waktu yang cukup lama, sekitar dua minggu. Alatnya diproduksi di beberapa negara Eropa, Amerika, dan Asia dengan nama Circumcision Cord Device.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dengan laser CO2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan metode sunat paling canggih yang berhasil dikembangkan hingga saat ini. (Untuk jelasnya, lihat boks “Laser CO2, Teknologi Tercanggih Sunat”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun cara yang Anda pilih, baik atau buruknya hasil ditentukan oleh kemahiran si pelaku dalam menggunakan alat atau metode tersebut. Jadi, banyak-banyaklah mencari info seputar hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sri Lestariningsih(ayahbunda)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-2800972128804828654?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/2800972128804828654/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=2800972128804828654' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/2800972128804828654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/2800972128804828654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/11/sunat-perlu-atau-tidak-sih.html' title='Sunat, Perlu atau Tidak sih?'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-99288263973568253</id><published>2009-11-28T07:15:00.000-08:00</published><updated>2009-11-28T07:15:00.263-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aktifitas Anak'/><title type='text'>Pulang Berlibur dan si Kecil Tetap Sehat !</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai berlibur, si kecil malah jatuh sakit? Wah, capeknya jadi berlipat ganda. Tapi, selalu ada cara untuk mencegahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liburan keluarga yang sudah jauh-jauh hari Anda persiapkan itu bisa jadi berakhir dengan sesuatu yang tak menyenangkan. Sesampai di rumah si kecil sakit misalnya. Kalau ini terjadi, bukan tak mungkin indahnya liburan itu jadi porak poranda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liburan memang dimaksudkan untuk refreshing bagi seluruh keluarga. Tapi tak bisa dipungkiri rasa excitement Anda bisa membuat Anda lalai akan hal-hal kecil yang bisa mendatangkan kerepotan bahkan ‘bencana’ di saat libur atau setelah kembali ke rumah. Untuk menghindari hal itu ada sejumlah hal yang perlu Anda lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cermat dalam persiapan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pergi sebaiknya Anda sudah mulai ancang-ancang dengan cara memperkokoh daya tahan si kecil. Jangan sampai ia jatuh sakit sebelum berlibur . Anda tak ingin rencana Anda batal bukan? Perhatikanlah hal-hal kecil seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Beri gizi ekstra . Mungkin makanan sehari-hari si kecil sudah cukup bergizi. Tapi ada baiknya sekitar 2 minggu sebelum berangkat, Anda memberinya gizi ekstra. Misalnya tambahkan porsi buah atau jusnya, perbanyak hidangan berprotein tinggi. Beri camilan yang mutu gizinya baik, seperti puding atau roti isi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jika perlu, minum vitamin. Jangan lalai untuk memberinya vitamin secara teratur setiap hari sbelum pergi berlibur. Jika perlu konsultasikan dengan dokter anak Anda vitamin apa yang sebaiknya diberikan untuk kondisi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Istirahat yang cukup . Perhatikan lagi jadwal istirahatnya. Meski ia tetap perlu aktif, tapi hindari kegiatan yang terlalu menguras tenaga seperti berlari-lari atau main sepeda berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Empat ‘momok’ yang mengintai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat libur biasanya anak-anak pergi kesana kemari dan melakukan banyak kegiatan. Apalagi bila Anda berlibur bersama keluarga besar dimana si kecil memiliki banyak saudara sebaya. Belum lagi adanya perbedaan lingkungan dan kebiasaan antara rumah dengan tempat berlibur. Misalnya anak yang jarang melakukan aktivitas outdoor , jadi keasyikan bermain dan mengeksplor lingkungan saat liburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi tak mengherankan bila ada beberapa gangguan yang lazim ‘menyertai’ anak-anak saat pulang berlibur. A da 4 penyakit yang banyak menyerang anak-anak pasca libur yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Gangguan saluran pernapasan, seperti batuk-pilek dan asma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kareana anak terlalu lama terpapar angin dan udara dingin. Bagi yang berbakat asma, udara dingin bisa mencetuskan asma. Di dataran tinggi yang bersuhu dingin atau daerah yang berangin sebaiknya si kecil dipakaikan baju hangat atau jaket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sunburn atau kulit terbakar sinar matahari. Terlalu lama terpapar sinar matahari. Misalnya di pantai atau di kolam renang. Untuk mencegahnya, oleskan tabir surya di bagian tubuh yang tidak tertutup pakaian sebelum melakukan kegiatan outdoor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Diare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkontaminasi bakteri akibat mengonsumsi makanan yang tidak atau kurang higienis. Jangan jajan sembarangan dan makanlah secara teratur. Jika ingin jajan, pergilah ke rumah makan yang sanitasinya terjamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Gigitan serangga. Gigitan serangga bisa menimbulkan peradangan di kulit seperti merah-merah dan bentol-bentol. Oleskan cairan penangkal gigitan serangga ( insect repellant ) jika pergi ke daerah panas atau tempat yang rimbun penuh pepohonan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memperkecil risiko&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar daya tahan tubuh si kecil tetap kuat dan pulang tetap sehat wal afiat, perhatikanlah tiga hal ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Makan teratur. Usahakan tetap menerapkan kebiasan makan yang Anda lakukan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Perhatikan apakah makanan-makanan yang dikonsumsi Anda sekeluarga terjaga kebersihannya. Bekal siap jadi yang dibawa dari rumah akan sangat membantu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Biasakan si kecil banyak minum air putih atau jus buah (agar tidak dehidrasi) serta makan makanan berserat (biar tidak sembelit).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Dalam aneka kegiatan liburan yang mengasyikkan tetaplah upayakan anak untuk beristirahat. Jangan biarkan ia keasyikan bermain dan lupa tidur siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Cuci tangan sebelum makan. Jika tidak ada air bersih, siapkan saja hand sanitizer (gel atau cairan disinfektan pembersih tangan) yang sekarang ini banyak dijual di pasaran.(ayahbunda)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-99288263973568253?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/99288263973568253/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=99288263973568253' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/99288263973568253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/99288263973568253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/11/pulang-berlibur-dan-si-kecil-tetap.html' title='Pulang Berlibur dan si Kecil Tetap Sehat !'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-8588628561632712285</id><published>2009-11-20T06:23:00.000-08:00</published><updated>2009-11-20T06:23:00.166-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Virus - Bakteri - Penyakit'/><title type='text'>Bila Tenggorokan Meradang</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit ini kerap menyerang anak-anak. Dan ternyata, virus serta bakteri sama-sama jadi penyebabnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah si kecil Anda sudah pernah terkena radang tenggorokan? Asal tahu saja, walau virus dan bakteri menimbulkan penyakit yang sama, gejala yang muncul berbeda, lho!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Antara virus dan bakteri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai biang keladi radang tenggorokan, ternyata virus dan bakteri punya satu kesamaan. Keduanya sama-sama menyebabkan suhu badan si kecil meningkat, sampai lebih dari 38 ° C. Meski begitu, gejala-gejala yang menyertainya sangat berbeda (lihat boks “Gejala yang Berbeda”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, anak yang terlalu kecil biasanya belum bisa mengatakan apa yang dirasakannya. Jadi, kitalah yang harus memperhatikan apakah ia mengalami kesulitan dalam menelan makanan atau tidak. Dari sini, gejala-gejala lain umumnya akan ikut menyertai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ram Yogev, MD, dari Children’s Memorial Hospital, Chicago, Amerika Serikat, setiap tahunnya, jutaan anak mengunjungi dokter karena radang tenggorokan. Mayoritas radang tenggorokan terjadi akibat virus, bukan bakteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai catatan , penanganan radang tenggorokan akibat bakteri tetap harus dilakukan sesegera mungkin untuk mencegah terjadinya komplikasi, yakni gangguan di bagian tubuh lain. Misalnya, di ginjal (nefritis), jantung (penyakit jantung rematik), dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal tahu saja, bakteri yang jadi biang keladi radang tenggorokan, yakni Streptococcus grup A, biasanya tidak menyerang anak di bawah usia 3 tahun. Ini antara lain karena risiko mereka untuk terinfeksi bakteri lebih kecil ketimbang anak yang sudah sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Harus segera ditangani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanganan radang tenggorokan yang disebabkan virus dan bakteri memang agak beda. Kalau biang keladinya bakteri, biasanya si kecil dapat diobati dengan antibiotik jenis penisilin. Namun, bila ia alergi penisilin, dokter akan memberikan obat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, bila penyebabnya adalah virus, si kecil akan sembuh dengan sendirinya. Ini karena daya tahan tubuhnya secara bertahap meningkat lagi. Makanya, anak harus cukup istirahat, minum banyak cairan, serta mengonsumsi makanan bergizi. Cuma, kalau ia terlihat agak mual karena terlalu banyak minum air putih, ganti saja dengan jus buah. Juga, kalau si kecil masih sulit menelan, berikan makanan yang agak lembut. Dalam kondisi ini, obat hanya diperlukan jika anak mengalami demam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lagi, bila sakit tenggorokan sudah berlangsung lebih dari 5 hari dan makin memburuk, atau muncul gejala lain (ruam di perut, dada, dan tangan, serta kaki berwarna merah dengan permukaan kasar), segera bawa anak ke dokter. Gejala tersebut menunjukkan anak menderita Scarlet’s fever. Bakteri Streptococcus memang dapat pula menyebabkan Scarlet’s fever pada sebagian anak. Walau begitu, gangguan ini tidak umum terjadi pada bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bisa dicegah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Radang tenggorokan dapat ditularkan oleh penderita ke orang lain. Bila Anda sedang radang tenggorokan, misalnya, cegah jangan sampai menulari anggota keluarga lain, termasuk pula si kecil. Caranya, pakailah masker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga, sering-sering mencuci tangan, terutama sebelum memegang peralatan makan anak. Menjaga kebersihan memang merupakan cara ampuh memotong tali penularan penyakit ini. Selain itu, tingkatkan daya tahan tubuh sehingga baik si kecil maupun kita tidak mudah tertular.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Laila Andaryani Hadis (ayahbunda)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-8588628561632712285?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/8588628561632712285/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=8588628561632712285' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/8588628561632712285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/8588628561632712285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/11/bila-tenggorokan-meradang.html' title='Bila Tenggorokan Meradang'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-2625321796542299377</id><published>2009-11-15T09:02:00.000-08:00</published><updated>2009-11-15T09:02:00.520-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aktifitas Anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mandi'/><title type='text'>Mainan Teman Mandi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara mandi jadi seru kalau dilakukan sambil bermain. Apalagi kalau mainannya oke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si kecil tak mau mandi? Pasti dia belum tahu betapa asyiknya mandi sambil bermain. Luangkan waktu dan ajak si kecil mandi sambil sedikit bermain-main. Tak perlu takut basah.&lt;br /&gt;Mandi, bermain dan belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneka mainan bisa menjadi penarik minat si kecil untuk nyemplung ke dalam air. Ia tak sulit lagi diajak membersihkan diri jika boleh mengajak bebek karet maupun mobil plastiknya berbasah-basah ria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermacan kegiatan bermain sambil belajar bisa Anda lakukan bersama anak di dalam bak mandinya. Anda bisa mengajaknya membaca buku plastik untuk mengenalkan warna dan bentuk. Bunyi pun dapat diperdengarkan melalui mainan bebek karet yang mengeluarkan bunyi. Buah hati Anda pasti kegirangan!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anak tiba-tiba enggan masuk bak mandinya, Anda bisa ‘memancing’ menggunakan shower yang ditempeli mainan. Anda ingin mandi bersamanya? Tak jadi soal, siapkan saja kolam plastik berisi air cukup hangat dan temani keasyikan si kecil mandi dan bermain air. Bola-bola plastik kecil bisa ikut bergabung dalam kolam, sehingga anak semakin senang dan tertawa-tawa riang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mandi gembira&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mainan yang Anda beli di toko, alat-alat mandi seperti botol sampo atau waslap bisa digunakan sebagai mainan. Jadikanlah sabun sebagai sosok yang bercerita pada sampo tentang perlunya mandi agar tubuh bersih, dengan intonasi yang menarik hati anak. Si kecil dijamin akan terpesona melihat ‘pertunjukan’ sabun dan sampo itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, wadah air dari karet atau plastik yang bisa dituang atau disemprotkan merupakan pilihan tepat saat Anda mengeramasi rambutnya. Dengan menggunakan mainan ini, Anda bisa menyemprotkan air atau menuangkan air ke rambut si kecil saat akan membersihkan rambutnya dari sampo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain waktu, Anda bisa bermain sebagai hair stylist menggunakan sampo, waslap dan sisir. Biarkan si kecil membuka tutup sampo dan menuangkan ke tangannya, tentu dengan bantuan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bawalah tangan mungilnya ke kepala kecilnya yang lantas Anda gosok-gosok hingga berbusa. Dengan bantuan cermin yang Anda pegang, ia bisa melihat kepalanya berbusa karena sampo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berganti-ganti permainan membuat si kecil tak bosan dan semakin menikmati acara mandinya. Dengan mencoba-coba bermacam mainan dan permainan saat mandi, jangan takut ia enggan mandi lagi. Namun perlu pula Anda menyiapkan strategi tepat mengangkat si kecil bila ia tampak ingin berlama-lama di bak mandinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Eleonora Bergita &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-2625321796542299377?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/2625321796542299377/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=2625321796542299377' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/2625321796542299377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/2625321796542299377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/11/mainan-teman-mandi.html' title='Mainan Teman Mandi'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-8888208306085279417</id><published>2009-11-10T19:19:00.000-08:00</published><updated>2009-11-10T19:19:00.160-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebiasaan buruk'/><title type='text'>Menghentikan Kebiasaan Ngompol Anak</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;       &lt;p&gt;Semua orang tua yang mempunyai anak usia 3 tahun pasti selalu mengharapkan anaknya bisa menghentikan ompolannya. Mengompol memang menjadi persoalan sendiri bagi sebagian besar orangtua, karena membuat orangtua harus bekerja ekstra untuk mengganti alas kasur dan pakaian anak. Bekas ompol yang ada di kasur pun menimbulkan aroma yang kurang sedap. Saat akan melakukan perjalanan jauh, anda harus mempersiapkan popok dan baju yang cukup banyak sehingga merepotkan sekali.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kebiasaan ngompol yang terjadi pada anak usia 3 tahun masih tergolong wajar. Mereka membutuhkan proses pembelajaran untuk menjadi terbiasa buang air kecil secara rutin. Ada beberapa cara yang dapat disarankan agar anak dapat segera berhenti mengompol dan anda sebagai orang tua sangat berperan penting. Yang harus anda lakukan adalah mulai mengenali kebiasaan atau pola mengompolnya baik pada malam hari atau siang hari saat bermain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perhatikan saat anak sedang tertidur, biasanya setelah anak minum cenderung mengompol. Buatlah catatan khusus saat anak akan mengompol, sehingga anda dapat mempola anak dengan membiasakan buang air kecil sebelum waktunya. Lakukanlah terus dalam waktu sebulan, anak akan terbiasa dengan hal tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam proses membiasakan tersebut, sebaiknya hindari anak tidak merasa tertekan. Karena jika anak merasa tertekan, bisa menghambat proses belajar tidak ngompol. Jika dengan cara seperti itu anak masih ngompol, sebaiknya anda periksakan ke dokter karena kemungkinan ada gangguan biologis dalam diri anak. [&lt;em&gt;perempuan&lt;/em&gt;]&lt;/p&gt;        &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-8888208306085279417?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/8888208306085279417/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=8888208306085279417' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/8888208306085279417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/8888208306085279417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2008/10/menghentikan-kebiasaan-ngompol-anak.html' title='Menghentikan Kebiasaan Ngompol Anak'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-2790523074783796714</id><published>2009-11-05T08:02:00.000-08:00</published><updated>2009-11-05T08:02:00.801-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Infeksi'/><title type='text'>TB Masih Mengancam Balita</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sudah ada obatnya, jumlah penderita TB anak di Indonesia ternyata tak kunjung turun. Tak ada salahnya berhati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa sih yang tak kenal penyakit Tuberkulosis atau TB? Apalagi, penyakit infeksi ini tidak pilih-pilih mangsa. Kaya atau miskin sama saja. Bukan tak mungkin, si kecil juga bisa jadi sasaran empuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gara-gara orang dewasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, balita akan tertular TB, jika ada penderita TB dewasa di sekitarnya. Ini bisa berarti ayah, ibu, kakek, nenek, pengasuh, supir, saudara, atau orang dewasa lain. Ya, penularan TB memang melalui udara. Ketika batuk, maka penderita TB akan menebarkan kuman. Nah, kuman ini terhirup oleh si kecil, lalu melewati saluran napas dan paru-parunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dr. Bambang Supriyatno, Sp.AK , Ketua UKK Pulmonologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, “Berdasarkan teori, kalau ada orang dewasa terbukti TB positif, maka kira-kira 65% orang di sekitarnya akan tertular. Dari 65% orang ini, sekitar 16% di antaranya akan TB aktif. Jadi, bila ada 1 orang dewasa TB positif, maka kira-kira 10% orang di lingkungannya akan TB aktif. Masalahnya, jika 10% dari orang-orang ini adalah orang dewasa, dia berpotensial menularkannya lagi ke anak-anak.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, kalau ada anak yang positif TB, pastilah ia tertular orang dewasa di lingkungannya. Jadi, orang itu mesti dicari biar lingkungan benar-benar bebas TB,” ungkap Kepala Divisi Respirologi IKA FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo. Ini berarti, semua orang dewasa dalam rumah si kecil perlu diperiksa, tanpa kecuali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gampang dideteksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, cara paling ampuh untuk mendiagnosis TB adalah, dengan melakukan pemeriksaan dahak. Sayangnya, pemeriksaan ini susah dilakukan pada anak-anak. Tak mudah kan menyuruh anak kecil berdahak? Apalagi, seringkali dahak malah ditelannya, sehingga masuk pencernaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, pendeteksian TB pada anak biasanya dilakukan dengan cara memeriksa cairan lambungnya. Hanya saja, akurasi pemeriksaan ini jauh lebih rendah ketimbang pemeriksaan dahak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bila anak dicurigai menderita TB, dokter akan melakukan serangkaian tes. Setelah pemeriksaan fisik, juga akan dilakukan pemeriksaan rontgen dan uji tuberkulin (uji Mantoux). Apa itu uji Mantoux? Menyuntikkan ekstrak protein dari kuman TB ke dalam kulit. Jika reaksi kulit si kecil adalah menonjol dengan garis tengah sama atau lebih dari 10 mm, ini dapat berarti ia pernah berkontak dengan orang dewasa penderita TB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kuman super bandel&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila anak berkontak dengan penderita TB, sebenarnya belum tentu ia langsung sakit. Kalau sel darah putih yang notabene berfungsi sebagai pasukan pertahanan tubuhnya kuat, maka kuman-kuman TB akan langsung mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bisa juga kuman yang super bandel itu berhasil masuk ke tubuh. Nah, kuman yang lolos sensor ini dibagi jadi 2. Pertama, kuman yang tenang-tenang saja berada dalam tubuh dan jumlahnya hanya sedikit. Kedua, kuman yang masuknya “serombongan” serta biasanya aktif. Sebagai catatan, masa inkubasi (masa antara masuknya kuman ke dalam tubuh hingga timbul gejala penyakit) penyakit ini sekitar 2-10 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah begini, bagaimana cara menangani si kecil? Ia perlu minum obat-obatan. Umumnya, masa pengobatan berlangsung selama 6 bulan. Sayangnya, selesai pengobatan, kuman TB dalam tubuh si kecil tidak akan lenyap 100%. Selalu saja ada kuman yang tertinggal dan terus menghuni tubuhnya. Di mana sih tempat favorit kuman super bandel itu? Di paru-paru kanan atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski kuman kelihatannya tenang, ini bukan berarti kondisi anak pasti aman. Sekalipun sudah pernah terkena TB dan telah menjalani pengobatan secara tuntas, tetap saja ia jadi incaran kuman yang hobinya ngendon itu. Belum lagi, kalau kondisi si kecil memburuk, seperti menderita campak, mau tidak mau kuman TB jadi aktif. Nah, kondisi seperti ini disebut reaktifasi. “Makanya, tubuh anak harus terus dijaga hingga dewasa kelak. Dengan begitu, kuman itu tidak sempat jadi aktif. Sayangnya, kasus yang paling banyak terjadi di Indonesia adalah jenis yang reaktifasi ini,” kata dr. Bambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Untung bisa dicegah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini, cara terbaik mengurangi risiko terinfeksi TB adalah melakukan imunisasi BCG pada bayi usia 2 bulan. Meski tidak bisa melindungi 100%, imunisasi ini bisa menghindari anak dari risiko akibat memberatnya infeksi TB yang dideritanya. Misalnya, kuman menyebar ke otak dan menyebabkan radang selaput otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa lagi? Oke, si kecil telah diimunisasi BCG. Namun, kalau selama masa pertumbuhan, ia tidak memperoleh gizi yang baik, tubuhnya tidak pernah sehat dan bugar, bahkan masih ditambah lagi dengan kondisi lingkungannya tidak sehat (kotor dan lembap), ya TB akan terus mengintainya.&lt;br /&gt;Jadi, kalau mau balita Anda terhindar dari TB, segeralah benahi pola hidupnya. Caranya? Selalu mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rajin berolahraga, cukup istirahat, serta menjaga kebersihan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nia L.T.(ayahbunda)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-2790523074783796714?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/2790523074783796714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=2790523074783796714' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/2790523074783796714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/2790523074783796714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/11/tb-masih-mengancam-balita.html' title='TB Masih Mengancam Balita'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-7472709671293397817</id><published>2009-11-01T20:09:00.000-08:00</published><updated>2009-11-01T20:09:00.273-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang tua harus perhatikan ini...'/><title type='text'>Apa Yang Dibutuhkan Anak Dari Orang Tua?</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;       &lt;p&gt;Salah satu ketakutan anak-anak saat ini dari orang tua mereka adalah menjadikan urusan anak sebagi pekerjaan temporer. Saat ini semakin jarang orang tua yang mau menghabiskan wakunya bersama-sama keluarga sebagai akibat kesibukan pekerjaan, misalnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akibatnya kita seringkali terfokus pada perilaku anak-anak dan tidak pada perilaku yang kita miliki.Mengapa tidak melihat perilaku anda dari persfektif anak-anak? Dalam sebuah survei yang dilakukan terhadap 100.000 anak-anak, apa yang mereka paling inginkan dari orang tua mereka? Berikut 10 jawaban yang dapat dijadikan evaluasi bagi para orang tua:&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Anak-anak ingin orang tua mereka tidak bertengkar didepan mereka. Anak-anak cenderung melakukan apa yang orang tuanya lakukan, tidak pada apa yang mereka katakan. Bagaimana anda mengatasi perbedaan ini? Apakah anda tidak setuju anak melihat pertengkaran anda menyerang orang lain atau mempertahankan diri sendiri? Hati-hati apabila orang tua melakukannya, kemudian anak-anak akan belajar bagaimana mengatur marah dan menyelesaikan konflik dengan cara yang orang tua contohkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Anak-anak ingin orang tua memperlakukan setiap anggota keluarga sama. Memperlakukan anak sama bukan berarti memperlakukan mereka sama rata. Setiap anak memiliki keunikan dan masing-masing membutuhkan kasih sayang dan pengertian yang sama. Evaluasi hubungan orang tua dengan setiap anak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang tua yang jujur. Pernah anda para orang tua mengatakan sesuatu yang tidak jujur pada anak-anak? Orang tua mungkin tidak menyadari apa yang ia tengah contohkan pada anak-anaknya. Apakah orang tua mengatakan apa yang ia maksud adalah apa yang ia katakan?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang tua yang toleran pada orang lain. Ketika orang tua toleran pada orang lain, anak-anak akan belajar sabar dengan siapa aja yang berbeda dengan mereka. Dalam cara apa orang memberi contoh toleransi pada anak?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang tua yang ramah pada teman-teman mereka ketika berkunjung ke rumah. Jika pengelompokan terjadi di rumah, kemudian orang tua akan tahu dimana anak-anak berada. Pererat kebijakan pintu terbuka dan mengenal teman-teman mereka.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang tua yang membangun semangat bersama dengan anak-anak. Ketika anak-anak masuk dalam usia remaja, orang tua yang memperat semangat bersama akan memiliki pengaruh lebih besar pada anak mereka.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang tua yang mau menjawab pertanyaan anak. Pernahkah orang tua merasa bersalah ketika mengatakan, “sekarang ayah/ibu sibuk, kita bicaranya nanti saja.” Kemudian nanti juga tidak pernah. Sisihkan waktu untuk menjawab pertanyaan anak dan ketika orang tua tidak mengetahui jawaban, akui dan menawarkan untuk mencari jawabannya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang tua yang menanamkan disiplin ketika dibutuhkan tetapi tidak dihadapan orang lain. Jangan menanamkan disiplin dihadapan orang lain terutama teman-temannya. Anak-anak menginginkan batasan tetapi jarang tua harus tahu kepan dan dimana menanamkan disiplin.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang tua yang konsentrasi pada hal yang baik alih-alih sesuatu yang lemah. Lihat anak-anak sebagai puzzle potongan gambar yang tidak komplit dan konsentrasi pada membangun menjadi gambar yang indah alih-alih menghilangakn potongan gambar tersebut. Buat daftar kelebihan-kelibihan anak anda dan cari waktu yang tepat untuk menunjukkanya pada mereka.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang tua yang konsisten. Orang tua seringkali tidak konsisten tetapi berusahalah untuk konsisten. Keadaan tidak konsisten dapat merusak anak-anak. Anak-anak harus tahu cinta dan batasan anda konsisten sehingga akan muncul rasa percaya pada orang tua. [&lt;em&gt;idi&lt;/em&gt;]&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;        &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-7472709671293397817?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/7472709671293397817/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=7472709671293397817' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/7472709671293397817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/7472709671293397817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/11/apa-yang-dibutuhkan-anak-dari-orang-tua.html' title='Apa Yang Dibutuhkan Anak Dari Orang Tua?'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-3276634513550040143</id><published>2009-10-28T07:17:00.000-07:00</published><updated>2009-10-28T07:17:00.241-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tidur'/><title type='text'>Si 5 Tahun Perlu Tidur Cukup</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak pun bisa mengalami sulit tidur. Keadaan ini perlu ditangani segera agar ia bisa konsentrasi bermain dan belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si kecil susah sekali diajak tidur? Anda berharap ia tidur malam paling lambat pukul 20.30 dan bangun setelah Anda terjaga. Namun harapan itu seringkali terlalu ideal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja Nadia. Menjelang tengah malam, pukul 23.00, gadis cilik berusia lima tahun itu masih saja asyik bermain. Padahal Vita, sang ibu, sudah lelah dan tak henti menguap karena kantuk menyerang setelah melewati hari kerja yang demikian padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan dikira hanya orang dewasa yang punya masalah sulit tidur. Anak-anak pun mengalami. Padahal kekurangan tidur bisa merembet ke berbagai hal yang merugikan si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Anak dan gangguan tidur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian menunjukkan hampir 25% anak-anak sejak usia prasekolah mengalami masalah tidur. Di Rhode Island, Amerika Serikat, sepertiga dari jumlah anak TK hingga kelas empat SD mengalami setidaknya satu gangguan tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan tersebut tentu bisa bikin runyam. Bukankah esok harinya anak-anak itu harus bangun pagi dan bersekolah? Jangan tanya sulitnya membangunkan si kecil dari tidurnya. Bukan itu saja, masalah kurang tidur tak hanya menyebabkan anak terlambat masuk sekolah, tapi bisa mengganggu perkembangannya, baik ketika belajar maupun bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada bermacam gangguan tidur pada anak; seperti mimpi buruk, terjaga mendadak di tengah malam dan, tentunya, sulit tidur. Diperkirakan 30–40% dari masalah-masalah itu berkait erat dengan keseharian si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak yang tidur pada waktu yang tidak konsisten seringkali mengalaminya. Selain itu, hal-hal seperti anak mengharapkan orang tua tetap menemaninya meski lampu kamar sudah dimatikan atau tidur di mobil bisa mengganggu kenyamanan tidur si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sulit menahan kantuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang tidur berdampak buruk pada anak. Pada pagi dan siang hari si kecil mengalami kesulitan menahan kantuk. Kenyataan ini ditemukan oleh para peneliti gangguan tidur pada anak. Tim yang dipimpin Dr. Judith Owens ini mengungkapkan bahwa kesulitan ini lebih banyak ditemukan pada anak usia 4 - 5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta ini didukung penelitian yang dilakukan para psikolog di Universitas Tel Aviv. Anak-anak yang tidur lebih sedikit dari biasanya kurang konsentrasi ketika bermain komputer. Sebaliknya, mereka yang tidur lebih lama, lebih sigap dan lebih mudah mengingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila si lima tahun sulit tidur, Anda tak perlu terlalu cemas. Ada berbagai cara memperbaiki gangguan tidur si kecil. Upayakan agar anak punya rutinitas yang mengantarnya tidur, seperti membersihkan kaki dan tangan, menggosok gigi, dan dibacakan cerita. Rutinitas sangat penting untuk membantu mengatur jam biologis anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Eleonora Bergita(Ayahbunda)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-3276634513550040143?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/3276634513550040143/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=3276634513550040143' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/3276634513550040143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/3276634513550040143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/10/si-5-tahun-perlu-tidur-cukup.html' title='Si 5 Tahun Perlu Tidur Cukup'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-2059585004984320598</id><published>2009-10-20T06:32:00.000-07:00</published><updated>2009-10-20T06:32:00.237-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Waspada dan Pencegahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips - Kiat'/><title type='text'>Mengatasi Dehidrasi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa gangguan kesehatan yang sering dialami bayi. Salah satunya, dehidrasi atau kekurangan cairan. Jadi, kenali gejala dan cara tepat mengatasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya, balita mengalami dehidrasi karena kurang minum atau kurang banyak cairan yang dimasukkan ke dalam tubuh mungilnya. Bisa jadi, ini akibat si kecil terlalu asyik bermain sehingga lupa untuk minum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kenali penyebabnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping kurang cairan, ada juga penyebab lain terjadinya dehidrasi pada si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Flu atau pilek. Dehidrasi bisa terjadi pada saat si kecil sedang sakit flu atau pilek. Walaupun tidak muntah dan tidak sering “pipis”, dia akan tetap merasa lemas seperti orang kelaparan dan kehausan. Biasanya, hal ini terjadi karena dia menolak untuk makan atau minum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Kelelahan, s ekalipun ia tidak terlalu banyak bermain dan cukup tidur. Ini terjadi akibat banyaknya keringat atau energi yang keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Terinfeksi virus penyebab muntah dan diare. W alaupun si kecil tidak “bolak-balik” pipis, cukup tidur, dan tidak kelelahan bermain, dia bisa saja mengalami dehidrasi akibat muntah-muntah dan diare yang dialaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berikan cairan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan utama yang harus Anda lakukan untuk mengatasi si kecil yang mengalami dehidrasi adalah sesegera mungkin mengganti cairan tubuhnya yang banyak keluar. Caranya, beri si kecil minum yang sebanyak-banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cairan yang Anda berikan dapat berupa air putih biasa, jus buah, es krim, atau bentuk cairan lainnya. Yang penting, berikan jenis cairan yang sesuai dengan kondisi kesehatan tubuhnya. Misalnya, kalau ia sedang pilek, jangan berikan es krim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan ia harus dibawa ke dokter? Bila si kecil diare dan muntah-muntah. Jika ia mengalami diare dan tetap memuntahkan cairan yang Anda berikan, maka tubuhnya akan tetap mengalami dehidrasi. Keadaan ini jelas tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Biasanya, dokter akan menggantikan cairan tubuh si kecil via infus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kiat menghindari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencegah memang selalu lebih baik dari mengobati. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghindari terjadinya dehidrasi pada balita Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Biasakan si kecil untuk minum secara teratur setiap hari, terutama bila dia banyak beraktivitas. Cairan yang dikonsumsi sebaiknya diatur agar bervariasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Anak harus minum air paling tidak 8 gelas sehari. Anda dapat memberinya dalam bentuk kombinasi aneka jenis cairan, seperti jus buah, buah segar, sup, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Berilah minuman sebelum balita Anda mulai beraktivitas, seperti bermain di halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Tetaplah beri minuman pada si kecil, sekalipun dia tidak begitu haus.(ayahbunda)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-2059585004984320598?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/2059585004984320598/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=2059585004984320598' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/2059585004984320598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/2059585004984320598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/10/mengatasi-dehidrasi.html' title='Mengatasi Dehidrasi'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-3276160465867773356</id><published>2009-10-15T09:01:00.000-07:00</published><updated>2009-10-15T09:01:00.204-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kreatifitas Anak'/><title type='text'>Si 2 Tahun Bermain Imajinatif</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba lihat, meski main-main, si kecil sungguh-sungguh lho ketika ia mengekspresikan suatu peran seperti di kehidupan nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih menyimpan baju lama Anda? Jangan dibuang! Dengan sedikit imajinasi si dua tahun bisa memanfaatkannya untuk bermain. Ada banyak permainan bisa dilakukan bersama. Tentu banyak manfaat yang bisa didapatkan. Nah, coba saja! Si kecil pasti gembira menikmatinya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Merangsang imajinasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cindy kini berusia dua tahun. Ia suka sekali memakai kalung mamanya, Alia. Setiap hari ada saja kotak perhiasan yang dibuka-buka. Ada satu kalung warna-warni yang selalu diambil dan dikenakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, Alia selalu marah melihat ulah Cindy. Namun lama-kelamaan ia memaklumi. Suatu ketika Alia membuka kembali koleksi baju lamanya. Dengan riang Cindy mengambil baju dan mencobanya. Ternyata ia sangat menikmati. “Aku jadi putri raja. Kamu jadi tukang kudanya,” kata Cindy pada kakaknya, Cleon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sepertinya hanya anak perempuan yang menyukai bermain kreatif dengan baju-baju, namun ternyata anak laki-laki pun suka. Kemeja tua ayah, kacamata, topi dan sepatu tua dapat menjadi barang yang menyenangkan untuk dieksplorasi. Entah dikenakan untuk menjadi raja, menjadi turis, atau arsitek seperti papa, merupakan permainan menyenangkan bagi si dua tahun yang gemar mengeksplorasi imajinasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si dua tahun memang gemar meniru orang lain dan apa saja yang dilihatnya. Ia senang menirukan bagaimana singa mengaum, kambing mengembik, anjing menggonggong, atau kucing mengeong. Maka, jangan heran kalau permainan imajinasi sangat diminatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Melatih kepekaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya soal imajinasi, permainan peran juga penting untuk melatih konsentrasi. Sebuah sekolah swasta di München memasukkan permainan peran dalam kegiatannya. Menurut guru di sekolah tersebut, kegiatan eksplorasi imajinasi ini dapat mengajarkan anak perlunya tahu ada aturan dalam keseharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penting diketahui, permainan peran adalah dasar perilaku antarteman. Anak punya kesempatan mencoba berbagai peran berbeda dan mengetahui bagaimana reaksi orang lain terhadap dirinya. Misalnya, apa reaksi orang jika anak marah? Jika anak berani? Jika anak takut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermain peran dapat mendorong kreativitas dan rasa percaya diri, karena dalam percakapan anak berlatih bagaimana bernegosiasi dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski hanya main-main, lihat saja si kecil pasti melakukan dengan sungguh-sungguh seolah terjadi dalam kehidupan nyata. Jangan heran, kalau anak lebih percaya diri saat bertemu orang lain, meski ia belum Anda kenalkan kepadanya. Anda pasti bangga punya anak yang PD!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Eleonora Bergita &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-3276160465867773356?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/3276160465867773356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=3276160465867773356' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/3276160465867773356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/3276160465867773356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/10/si-2-tahun-bermain-imajinatif.html' title='Si 2 Tahun Bermain Imajinatif'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-1117600250324162352</id><published>2009-10-10T19:21:00.000-07:00</published><updated>2009-10-10T19:21:00.728-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bakat Anak'/><title type='text'>Salurkan Bakat Seni Anak</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;       &lt;p&gt;Memperhatikan dan menunjukkan penghargaan terhadap hasil kerja yang ditunjukkan oleh anak dapat memberikan semangat dalam mengembangkan bakat dan ketrampilannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://www.ruangkeluarga.com/files/sysfiles/2008/06/anak-6.jpg"&gt;&lt;img class="alignleft alignnone size-medium wp-image-263" style="float: left;" title="anak-6" src="http://www.ruangkeluarga.com/files/sysfiles/2008/06/anak-6.jpg" alt="" width="240" height="160" /&gt;&lt;/a&gt;Jangan membiarkan setiap hasil karya anak menumpuk begitu saja, cobalah untuk membicarakan kepada anak untuk memilih salah satu atau dua dari sekian banyak hasil karya yang paling disukainya. Buatlah peraturan bahwa setiap tahun anak hanya diperkenankan untuk menyimpan 5 karya yang paling disukainya. Atau anda juga bisa memotret dan menyusun karyanya dalam sebuah album, sehingga anak bisa melihat kekurangan hasil karyanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Untuk menyimpan hasil karya anak, ajaklah anak memilih map dan rak yang disukainya. Bantu anak menyusun dan menyimpan berbagai hasil karyannya dengan rapi. Dengan begitu anda sudah mengajarkan ketrampilan dalam menyusun data dan nantinya sangat berguna saat anak berada di dunia kerja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Siapkan sebuah papan khusus di kamarnya agar bisa digunakan untuk memasang gambar yang telah dibuatnya. Jika sudah bosan, maka dia akan mengganti gambar tersebut dengan gambar lainnya. Mintalah untuk menyimpan hasil karyanya yang lama di tempat yang telah anda siapkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika anak senang berkarya di rumah, maka penuhi semua kebutuhan yang diinginkan seperti krayon, spidol atau lainnya. Lalu sediakan tempat khusus untuk menyimpan berbagai perlengkapannya itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada baiknya jika hasil karyanya anda berikan sebagai hadiah untuk nenek, kakek atau lainnya. Agar anak merasa hasil karyanya dihargai oleh orang sekitarnya. [&lt;em&gt;perempuan&lt;/em&gt;]&lt;/p&gt;        &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-1117600250324162352?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/1117600250324162352/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=1117600250324162352' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/1117600250324162352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/1117600250324162352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/10/salurkan-bakat-seni-anak.html' title='Salurkan Bakat Seni Anak'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-8916062119782760235</id><published>2009-10-05T08:03:00.000-07:00</published><updated>2009-10-05T08:03:00.300-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang tua harus perhatikan ini...'/><title type='text'>Si Balita pun Perlu Car Seat</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jangan lupa, anak usia 1-4 tahun juga perlu dilindungi dengan car seat selama berkendara dengan mobil agar terhindar dari cedera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di edisi Ayahbunda no. 1/17-30 Januari 2004, Anda telah membaca kegunaan serta jenis car seat untuk anak usia 0-1 tahun, yakni infant car seat . Lalu, bagaimana dengan anak usia setahun ke atas, khususnya si 1-4 tahun? Ini artinya Anda perlu petunjuk mengenai toddler car seat .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jangan keliru memilih car seat!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teliti sebelum membeli. Itu kunci utama dalam membeli toddler car seat untuk balita Anda. Ada 2 hal yang harus menjadi perhatian Anda, yakni:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Car seat harus mudah dipasang, sehingga si kecil ‘terikat’ dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Car seat yang baik paling sedikitnya memiliki 3- point safety harness, yakni 2 di bahu dan 1 di selangkangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda perlu hati-hati ketika memilih toddler car seat . Karena, ada kursi lain yang juga mirip-mirip dengan car seat jenis ini, yakni booster seat . Misalnya saja, berat badan anak Anda sudah 20 kg, namun tingginya masih di bawah 120 cm. Duduk di toddler car seat? Tidak mungkin lagi karena sudah “kebesaran”. Apa akal? Ia bisa menggunakan booster seat . Car seat jenis ini akan “mengganjalnya”, sehingga sabuk pengaman mobil bisa pas mengikat dada dan perutnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kalau anak Anda “dipaksakan” duduk manis di jok belakang sambil diikat dengan sabuk pengaman mobil. Wah, bisa-bisa dia tercekik, karena sabuk pengaman mobil belum pas melewati bahu dan perutnya. Sabuk pengaman mobil memang didesain untuk digunakan oleh mereka yang berat badannya di atas 20 kg dan tinggi badannya di atas 120 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Laila Andaryani Hadis&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-8916062119782760235?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/8916062119782760235/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=8916062119782760235' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/8916062119782760235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/8916062119782760235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/10/si-balita-pun-perlu-car-seat.html' title='Si Balita pun Perlu Car Seat'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-1162780178763124339</id><published>2009-10-01T20:13:00.000-07:00</published><updated>2009-10-01T20:13:00.229-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang tua harus perhatikan ini...'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi anak'/><title type='text'>Ajarkan Sikap Toleransi dan Pemaaf pada Anak</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;       &lt;p&gt;Sikap toleran dan pemaaf merupakan salah satu kunci sukses bagi anak untuk dapat menjalin hubungan dengan orang lain. Toleransi merupakan awal dari sikap menerima bahwa perbedaan bukanlah suatu hal yang salah. Justru, perbedaan harus dihargai dan dimengerti sebagai ‘kekayaan’. Sikap toleran juga akan mengarahkan anak kepada sikap baik, yaitu pemaaf.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perilaku toleran dapat dicontohkan orangtua dengan saling memberi kesempatan berbicara dan menyatakan pendapat atau saling memaafkan. Jika anda tidak senang didebat dan mau menang sendiri akan menjadi contoh buruk bagi anak anda. Ucapan dan kata yang sering didengar anak akan membekas dalam ingatannya. Saat memarahi anak, usahakan jangan mengeluarkan kata-kata yang tidak baik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seleksilah media dengan seksama seperti bacaan serta tontonan anak agar hal-hal yang kurang baik dapat dihindari. Pilihkan bacaan atau tontonan yang memberikan contoh bagus tentang sikap toleran dan pemaaf. Setiap kali ada contoh menarik, tanyakan bagaimana pendapatnya dan ungkapkan pula pendapat anda. Seperti memuji sikap tokoh kartun yang menerima pendapat temannya. Jika hal tersebut dilakukan secara rutin, anak memperoleh kepastian dan merasa mantap tentang apa yang harus ia lakukan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebaiknya anda juga harus belajar menghargai pendapat anak serta meminta maaf jika anda melakukan kesalahan. [&lt;em&gt;perempuan&lt;/em&gt;]&lt;/p&gt;        &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-1162780178763124339?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/1162780178763124339/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=1162780178763124339' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/1162780178763124339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/1162780178763124339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/10/ajarkan-sikap-toleransi-dan-pemaaf-pada.html' title='Ajarkan Sikap Toleransi dan Pemaaf pada Anak'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-3370771897535405145</id><published>2009-10-01T20:11:00.000-07:00</published><updated>2009-10-01T20:11:00.369-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang tua harus perhatikan ini...'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi anak'/><title type='text'>Membesarkan Anak Tanpa Perlu Membentak</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;       &lt;p&gt;Ada banyak alasan mengapa para orang tua membentak anaknya ; karena si kecil tidak mau menurut, tidak bisa diam dan masih banyak lagi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan membentak, para orang tua berharap ’perintah’ mereka lebih didengar. Tetapi menurut psikolog, seharusnya orang tua mencari cara yang lain agar tidak perlu membentak anak-anak mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Membentak bisa berpengaruh buruk pada anak-anak, karena bisa membuat renggang ikatan batin dengan anak, selain itu bentakan tidak mengajarkan apa-apa untuk perkembangan si kecil.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika Anda membentak, mungkin Anda berpikir kalau itu adalah ekspresi rasa frustasi akan kenakan anak-anak. Tetapi pihak yang dibentak, dalam hal ini si kecil, akan merasa tertekan dan bentakan itu bisa mereka artikan kalau dirinya tidak berharga dan mengecewakan orang tuanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saat usia anak masih di bawah 10 tahun, mereka tidak akan melawan atau balas membentak. Tetapi karena sikap pasif mereka itu, Anda jadi tidak bisa mengukur seberapa besar dampak psikologis yang ditimbulkan karena membentak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Orang tua yang terbiasa membentak anak-anaknya ketika mereka stres, sebenarnya mengajarkan hal yang sama pada mereka. Yang perlu dingat bahwa bersikap tegas pada anak-anak bukan berarti membentak. [&lt;em&gt;kompas&lt;/em&gt;]&lt;/p&gt;        &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-3370771897535405145?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/3370771897535405145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=3370771897535405145' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/3370771897535405145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/3370771897535405145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/10/membesarkan-anak-tanpa-perlu-membentak.html' title='Membesarkan Anak Tanpa Perlu Membentak'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-3663048126509877186</id><published>2009-09-28T07:18:00.000-07:00</published><updated>2009-09-28T07:18:00.293-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Obesitas'/><title type='text'>Gemuk Memang Lucu, Tapi Tidak Sehat!</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika si kecil Anda dipuji orang karena gendut dan lucu, jangan bangga dan gembira. Anda justru harus waspada. Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai hari ini, buanglah jauh-jauh anggapan anak gemuk itu lucu dan sehat. Persepsi ini salah. Jika ia nampak lucu, mungkin itu benar. Tapi kegemukan adalah masalah kesehatan. Kalaupun jika tidak terjadi sekarang, kemungkinan besar tidak lama lagi gangguan akan menimpa si anak “lucu” itu. Pendeknya, lebih dari usia satu tahun, bobot anak yang berlebih menyimpan masalah kesehatan di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut wawancara dengan beberapa dokter yang pernah mengadakan survei di beberapa sekolah dasar di Jakarta, ternyata jumlah obesitas anak di Indonesia tidak lah sedikit. Angkanya berkisar antara 10-30%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kenapa bisa kegemukan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, kegemukan (obesitas) terjadi karena ketidakseimbangan antara masuk dan keluarnya energi. “Akibatnya, terjadilah kelebihan energi, yang selanjutnya disimpan dalam bentuk jaringan lemak,” demikian penjelasan Dr. dr. Damayanti Sjarif, Sp.A(K) dari Divisi Gizi dan Penyakit Metabolik, RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembilan puluh persen kegemukan adalah akibat makan belebihan. Ini disebut kegemukan primer. Sepuluh persen sisanya kegemukan karena penyakit atau gangguan hormonal atau gangguan yang diturunkan. Mereka ini masuk kelompok kegemukan sekunder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, kegemukan primer dapat dikendalikan. Kuncinya, waspada sejak dini. Apalagi, kegemukan jenis ini biasanya terjadi akibat interaksi berbagai faktor, yang dikelompokkan jadi faktor genetik dan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor genetik, berarti sudah bawaan si anak. “Dari penelitian terbukti, jika kedua orang tua menderita kegemukan, sekitar 80% anaknya akan kegemukan. Bila hanya salah satu orang tua yang kegemukan, risikonya jadi 40%. Kalau keduanya tidak kegemukan, risikonya turun lagi tinggal 14%,” jelas Dr. Damayanti, yang juga seorang pakar gangguan metabolisme pada anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara faktor lingkungan yang ikut berperan besar adalah faktor nutrisi, mulai dari jenis makanan sampai perilaku makan yang berlebihan -- baik porsi maupun frekuensinya. Tentunya, aktivitas fisik yang kurang, akibat obat (steroid), atau faktor gaya hidup juga amat berpengaruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ancaman tak terasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, anjuran agar dampak kegemukan dievaluasi sejak dini bukannya tanpa dasar. Dari penelitian Angulo A &amp;amp; Lindor KD (2001), 40% anak kegemukan yang diperiksa melalui skrining USG hati ternyata mengalami gangguan penyakit hati (NASH atau Non Alcoholic Steatohepatitis ) yang dapat berlanjut jadi pengerutan jaringan hati, bahkan kanker hati. Penurunan berat badan diduga akan menormalkan kadar enzim hati dan juga ukuran hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu. Penyumbatan atau gangguan saluran pernapasan ketika tidur juga sering dialami si bongsor. Gejalanya mulai dari mengompol sampai mengorok. Ia juga bisa mengalami gangguan saluran pernapasan, akibat adanya penebalan jaringan lemak di tenggorokan, yang seringkali diperberat oleh pembesaran jaringan amandel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyumbatan saluran napas di malam hari yang terus-menerus ini menyebabkan si kecil tidur gelisah serta menurunkan asupan oksigen ke tubuhnya. Akibatnya, ia akan mengantuk dan tampak lelah besoknya. Kalau sudah begini, ia akan merasa tidak nyaman. Dan akan susah bagi si kecil untuk bertingkah lucu atau menggemaskan kalau keadaannya seperti itu, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala-gejala ini umumnya berkurang seiring dengan penurunan berat badan. Atau, gejala menurun setelah dilakukan operasi amandel serta pemakaian CPAP ( Continuous Positive Airway Pressure ). CPAP adalah alat bantu untuk menguatkan tekanan udara ketika bernapas. Dengan begitu, saluran pernapasan si kecil bisa terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kegemukan terus berlanjut sampai mereka besar, berbagai risiko yang mengancam makin dekat dengan kenyataan. Ahli obesitas dari Yale University, Kelly D. Brownell, Ph.D, berkomentar, “Anak Amerika zaman sekarang bisa diperkirakan akan jadi generasi pertama yang punya usia lebih pendek daripada generasi orang tuanya. Kemungkinan ini terlihat dari berbagai risiko penyakit yang lebih mudah hinggap pada anak-anak yang kegemukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mungkin cuma ‘efek akordeon’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kegemukan adalah ancaman tersembunyi, maka pertambahan berat badan si kecil harus benar-benar diperhatikan. Sangat gampang untuk mengetahui apakah si kecil kegemukan atau tidak. Gejalanya juga bisa dilihat secara kasat mata (lihat boks “Inilah Anatomi si Gemuk”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, umumnya secara alamiah anak-anak terlihat gemuk pada usia perkembangannya, namun jadi kurus lagi pada usia tertentu. “Seperti efek akordeon,” begitu Robert Murray, MD, Direktur dari Center for Nutrition and Wellness di Children’s Hospital, Colombus, Ohio, Amerika Serikat, mengistilahkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Anda boleh saja senang dengan pipi gembil, lucu dan tubuh gemuk si kecil paling tidak sampai tahun pertama usianya saja. Setelah itu, IMT (Indeks Massa Tubuh) secara bertahap akan menurun sampai ia berusia 5-6 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia sekitar 5–6 tahun adalah titik balik kegemukan. Setelah itu, secara bertahap si kecil akan agak berisi lagi sampai memasuki masa remaja awal (sekitar 10 tahunan). Lalu, ia cenderung kurus kembali ketika pertambahan tingginya mulai pesat. Yaitu, pada anak perempuan sekitar usia 12-13 tahun, sedangkan pada anak laki-laki kira-kira usia 14-15 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun begitu, beberapa penelitian menunjukkan, semakin dini si kecil mencapai titik balik kegemukan, semakin besar kecenderungannya mengalami kegemukan di kemudian hari. Penyebabnya memang belum diketahui. Namun, ada penelitian lain yang juga mendukung. Bila si kecil cenderung mengalami kegemukan pada usia 5 tahun, maka ia berisiko tinggi untuk kegemukan pada usia 10 tahun kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Segeralah bertindak!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda, sebagai orang tua, bisa berperan besar dalam menjaga kesehatan buah hati tercinta. Caranya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama, atur pola makan si kecil. Ini berarti, pilihan menu makanan si kecil harus sehat dengan zat-zat gizi yang seimbang. Juga, jumlah makanannya mesti pas. Tidak terlalu banyak, namun tidak juga terlalu sedikit porsinya. Aturan ini tidak hanya berlaku untuk si balita Anda, tetapi juga seluruh keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara lain adalah meluangkan waktu untuk mengajak si kecil lebih banyak beraktivitas fisik. Dengan beraktivitas fisik, energi yang keluar diharapkan bisa seimbang dengan banyaknya makanan yang dikonsumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, pencegahan kegemukan bisa dimulai dari pemberian ASI secara eksklusif. Sebab, pemberian ASI tidak akan membuat intake susu si kecil berlebihan. Sementara itu, jika balita diberi susu formula, orang tua cenderung memaksanya menghabiskan semua susu yang sudah ada dalam botol.&lt;br /&gt;Jadi, jangan tunggu lama-lama, jika Anda atau suami sudah kegemukan plus banyak yang “memuji” betapa gemuknya si buah hati Anda. Takut balita Anda keburu kegemukan. Segera bertindak ya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jumlah Kasus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, angka kejadian kegemukan di beberapa SD di Jakarta menunjukkan angka antara 10–30%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Dokter sangat menganjurkan pencegahan ataupun penanganan dini. Asal tahu, tekanan darah tinggi (hipertensi) bisa ditemukan pada sekitar 20-30% anak yang kegemukan. Karena itu segera ukur berat badan anak Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Beberapa Risiko&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Penyakit jantung dan pembuluh darah, seperti pembesaran jantung atau peningkatan tekanan darah.&lt;br /&gt;- Gangguan metabolisme glukosa. Misalnya, intoleransi glukosa.&lt;br /&gt;- Gangguan kedudukan tulang, berupa kaki pengkor atau tergelincirnya bagian sambungan tulang paha (terutama pada anak laki-laki).&lt;br /&gt;- Gangguan kulit, khususnya di daerah lipatan, akibat sering bergesekan.&lt;br /&gt;- Gangguan mata; seperti penglihatan ganda, terlalu sensitif terhadap cahaya, dan batas pandangannya jadi lebih sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Inilah “Anatomi” Si Gemuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Wajah membulat&lt;br /&gt;- Pipi tembem&lt;br /&gt;- Dagu rangkap&lt;br /&gt;- Leher relatif pendek.&lt;br /&gt;- Dada membusung, dengan payudara yang membesar karena mengandung jaringan lemak.&lt;br /&gt;- Perut membuncit disertai dinding perut yang berlipat-lipat.&lt;br /&gt;- Kedua tungkai umumnya berbentuk X, dengan kedua pangkal paha bagian dalam saling menempel dan bergesekan. Akibatnya, timbullah lecet.&lt;br /&gt;- Pada anak laki-laki, penis tampak kecil karena tersembunyi dalam jaringan lemak. Makanya, orang tua sering jadi sangat khawatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bentuk Tubuh Anak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Apple shape body: Jika lemak lebih banyak berada di bagian atas tubuh, yaitu dada dan pinggang. Bentuk tubuh ini berisiko lebih besar terkena penyakit kardiovaskular, hipertensi dan diabetes dibandingkan pear shape body.&lt;br /&gt;- Pear shape body: Bila lemak lebih banyak di bagian bawah tubuh, yakni pinggul dan paha.&lt;br /&gt;- Intermediate: Bentuk pertengahan antara keduanya .&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-3663048126509877186?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/3663048126509877186/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=3663048126509877186' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/3663048126509877186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/3663048126509877186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/09/gemuk-memang-lucu-tapi-tidak-sehat.html' title='Gemuk Memang Lucu, Tapi Tidak Sehat!'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-8265774181057700577</id><published>2009-09-20T06:34:00.000-07:00</published><updated>2009-09-20T06:34:00.145-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Virus - Bakteri - Penyakit'/><title type='text'>Coxsackie, Virus Penyerang Balita</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangankan mengunyah makanan, untuk minum pun, mulut pedih sekali! Ya, itulah salah satu gejala penyakit mulut, kaki dan tangan (MKT). Repotnya, penyakit ini amat mudah menular.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tak terlalu membahayakan, penyakit ini memang sering terlewatkan begitu saja. Apalagi, gejalanya juga tak terlalu istimewa. Dan, entah mengapa, jumlah penderita penyakit ini biasanya meningkat pada musim pancaroba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cirinya: bintil-bintil berair&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya, anak yang kurang sehat akan rewel, mogok makan dan minum, serta tubuh agak sumang (suhu tubuh agak naik). Namun, bila rewelnya berlanjut dengan bertambah sulitnya si kecil makan plus mulutnya sakit sampai keluar air liur (untuk menelan air liur saja perih, apalagi minum), maka Anda perlu ekstra hati-hati. Bisa jadi, si kecil bukan menderita sariawan biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K), staf pengajar dari Divisi Infeksi dan Pediatri Tropik, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, “Coba lihat, apakah ada bintil-bintil berisi air dalam mulut si kecil dan sebagian di antaranya mungkin sudah pecah. Kalau ada, ini adalah salah satu gejala dari penyakit MKT.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, bintil-bintil berisi cairan merupakan salah satu gejala khas dari penyakit MKT atau hand, foot and mouth disease (HFMD) . Tapi jangan samakan ini dengan penyakit kuku dan mulut pada binatang ternak. Biar namanya mirip, tapi penyakit ini sama sekali berbeda dengan penyakit kuku dan mulut pada sapi misalnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, kebanyakan virus penyebab penyakit MKT termasuk enterovirus yang dikenal sebagai virus coxsackie A16 atau enterovirus 71. Virus coxsackie adalah sejenis enterovirus yang hidup di usus halus. “Karena penyakit ini disebabkan oleh virus, biasanya penyakit ini akan sembuh sendiri dalam waktu 5–7 hari,” kata Prof. Sri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun begitu, ini bukan berarti Anda tak harus waspada. Sebab, bisa saja virus yang menyebabkan penyakit ini berbeda serotipe. Menurut National Center of Infectious Disease , Amerika Serikat, virus coxsackie yang masih sekeluarga dengan virus polio ini sangat mudah bermutasi alias berubah bentuk jadi serotipe yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jangan sampai komplikasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun orang dewasa bisa juga tertular, penyakit MKT ini lebih sering tampak pada anak-anak di bawah usia 10 tahun, termasuk pula bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, jika bintil berair itu ada di mulut si kecil, bisa dibayangkan betapa perihnya mulut yang tampaknya seperti sariawan itu. Untuk mengurangi rasa sakit tersebut, umumnya dokter memberi obat oles mulut, semacam obat untuk sariawan. Antibiotika tidak diperlukan, kecuali ada tambahan infeksi bakteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Juga, karena mulutnya perih, orang tua sangat khawatir karena anaknya tidak mau makan dan minum,” jelas Prof. Sri Rezeki. Makanya, anak yang dirawat umumnya hanya diberi cairan infus sebagai pengganti makanan yang dibutuhkan tubuh. Uniknya, si kecil biasanya tidak kelihatan seperti anak sakit. Tak heran, kalau selama dalam perawatan, ia bisa mondar-mandir di kamar sambil membawa infus yang menempel di lengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, penyakit MKT ini jarang membahayakan penderitanya, kecuali kalau ada komplikasi. Walau begitu, kalau anak masih saja demam, mengantuk, lemas dan tidak bergairah, segeralah bawa ke dokter. Bisa jadi telah terjadi komplikasi. Kalau dibiarkan berlarut-larut, dikhawatirkan virus bisa sampai ke jaringan otak dan menyebabkan ensefalitis (radang jaringan otak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ini yang terjadi, akibatnya bisa fatal. Inilah yang dialami oleh murid sekolah dasar di Malaysia tahun 1997. Dari ratusan murid sekolah yang harus dirawat di rumah sakit, 26 orang di antaranya meninggal. Waktu itu, sekolah sampai harus diliburkan selama seminggu. “Jika penyebab penyakit MKT ringan, sekolah tak perlu diliburkan kok,” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jaga kebersihan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang benar-benar perlu diwaspadai adalah, penyakit ini sangat mudah menular. Proses penularannya bisa dari cairan yang keluar dari bintil-bintil di mulut, kaki dan tangan, bisa juga dari kotoran (tinja) si kecil. “Anak yang terkena MKT (dengan bintil-bintil di tangan yang baru pecah) memegang mainan, lalu mainan itu dipegang oleh temannya. Dari sini, jelaslah bahwa si teman anak sudah tertular,” ujar Prof. Sri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga, karena menahan rasa sakit di mulut, anak-anak yang masih kecil tak jarang meneteskan air liur. Nah, air liur itu bisa saja menetes pada bajunya. Jika baju yang basah itu kemudian dipegang oleh orang lain, ya ikut-ikutan tertular juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana penularan via kotoran? Gampang juga. Dari kotoran yang menempel pada diaper yang tak langsung dibuang, atau tangan pengasuh yang kurang bersih dicuci setelah membersihkan kotoran bayi. “Tangan yang sudah tertempel virus itu berpotensi menularkan penyakit pada orang lain. Apalagi, bila ia harus pula menyediakan makanan atau memegang makanan,” ujarnya lagi. Apa jalan keluarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika bayi Anda terkena MKT, sebaiknya diaper yang kotor terkena tinja langsung dibuang dan dimusnahkan. Apalagi, virus yang tersimpan dalam tinja bisa bertahan lama. Juga, si pengasuh harus lebih memperhatikan kebersihan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, jangan dikira jika si kecil yang sudah sembuh serta bintil berisi cairan di mulut dan tangan sudah hilang, tidak mungkin menularkan MKT lagi! Sekalipun sudah lewat 2 minggu, Anda harus tetap waspada. Tinja si kecil masih bisa menularkan virus itu.(ayahbunda)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-8265774181057700577?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/8265774181057700577/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=8265774181057700577' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/8265774181057700577'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/8265774181057700577'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/09/coxsackie-virus-penyerang-balita.html' title='Coxsackie, Virus Penyerang Balita'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-8494908736679121215</id><published>2009-09-15T09:00:00.000-07:00</published><updated>2009-09-15T09:00:03.059-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ultah'/><title type='text'>Seru Pestaku !</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari ulang tahun anak, Anda ingin si kecil dan teman-temannya bergembira ria. Apa saja aktivitas asyik yang membuat pesta berlangsung seru?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesta ulang tahun yang berkesan, merupakan hadiah indah yang dapat orang tua berikan pada anak. Meski hanya berlangsung beberapa jam, kenangan pesta yang menyenangkan akan membekas dalam memori si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hal penting perlu diperhatikan sebelum memutuskan membuat pesta jenis tertentu, yaitu usia dan minat anak. Pesta untuk anak usia satu dan dua tahun, tentu berbeda dengan pesta untuk anak usia tiga, empat dan lima tahun. Pada setiap tahapan usia, minat anak-anak memang bisa berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan pesta ulang tahun yang meriah dan keren, Anda perlu mempersiapkan dan menciptakan berbagai aktivitas menarik pengisi acara pesta. “Ayo berpesta….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Bermain pasir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Main pasir? Waah… senang sekali! Permainan ini bisa dimainkan oleh kurang dari lima anak. Tujuannya untuk mengakrabkan anak sambil menunggu tamu lain tiba. Sediakan pasir yang biasa dimainkan anak dan beberapa wadah seperti gelas plastik warna-warni. Mintalah tamu-tamu si kecil berkumpul dan bermain pasir bersama. Lewat permainan ini, anak-anak lebih mudah saling kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Menggambar di giant card&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sediakan kertas karton berukuran 120 cm x 200 cm, serta krayon. Tempelkan kertas karton yang di atasnya tertera ucapan “Selamat Ulang Tahun” untuk anak Anda di salah satu bagian dinding rumah yang bisa dijangkau anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tamu-tamu si kecil berdatangan, mintalah mereka menggambar apa saja di kertas raksasa itu. Setelah tercipta gambar, mintalah mereka menuliskan nama di dekat gambar yang dibuat. Kemudian, buatlah foto close up gambar tersebut, beri bingkai dan lantas gabungkan dengan foto keluarga Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Berebut kursi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sediakan kursi kecil sebanyak jumlah anak yang ingin ikut permainan ini. Atur kursi dalam bentuk lingkaran. Minta anak-anak berdiri di depan kursi. Lantas, ajak anak-anak berjalan berputar seiring bunyi lagu yang diperdengarkan. Ketika musik berhenti, serukan agar anak-anak duduk di kursi yang tersedia. ”Ya… ayo cepat pilih kursi yang ingin diduduki.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurangi satu kursi, kemudian minta anak kembali berjalan berputar di depan kursi. Matikan lagu, perintahkan anak untuk duduk kembali di kursi yang bisa ia duduki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi anak yang tidak mendapat kursi, minta ia duduk berdua teman yang mendapat kursi. Lakukan ini sampai jumlah kursi tersisa sejumlah tertentu yang membuat anak-anak duduk berdua-dua dalam satu kursi. Dengan permainan ini, anak belajar bersosialisasi sekaligus belajar berhitung, tanpa merasa tereliminasi karena tidak kebagian kursi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Meniru binatang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumpulkan anak-anak untuk duduk melingkar di atas tikar atau halaman rumput. Anda berdiri di tengah lingkaran dan memberi contoh gerakan ayam dan bebek. Bila Anda menyebut kata “ayam”, anak-anak harus meniru gerak dan bunyi ayam jago. “Kepak… kepak kukuruyuk… kukuruyuk!” Begitupun ketika Anda mengatakan “bebek”, anak-anak meniru gerak dan bunyi bebek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumpulkan beberapa anak yang keliru meniru gerak binatang yang disebutkan. Tanpa bermaksud menghukum, mintalah mereka meniru gerak binatang yang mereka sukai. Mintalah anak-anak lain menebak binatang yang mereka peragakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. Tiup-tiup bubble&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagikan balon sabun untuk ditiupi anak-anak bersama-sama. Pusat perhatian dari kegiatan ini bukan pada besarnya balon yang dapat mereka tiup, tetapi memecahkan balon besar yang mereka buat. Permainan ini mengandalkan koordinasi seluruh tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6. Ini dia si magic balloon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menebak bentuk balon merupakan permainan menyenangkan. Kemampuan mengimajinasi bentuk binatang, diperlukan dalam permainan ini. Mintalah anak menebak bentuk balon saat balon mulai ditiupkan. Anak yang dapat menebak dengan tepat berhak mendapatkan hadiah balon yang berhasil ditebaknya. Bagi anak-anak yang tidak berhasil menebak, Anda tetap bisa memberikan hadiah balon di akhir permainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7. Finger painting&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggambar dengan jari menimbulkan sidik jari. Sediakan kertas dan cat warna nontoxic . Permainan ini dapat Anda sediakan sebagai pilihan bila ada tamu si kecil yang tidak ingin bermain bersama teman-teman lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8. “Pinataku Ada Permennya….”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan penutup pesta a la Mexico ini sangat seru dan menyenangkan. Sediakan Piñata, dan minta anak yang berulang tahun untuk memukulnya hingga pecah. Biasanya tamu-tamu si kecil sangat antusias menunggu turunnya ‘hujan kembang gula’, dari tubuh Pinata yang dipecahkan. Upayakan perebutan kembang gula berlangsung aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu pula dicermati anak-anak tak terlalu dekat Piñata agar tak terkena pukulan nyasar teman ketika Piñata dipukul. Permainan ini mengandalkan kekuatan otot lengan dan pergelangan tangan serta koordinasi mata-tangan si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Immanuella F. Rachmani(ayahbunda)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-8494908736679121215?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/8494908736679121215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=8494908736679121215' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/8494908736679121215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/8494908736679121215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/09/seru-pestaku.html' title='Seru Pestaku !'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-5993429864910010235</id><published>2009-09-10T19:22:00.000-07:00</published><updated>2009-09-10T19:22:00.375-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nutrisi-Suplemen-Makanan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips - Kiat'/><title type='text'>Agar Anak Suka Sayuran</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;       &lt;p&gt;Ini sudah menjadi keluhan umum dari para orang tua ketika memberikan makan sayuran maka anak akan menutup mulutnya atau menolak memakannya. Memang membuat anak suka makan sayuran tidak mudah tetapi sebagai orang tua kita tetap harus mencoba membuat anak suka makan sayuran dan buah, karena sayur dan buah sangat baik buat kesehatan mengandung serat dan vitamin yang dibutuhkan. Dan lagi dengan membuat anak suka makan sayuran maka kita membiasakan cara hidup sehat untuk anak kita yang akan bermanfaat bagi kesehatannya di masa yang akan datang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bagaimana membuat anak suka sayuran, sekalilagi tidak mudah tapi juga tidak terlalu sulit yang terpenting orang tua mau terus bersabar dan mencoba semua tip dan trik untuk membuat anak suka makan sayuran.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dibawah ini beberapa tips untuk membuat anak suka makan sayuran:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sejak dini&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mulailah sejak dini memperkenal berbagai variasi makanan sayuran dan buah. Anda dapat memulai sedini mungkin sejak bayi mulai disapih.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Orang tua adalah contoh yang baik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Nah bila orang tua mau anaknya suka sayuran, maka orang tua harus memberikan contoh bahwa merekapun suka makan sayuran. Makanlah sayuran – buahan dihadapan anak anda sehingga si kecilpun lama kelamaan akan tertarik untuk mencobanya. Bila orang tua tidak suka makan sayuran, bagaimana dengan si kecil dong?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kreatifitas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kadang sebagai orang tua kita harus lebih kreatif untuk membantu supaya anak kita suka makan sayuran, dengan membuat masakan sayuran tersebut menarik buat si kecil, jadi tidak selalu tampak sayuran hijau tapi buat sekreatif mungkin, misalnya memotong kecil-kecil lalu dapat di masukan ke mie, nasi tim atau roti isi dsb. Buatlah sekreatif mungkin sehingga anak menyenanginya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Rasa yang enak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Yang satu ini juga cukup penting selain membuat menarik maka hidangkan rasa sayuran yang enak dan sedap membuat si kecil mau mencobanya lagi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Snak buah yang menarik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Snak buah yang menarik? Ya kenapa tidak mencoba menganti snak yang sehat, cobalah hidangkan snak buah anda semenarik, variasi warna dan variasi buah yang membuat sikecil tertarik untuk mencobanya juga dapat dengan membuat Puding dengan taburan buahan, salad buah, jus buahan dll.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Memotivasi BUKAN memaksa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tidak usah memaksa anak atau mengancam anak untuk memakan sayurannya, tapi cobalah memotivasi dengan menjelaskan bahwa sayuran itu baik buat kesehatan dll. Bila anak belum mau mencoba jenis sayuran tertentu, sisihkan dahulu dan cobalah kembali beberapa hari kemudian.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Diatas adalah beberapa tips untuk membantu anda membuat anak suka makan sayuran. Anda dapat memvariasikan semua tips yang anda ketahui dan dapatkan, sehingga dapat membuat si kecil tercinta suka makan sayuran. [&lt;em&gt;www.myonlinerecipe.com&lt;/em&gt;]&lt;/p&gt;        &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-5993429864910010235?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/5993429864910010235/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=5993429864910010235' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/5993429864910010235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/5993429864910010235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/09/agar-anak-suka-sayuran.html' title='Agar Anak Suka Sayuran'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-3255280078964955514</id><published>2009-09-05T08:09:00.000-07:00</published><updated>2009-09-05T08:09:00.307-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='First Aid'/><title type='text'>Tersiram Air Panas</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan kondisi luka yang dialami si kecil. Karena, tidak semua anak dengan luka bakar tersiram air panas perlu dibawa ke dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luka tersiram air panas termasuk luka bakar. Nah, untuk memudahkan perawatan, perlu juga diketahui beratnya luka bakar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tentukan berat ringannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beratnya luka bakar dibagi menjadi tiga derajat, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Luka bakar derajat satu , jika kulit yang tersiram air panas memerah dan terasa nyeri. Biasanya, sembuh dalam waktu seminggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Luka bakar derajat dua , bila kulit memerah, nyeri, serta timbul juga gelembung (melepuh). Ini berarti ada kerusakan pada lapisan kulit, otot, dan lemak. Umumya, bisa sembuh dalam waktu dua minggu, bila tanpa infeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Luka bakar derajat tiga , kalau timbul kerusakan yang lebih dalam lagi. Badan yang terkena akan tampak hangus atau kehitaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jangan panik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, siapa sih yang tidak kaget mendengar jeritan kesakitan si kecil akibat tersiram air panas? Sebaiknya segera atasi perasaan itu, agar Anda bisa memberi pertolongan pertama padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bila bagian tubuh yang tersiram air panas tidak tertutup pakaian, langsung siram secara perlahan-lahan dengan air putih dingin sekitar 10 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bila yang tersiram adalah bagian tubuh yang tertutup pakaian, siram langsung bagian tersebut. Setelah itu, baru buka pakaian si kecil dengan hati-hati. Bila ini sulit dilakukan, gunting saja pakaian atau celana yang dipakainya, lalu siram lagi bagian yang terluka itu dengan air dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kompreslah dengan kain bersih yang diberi air dingin sampai rasa sakitnya berkurang. Anda boleh memberinya parasetamol atau asetaminofen untuk mengurangi rasa sakit si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tutup/balut bagian tubuh yang terluka dengan kain kassa steril untuk menghindari kemungkinan terjadinya infeksi. Sebelumnya, oleskan salep khusus untuk luka bakar atau salep antibiotik. Jangan balut luka terlalu kencang, dan balutan harus melebihi bagian yang luka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kapan harus ke dokter?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada luka bakar derajat pertama, sebenarnya Anda tidak perlu membawa si kecil ke dokter. Apalagi, bila Anda merasa mampu atau yakin untuk melakukan pertolongan pertama padanya. Namun, pada luka bakar dengan derajat lebih tinggi, mengenai muka dan mata atau bagian tubuh yang luas (lebih dari 20%), ia harus cepat-cepat dibawa ke dokter atau Unit Gawat Darurat. Juga, periksakan segera si kecil ke dokter bila rasa sakitnya tidak hilang setelah 2 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain merusak kulit dan jaringan setempat, luka bakar juga bisa mengakibatkan hilangnya cairan dan elektrolit. Akibatnya, darah jadi lebih kental. Nah, keadaan ini bisa menimbulkan syok. Itu sebabnya, pengobatan terhadap luka bakar meliputi obat setempat untuk kulit, obat antiinfeksi, obat penghilang nyeri, dan cairan (pada kasus yang berat perlu dipasang infus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dewi Handajani&lt;/span&gt;(ayahbunda)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-3255280078964955514?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/3255280078964955514/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=3255280078964955514' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/3255280078964955514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/3255280078964955514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/09/tersiram-air-panas.html' title='Tersiram Air Panas'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-1764000748251081097</id><published>2009-09-01T20:16:00.000-07:00</published><updated>2009-09-01T20:16:00.494-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi - interaksi'/><title type='text'>Pentingnya memberi Lebih Banyak Waktu Untuk Anak</title><content type='html'>&lt;div&gt;Lembaga Kebijakan Publik Radcliffe di Amerika Serikat menunjukkan bahwa para ayah sekarang ini lebih mengutamakan keluarga mereka dibanding karir. Hal ini disinyalir sebagai kejadian pertama kalinya dalam sejarah lembaga penelitian tersebut. &lt;/div&gt; &lt;div&gt;Apakah selama ini Anda merasakan bahwa kedekatan dengan buah hati ternyata begitu menyenangkan dan bermanfaat bagi pertumbuhan mereka? Mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang bahagia, cerdas dan penuh keberanian untuk menghadapi segala sesuatu dalam kehidupannya. &lt;p&gt;Berikut ini kutipan beberapa hasil penelitian mengenai peranan seorang ayah dalam pertumbuhan anak mereka. Semoga Anda dapat semakin percaya dan yakin mengenai pentingnya kedekatan seorang ayah dan anak :&lt;/p&gt; &lt;table border="0" cellpadding="1" cellspacing="1"&gt; &lt;tbody&gt; &lt;tr&gt; &lt;td align="right" valign="top"&gt;1.&lt;/td&gt; &lt;td align="justify"&gt;Seorang anak, baik laki-laki maupun perempuan yang dekat dengan ayah mereka pada umumnya akan memiliki tingkatan &lt;em&gt;IQ &lt;/em&gt;yang cukup tinggi dan memiliki prestasi akademis yang dapat dibanggakan.&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td align="right" valign="top"&gt;2.&lt;/td&gt; &lt;td&gt;Kedekatan ayah dengan anak-anaknya dalam hal urusan sekolah ternyata dapat menentukan semangat belajar mereka dalam mempelajari sesuatu.&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td align="right" valign="top"&gt;3.&lt;/td&gt; &lt;td valign="top"&gt;Bila seorang ayah melakukan kekerasan atau perbuatan yang menyakiti istri, maka penderitaan itu tidak hanya dirasakan oleh sang istri namun akan dirasakan juga oleh buah hati mereka. Anak yang menjadi saksi kekerasan itu cenderung tumbuh menjadi anak yang bersifat asosial, sulit bergaul dan sering berurusan dengan hal-hal negatif.&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td valign="top"&gt;4.&lt;/td&gt; &lt;td valign="top"&gt;Kedekatan antara ayah dan anak dapat mendorong anak tumbuh dengan sehat, berkemampuan menangkap maksud orang lain, mendorong anak untuk memiliki persahabatan yang erat dengan sesamanya, dan mendidik anak menjadi orang dewasa yang memiliki kecerdasan iterpersonal yang baik.&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt; &lt;/div&gt; Memang tidak akan rugi bila Anda menjaga kedekatan hubungan dengan anak Anda, semua itu justru akan memberi banyak manfaat untuk Anda sebagai ayah. Masih ingin menunggu untuk memberi lebih banyak waktu kepada buah hati tercinta? [&lt;strong&gt;&lt;em&gt;ab&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-1764000748251081097?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/1764000748251081097/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=1764000748251081097' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/1764000748251081097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/1764000748251081097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/09/pentingnya-memberi-lebih-banyak-waktu.html' title='Pentingnya memberi Lebih Banyak Waktu Untuk Anak'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-8126686464521767532</id><published>2009-08-28T07:20:00.000-07:00</published><updated>2009-08-28T07:20:00.182-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aktifitas Anak'/><title type='text'>Hiperaktif, “Anak Nakal” yang Butuh Pertolongan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak yang lasak bergerak sering dicap nakal. Padahal, mungkin saja ia bukan sembarang nakal tapi ada gangguan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki usia 4 tahun, polah Rio benar-benar membuat orang tuanya kewalahan. Ia lasak bergerak. Seolah-olah tidak kenal arti lelah. Juga, teman atau anak sebayanya sering menangis setelah ‘disapa’ Rio. Ia pun dijauhi dan mendapat cap anak nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Nakal’ seperti Rio adalah ciri dari anak yang menderita Attention Deficit Hiperactive Disorder (ADHD) atau Gangguan Pemusatan Perhatian &amp;amp; Hiperaktivitas (GPPH). Dan, hubungan sosial si penderita dengan lingkungannya memang kerap jadi terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, jumlah penderita ADHD di Indonesia cenderung terus meningkat. Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bisa cuma aktif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balita Anda kelihatan aktif? Sebenarnya, itu wajar-wajar saja. Karena, inilah usia di mana anak sedang giat-giatnya mengeksplorasi lingkungannya. “Dalam rentang usia itu, balita berada dalam fase otonomi atau mencari rasa puas melalui aktivitas geraknya. Tapi, kalau ia terlalu aktif atau malah hiperaktif, tentu saja ini tidak wajar!” tegas dr. Dwijo Saputro, psikiater anak dan Pimpinan “SmartKid”, klinik perkembangan anak dan kesulitan belajar di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farhan, presenter kondang, langsung menyadari kalau anak sulungnya, Ridzky (5 tahun), kelewat aktif. “Kalau lagi senang, ia sering memutar-mutarkan badannya, berteriak-teriak, lari ke sana-sini, serta lari berputar-putar mengelilingi sebuah benda. Kalau dia senang dengan suatu gambar, langsung deh gambar itu dirobek-robek,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Kristi Meisenbach Boylan , penulis yang tinggal di Texas, Amerika Serikat, mengaku agak kaget juga ketika dihadapkan pada kenyataan anak keduanya, Brandan , termasuk anak dengan kebutuhan khusus. Padahal, awalnya ia mengira Brandan hanya agak aktif saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kapan anak disebut hiperaktif? “Terus terang, tidak ada alat ukur yang bersifat obyektif dan tegas untuk menentukannya. Karenanya, para ahli sepakat menentukan sejumlah kriteria yang menjadi ciri khas. Dan, sebelum memastikannya, akan dilakukan diagnosa berdasarkan panduan sejumlah kriteria yang dibuat oleh Perhimpunan Psikiater Anak di Amerika Serikat, yakni Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders ( DSM). Yang terbaru saat ini adalah DSM Seri 4,” jelas dr. Dwijo yang mengambil spesialisasi psikiatri dari Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, tahun 1983.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk gampangnya, ADHD bisa digolongkan menjadi beberapa tipe. Kalau anak memiliki kriteria konsentrasi buruk dan hiperaktif, maka gangguannya disebut ADHD tipe kombinasi. Jika kriterianya sulit berkonsentrasi, anak termasuk penderita ADHD tipe sulit konsentrasi. Lalu, anak yang menunjukkan perilaku hiperaktif dan impulsif saja tergolong sebagai penderita ADHD hiperaktif-impulsif. “Kadang-kadang, ada juga anak yang sekilas kriterianya mirip ADHD. Tapi, setelah diperinci satu demi satu, ternyata tidak ada yang cocok. Nah, ini termasuk ADHD tidak tergolongkan,” jelas dr. Dwijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Usia 3, 5 - 7 tahun yang rawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, gangguan ADHD tidak begitu sulit dideteksi. Karena, ciri-cirinya begitu khas; yakni sulit berkonsentrasi dan hiperaktif maupun impulsif pada setiap situasi. Dan, gangguan perilaku itu kerap menyebabkan anak gagal melakukan aktivitas dalam kehidupan sehari-harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, Anda tidak bisa begitu saja mengatakan kalau si kecil Anda pasti menderita ADHD, semata-mata ‘bermodalkan’ ketiga ciri utama itu. Balita Anda masih harus memiliki enam dari sembilan kriteria yang ditetapkan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (lihat boks “Beberapa Kriteria Anak ADHD”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga ciri utama ADHD sebenarnya sudah bisa diketahui sebelum anak berusia tujuh tahun. Tepatnya, menurut dr. Dwijo, antara usia 3,5 - 7 tahun. Tapi, ada juga anak yang gangguan ADHD-nya sudah terlihat pada umur 1,5 - 2,5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan ini terbukti diwariskan secara genetik. “Dan, kebanyakan penderitanya adalah anak laki-laki. Kalau mau dibuat perbandingan, kira-kira 2-6 kali lebih banyak ketimbang anak perempuan,” tambah dr. Dwijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketidakberesan otak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah penelitian telah dilakukan oleh para ahli di berbagai pelosok dunia untuk menyingkap penyebab pasti gangguan ini. Bahkan, para ahli telah menggunakan peralatan paling mutakhir untuk melakukan pencitraan otak. Misalnya, Positron Emission Tomography (PET), Single Photon Emission Computed Tomography (SPECT), serta Magnetic Resonance Imaging (MRI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, barulah diketahui memang ada yang salah pada otak anak ADHD. “Kelainan pada otak ini bisa terjadi di bagian depan otak, namun bisa pula terjadi pada senyawa kimia penghantar rangsang atau neurotransmitter. Khususnya, dari jenis dopamin dan norepinefrin, ” jelas dr. Dwijo. “Otak anak penderita ADHD, khususnya otak kanan, memiliki ukuran yang lebih kecil,” tambah dr. Dwijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Minum obat atau tidak?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, penanganan penderita ADHD bisa dilakukan dengan beberapa cara. Hanya saja, karena ‘biang keladi’ dari gangguan ini adalah otak, mau tidak mau penanganannya ya dimulai dari otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut, dr. Dwijo, yang juga Koordinator Pelatihan Psikiatri di RS Graha Medika, Jakarta, “Khusus penderita ADHD yang masih berusia di bawah lima tahun, biasanya ia diterapi perilaku dulu. Bentuk terapinya bisa berbeda-beda, karena sifatnya benar-benar case by case . Terapi ini bisa juga dilakukan oleh orang tua. Tentunya, setelah orang tua mendapat bimbingan dari psikiater anak. Bila terapi ini tidak membuahkan hasil, barulah obat diberikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang terjadi pada Ridzky, anak Farhan. Sebagai penderita autis dengan spektrum ADHD, ia harus menjalani dua macam terapi. Pertama, ABA ( Applied Behavioral Analysis), yaitu terapi yang meminta dia mengikuti semua aturan yang diberikan. Dalam setiap aturan, ada punishment dan reward. Kedua, SI ( Sensory Integration), yakni terapi untuk merangsang impuls sensorinya, sehingga dia dapat mengkoordinasikan gerakan otot tubuh sesuai perintah dari otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obat, biasanya, diberikan belakangan karena hingga kini terapi obat masih banyak menimbulkan kontroversi di kalangan ahli. Apakah pemberian obat tidak akan menyebabkan ketergantungan nantinya? “Memang dosis obat tergantung pada seberapa ‘salah’ otak si penderita ADHD. Dan, tidak tertutup kemungkinan, ia akan terus minum obat sampai dewasa. Meski begitu, biasanya dokter sudah memperhitungkan secara akurat dosis obat yang sesuai bagi pasiennya,” kata dr. Dwijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhawatiran terhadap efek samping terapi obat juga sempat dirasakan oleh Kristi, “Sebelum Brandan didiagnosa, kami selalu menghindari penggunaan obat-obatan. Sehingga, begitu dokter memberi beberapa jenis obat sebagai terapi, wah benar-benar seperti mimpi buruk!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kristi, yang menulis seluruh pengalaman hidupnya selama merawat Brandan dalam buku “Born to be Wild, Freeing the Spirit of the Hyperactive Child” melanjutkan, “Setelah Brandan menunjukkan gejala efek samping dari pemakaian obatnya, yakni muntah-muntah, kami memutuskan untuk menghentikan semua terapi obat ketika ia berusia delapan tahun. Sekarang, di usianya yang ke-12, Brandan sudah sepenuhnya bebas dari pengaruh efek samping obat-obatan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Orang tua musti kompak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, penanganan anak penderita ADHD, baik dalam bentuk terapi perilaku maupun terapi obat, tidak akan memberikan hasil yang optimal bila tidak ditunjang oleh sikap kedua orang tuanya. Kristi, misalnya. Ia dan suaminya ingin Brandan bebas dari segala obat-obatan, sekaligus membiarkan Brandan menjadi dirinya sendiri. Untuk yang terakhir ini, mereka sengaja memindahkan Brandan dari sekolah khusus ke sekolah umum. “Di sekolah baru, gurunya tahu benar cara bersikap dan bertindak terhadap anak-anak seperti Brandan. Brandan juga jadi happy ,” kata Kristi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan ini, dr. Dwijo mengingatkan, “ADHD adalah satu-satunya gangguan perilaku yang paling mudah ditangani dan bisa diobati. Makanya, penanganan harus sedini mungkin. Dan, ini dimungkinkan bila Anda dan pasangan cepat tanggap dan menyadari bahwa perilaku si kecil berlebihan. Dari sini, segeralah berkonsultasi pada ahlinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7.000 Kasus Baru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Amerika Serikat, sekitar 2-10% populasi anak sekolah menderita ADHD. Sementara di Indonesia, dalam populasi anak sekolah, ada 2-4% anak yang menderita ADHD. Namun, di kota-kota besar, seperti Jakarta, persentasenya bisa lebih tinggi lagi. Minimal ada lebih dari 10% anak penderita ADHD. Dan, yang agak memprihatinkan adalah, diperkirakan akan ada sekitar 7.000 kasus baru setiap tahunnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Beberapa Kriteria ADHD&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria sulit konsentrasi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sering melakukan kecerobohan atau gagal menyimak hal yang rinci dan sering membuat kesalahan karena tidak cermat.&lt;br /&gt;- Sering sulit memusatkan perhatian secara terus-menerus dalam suatu aktivitas.&lt;br /&gt;- Sering tampak tidak mendengarkan kalau diajak bicara.&lt;br /&gt;- Sering tidak mengikuti instruksi dan gagal menyelesaikan tugas.&lt;br /&gt;- Sering sulit mengatur kegiatan maupun tugas.&lt;br /&gt;- Sering menghindar, tidak menyukai, atau enggan melakukan tugas yang butuh pemikiran yang cukup lama.&lt;br /&gt;- Sering kehilangan barang yang dibutuhkan untuk melakukan tugas.&lt;br /&gt;- Sering mudah beralih perhatian oleh rangsang dari luar.&lt;br /&gt;- Sering lupa dalam mengerjakan kegiatan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kriteria hiperaktif dan impulsif:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sering menggerak-gerakkan tangan atau kaki ketika duduk, atau sering menggeliat.&lt;br /&gt;- Sering meninggalkan tempat duduknya, padahal seharusnya ia duduk manis.&lt;br /&gt;- Sering berlari-lari atau memanjat secara berlebihan pada keadaan yang tidak selayaknya.&lt;br /&gt;- Sering tidak mampu melakukan atau mengikuti kegiatan dengan tenang.&lt;br /&gt;- Selalu bergerak, seolah-olah tubuhnya didorong oleh mesin. Juga, tenaganya tidak pernah habis.&lt;br /&gt;- Sering terlalu banyak bicara.&lt;br /&gt;- Sering terlalu cepat memberi jawaban ketika ditanya, padahal pertanyaan belum selesai.&lt;br /&gt;- Sering sulit menunggu giliran.&lt;br /&gt;- Sering memotong atau menyela pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Obat Menyebabkan Ketergantungan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada pro dan kontra seputar hal ini. Meski begitu, tidak ada salahnya bila Anda menyimak uraian Robert D. Hunt, dari National Institute of Mental Health , Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam artikelnya di Pediatric Annals , edisi Maret 2001, ia menguraikan, prinsip dasar obat-obatan yang diberikan untuk terapi penderita ADHD adalah memanipulasi senyawa-senyawa kimia yang menjadi bahan baku pembentuk neurotransmitter yang terganggu, sehingga mendekati kondisi normal. Nah, bila manipulasi dilakukan sejak usia dini, diharapkan tubuh penderita lama kelamaan akan mampu mengurangi ketergantungannya pada obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tips agar si Kecil Tenang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Lingkungan rumah tenang.&lt;br /&gt;- Suasana kamar teduh.&lt;br /&gt;- Terapkan aturan dengan tegas.&lt;br /&gt;- Sediakan ruangan untuk santai.&lt;br /&gt;- Biasakan anak mengekspresikan emosinya dalam bentuk tulisan atau gambar.&lt;br /&gt;- Piknik ke tempat yang indah dapat membantu si kecil menanamkan hal-hal positif di dalam pikiran.&lt;br /&gt;- Aturlah pola makan. Hindari konsumsi gula dan bahan makanan berkadar karbohidrat tinggi.&lt;br /&gt;- Ajari anak untuk berlatih menenangkan diri sendiri. Caranya, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya melalui mulut. Ulangi beberapa kali.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-8126686464521767532?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/8126686464521767532/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=8126686464521767532' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/8126686464521767532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/8126686464521767532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/08/hiperaktif-anak-nakal-yang-butuh.html' title='Hiperaktif, “Anak Nakal” yang Butuh Pertolongan'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-3968556873098110913</id><published>2009-08-20T06:35:00.000-07:00</published><updated>2009-08-20T06:35:00.790-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aksesoris Anak'/><title type='text'>Sepatu Sehat</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna ceria dan desain bagus tak cukup. Ada sederet kriteria lain agar kaki mungil si kecil tetap sehat dengan sepatu barunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak anak mulai berjalan, kakilah yang selalu menanggung beban terberat sepanjang hidupnya. Masalahnya, kadangkala Anda “menelantarkan” kakinya dengan memakaikan sepatu yang tak cocok. Apa yang perlu diperhatikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Saatnya harus tepat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, bayi sudah mulai memerlukan sepatu sebelum ia bisa menapak lantai. Nah, sepatu semacam ini lebih berfungsi sebagai kaus kaki yang menghangatkan kaki serta aksesoris untuk mempercantik kaki ketika bepergian. Jadi, bahannya harus nyaman dan lembut. Juga, tidak boleh pas-pasan agar tidak menghambat pertumbuhan kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, sepatu baru benar-benar dibutuhkan ketika si kecil belajar berjalan. Kalaupun ia sudah mulai belajar berjalan sendiri, tunggu dulu selama 6–8 minggu. Setelah “mantap” berjalan, barulah Anda boleh memakaikan sepatu. Kenapa begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepatu berguna untuk melindungi kaki dari benda tajam, kotor, dan sebagainya. Namun, jika si kecil berjalan di dalam rumah yang bersih dan aman, biarkan saja ia berjalan tanpa alas kaki. Dengan bertelanjang kaki, ia belajar untuk mengenali benda yang disentuh kakinya. Misalnya, lantai yang dingin, kasar, licin, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ukuran musti pas!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berarti, sepatunya tidak boleh terlalu sesak, namun juga tidak terlalu longgar. Pasalnya, tulang kaki anak belum terbentuk sempurna sampai usia 6 tahun. Tulangnya masih muda dan lunak. Otot-otot dan jaringan ikat di kaki juga mudah “memuai”. Sepatu yang kekecilan dapat merusak pertumbuhan kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, sepatu yang kebesaran juga tidak oke. Biasanya, Anda cenderung membeli sepatu yang ukurannya lebih besar dengan harapan waktu pakainya bisa lebih lama. Padahal, ketika si kecil berjalan, bagian belakang sepatu akan menggesek-gesek tumit kakinya. Akibatnya? Bukan saja proses berjalannya jadi terhambat, kulit kaki pun lecet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa jalan ke luarnya? Ketika sedang mencoba-coba sepatu, tekan ujung depan sepatu anak. Ini cara mudah untuk mengetahui apakah ada sisa ruang di depan jarinya. Sebaiknya, jarak antara sepatu dengan ujung jari kaki terpanjang sekitar 2 cm. Atau, minta anak menggerakkan ujung jarinya. Jika ujung jarinya masih bisa digerakkan, maka sepatu pilihan sudah benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai catatan, jangan percaya begitu saja pada nomor sepatu anak. Karena, setiap pabrik punya standar ukuran sepatu yang beda-beda. Jika si kecil tidak ikut pergi, ukur panjang dan lebar kakinya, atau buat pola gambar kakinya dengan cara menjiplaknya pada secarik kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Trik memilih sepatu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saja yang perlu diperhatikan saat memberli sepatu anak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sol empuk dan bertekstur. Dengan begitu, ia tidak mudah terpeleset.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Penyangga telapak kaki empuk dan melengkung. Bagian melengkung di telapak kakinya jadi tersangga dengan baik. Untuk itu, tekan bantalan yang menyangga telapak kaki dengan jari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Lentur, sehingga kakinya jadi lebih fleksibel saat berjalan. Untuk mengecek kelenturannya, tekuk saja sepatu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bahan kuat biar bisa melindungi kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ringan, agar langkahnya tidak terhambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tak mudah lepas. Sebaiknya sepatu anak memakai tali, gesper atau velcro (perekat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jangan lupa kaus kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kapan Ganti Sepatu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan kaki anak memang sangat cepat. Agar pertumbuhannya tidak terhambat, sering-sering ukur kakinya. Idealnya, 3 kali setahun beli sepatu baru. Jangan tunggu sampai ujung jari anak tertekuk gara-gara sepatunya kekecilan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga, segera ganti sepatu si kecil kalau kakinya lecet, ia menolak dipakaikan sepatu, serta susah melangkah. Yang pasti, jangan berikan sepatu bekas pada adik, karena sudah “tercetak” kaki pemilik awalnya, yakni sang kakak. Kalau dipaksakan juga, pertumbuhan kakinya bisa terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Agar Tidak Salah Ukur...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengukur sepatu sebaiknya dilakukan setelah si kecil beraktivitas selama 2-3 jam. Kok begitu? Kalau kakinya sudah agak “memuai”, tingkat keakuratan pengukuran sepatu bisa lebih tinggi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-3968556873098110913?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/3968556873098110913/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=3968556873098110913' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/3968556873098110913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/3968556873098110913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/08/sepatu-sehat.html' title='Sepatu Sehat'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-9000281122401477292</id><published>2009-08-15T09:00:00.000-07:00</published><updated>2009-08-15T09:00:00.207-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkembangan Anak'/><title type='text'>Stimulasi Keterampilan Visual</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajak anak melakukan permainan yang merangsang kemampuan visualnya. Pengalaman ini kelak mendukung proses belajar terstrukturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti indera lain, penglihatan berperan penting dalam kegiatan bermain anak. Kemampuan organ yang sering disebut si ‘jendela hati’ ini semakin optimal, jika mendapat rangsangan yang sesuai.&lt;br /&gt;Pandangan terlatih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bermain visual, anak mengandalkan indera penglihatannya. Pandangan si kecil tak langsung berfungsi optimal saat dilahirkan. Sejalan dengan waktu dan kematangan organ, penglihatannya semakin matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia satu tahun, penglihatan anak mulai berkembang penuh. Ini membuat koordinasi mata dengan tangan dan tubuhnya semakin baik. Penglihatannya semakin berkembang baik sejalan dengan seringnya ia melakukan kegiatan meraih, menangkap dan meremas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usia 2 - 5 tahun, si kecil umumnya lebih suka menggambar dan melihat gambar. Cerita yang berhubungan dalam gambar, menggambar dan simbol-simbol seringkali menarik hati anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keterampilan dan persepsi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermain visual tak bisa lepas dari keterampilan-keterampilan visual motorik dan persepsi visual. Keterampilan visual motorik adalah kemampuan anak mengopi atau mencontoh bentuk, huruf dan angka. Khusus yang menggunakan penglihatan adalah untuk membantu menuliskan atau mengeluarkan hasilnya. Dasar dari keterampilan visual motorik anak prasekolah adalah menggabungkan garis atau titik-titik menjadi sebuah objek. Semakin terampil si kecil, semakin mirip bentuk yang dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara persepsi visual adalah kemampuan anak menggunakan informasi visual untuk mengartikan sesuatu yang dilihatnya. Saat si kecil mempelajari huruf, ia harus mengenali huruf tersebut, memanggil atau mengingat kembali seperti apa huruf tersebut dan membedakan dua huruf yang tampak serupa seperti “b” dan “p”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan yang baik dari dua keterampilan tersebut memudahkan anak saat masuk dunia sekolah, ketika ia belajar mengenal atau membuat bentuk, huruf dan angka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alat bermain yang sesuai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini alat bermain dan aktivitas yang dapat membantu mengembangkan keterampilan visual anak sesuai usia:&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;     &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;table border="1"&gt;     &lt;tbody&gt;         &lt;tr&gt;             &lt;td valign="top" width="127"&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Usia          &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;/td&gt;             &lt;td valign="top" width="274"&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Alat          bermain &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;/td&gt;             &lt;td valign="top" width="189"&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Aktivitas          &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;             &lt;td valign="top" width="127"&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;0          - 5 bulan &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;           &lt;/p&gt;             &lt;/td&gt;             &lt;td valign="top" width="274"&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Boks          bayi yang kokoh, rattle besar berwarna cerah dan mainan dari          karet yang berbunyi&lt;br /&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;/p&gt;             &lt;/td&gt;             &lt;td valign="top" width="189"&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peek-a-boo         &lt;br /&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;/p&gt;             &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;             &lt;td valign="top" width="127"&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;6          - 8 bulan &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;/td&gt;             &lt;td valign="top" width="274"&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Boneka          bulu, mainan plastik untuk di bak mandi &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;/td&gt;             &lt;td valign="top" width="189"&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cari-Sembunyi          (dengan menggunakan mainan) &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;           &lt;/p&gt;             &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;             &lt;td valign="top" width="127"&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;9          - 12 bulan &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;           &lt;/p&gt;             &lt;/td&gt;             &lt;td valign="top" width="274"&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Boks kardus yang kokoh, mainan yang dapat dibongkar pasang, balok, alat bermain yang menuntut keterampilan menyusun&lt;br /&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;/p&gt;             &lt;/td&gt;             &lt;td valign="top" width="189"&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menyusun          balok &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;             &lt;td valign="top" width="127"&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1          tahun &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;           &lt;/p&gt;             &lt;/td&gt;             &lt;td valign="top" width="274"&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bola          berwarna terang, balok, kuda goyang, mainan yang dikendarai/ didorong          dengan menggunakan kaki&lt;br /&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;/p&gt;             &lt;/td&gt;             &lt;td valign="top" width="189"&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Melempar          bola &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;             &lt;td valign="top" width="127"&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2          tahun &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;           &lt;/p&gt;             &lt;/td&gt;             &lt;td valign="top" width="274"&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pensil, spidol, krayon, peralatan perkakas pertukangan, mainan yang menutut kemampuan memilih berdasarkan bentuk atau ukuran, puzzle dan balok &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;           &lt;/p&gt;             &lt;/td&gt;             &lt;td valign="top" width="189"&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Membacakan          cerita, bermain di luar rumah tanpa mengenakan alas kaki; menangkap &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;           &lt;/p&gt;             &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;             &lt;td valign="top" width="127"&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;           &lt;/p&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;3          - 6 tahun &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;           &lt;/p&gt;             &lt;/td&gt;             &lt;td valign="top" width="274"&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Permainan bangun dengan komponen yang lebih besar, puzzle , krayon, finger paint , bola besar, alat bermain yang menuntut kemampuan mencocokkan atau memasangkan, sepeda roda tiga, buku stiker&lt;br /&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;/p&gt;             &lt;/td&gt;             &lt;td valign="top" width="189"&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Memanjat,          berlari, keseimbangan dengan balok, peralatan permainan playgroup          &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;           &lt;/p&gt;             &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;     &lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Grahita Purbasantika Nugraha&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-9000281122401477292?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/9000281122401477292/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=9000281122401477292' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/9000281122401477292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/9000281122401477292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/08/stimulasi-keterampilan-visual.html' title='Stimulasi Keterampilan Visual'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-2744740970269246996</id><published>2009-08-10T19:23:00.000-07:00</published><updated>2009-08-10T19:23:00.258-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uang dan Anak'/><title type='text'>Mengenalkan Uang Kepada Anak</title><content type='html'>Memahami cara menggunakan uang merupakan kiat sukses dalam menangani keuangan rumah tangga anda. Salah satu trik untuk menangani hal tersebut adalah dengan mengenalkan si anak cara menggunakan uang tanpa harus menjadi “matre”. &lt;p&gt;Awali dengan memberikan uang saku kepada anak sejak usia dini untuk membantu pekerjaan rumah tangga. Maka mereka dapat belajar cepat arti bekerja untuk mencari uang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ajari anak untuk bertanggungjawab dengan uang mereka dan bedakan antara mana yang harus dibelanjakan dan ditabung. Sebaiknya anda juga mengajari bagaimana membelanjakan uang secara bijaksana.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tunjukkan kepada anak bagaimana anda mendapatkan uang tambahan dengan cara menabung. Jelaskan cara kerja dan bunga bank atau bursa saham, agar mereka mengerti bahwa anda bisa membuat uang agar bertambah setiap harinya. Dengan begitu anak akan bersemangat menyisihkan uangnya untuk ditabung.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ajari mereka menghargai uang tapi bukan memujanya. Jika anda terus melatihnya, mereka akan semakin percaya diri dan mampu menangani urusan keuangan sendiri. [&lt;em&gt;perempuan&lt;/em&gt;]&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-2744740970269246996?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/2744740970269246996/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=2744740970269246996' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/2744740970269246996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/2744740970269246996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/08/mengenalkan-uang-kepada-anak.html' title='Mengenalkan Uang Kepada Anak'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-1713049318356328664</id><published>2009-08-05T08:11:00.000-07:00</published><updated>2009-08-05T08:11:00.381-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkembangan Anak'/><title type='text'>Don’t Worry, Be Happy!</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin punya anak sehat dengan proses tumbuh kembang yang pesat? Buat saja si kecil selalu bahagia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan membawa berkah. Ini juga berlaku buat kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dr. I.G. Nyoman Ayu Partiwi, Sp.A, MARS, staf pada Klinik Tumbuh Kembang, RS Bunda, Jakarta, emosi terkait erat dengan masalah kesehatan, termasuk buat anak-anak. Emosi contohnya, berdampak langsung pada kekebalan tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagaimana persisnya?.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuasaan Otak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagai saluran televisi kabel. Begitulah sistem saraf dan sistem peredaran darah di tubuh Anda. Kedua sistem ini yang mewadahi komunikasi antara otak dan seluruh tubuh yang muncul dalam berbagai bentuk kondisi kesehatan, demikian jelas dr. Partiwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otak tentu saja amat ‘berkuasa’. Ia bisa mempengaruhi tubuh melalui sistem saraf yang mengirim rangsang ke seluruh jaringan tubuh. Akibatnya, otak pun mempengaruhi perilaku berbagai organ tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya saja, otak, lewat sistem saraf dapat mempengaruhi perilaku sistem kekebalan tubuh, yang berhubungan dengan sumsum tulang belakang, yang notabene adalah ‘pabrik’ sel darah putih, sang pelawan penyakit. Nah, otak dan saraf tentu saja kadang ‘bergejolak’ dan memberikan stimulasi berdasarkan keadaan jiwa seseorang. Ini semua akan berkait langsung dengan bagaimana otak nantinya akan mempengaruhi organ-organ pelawan penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadinya, jika si kecil sering sedih atau marah, maka sistem kekebalan tubuhnya akan ikut-ikutan terganggu atau melemah. Sedangkan, kalau ia bahagia, banyak tertawa dan bergembira, sistem kekebalan tubuhnya bisa meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namun, itu bukan berarti balita Anda tak perlu obat ketika sakit. Obat-obatan antibiotik tetap diperlukan untuk mengatasi infeksi bakteri. Cuma, bila tubuh sudah kepenuhan berbagai ‘racun’ dan sistem kekebalan tubuh lemah, akibatnya infeksi akan berkepanjangan. Maka itu, lemahnya kekebalan tubuh perlu diatasi dengan kerja sama antara obat, makanan, serta seluruh sistem tubuh yang juga dipengaruhi oleh pikiran dan emosi,” lanjut dr. Partiwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tubuh, pancaran jiwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dr. George Engel , peneliti dan psikiater dari Department of Psychiatry, University of Rochester Medical School, Amerika Serikat, kalau ingin sehat, kita memang harus memperhatikan berbagai faktor yang saling berinteraksi dalam menghasilkan kesehatan tubuh yang utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai faktor tersebut adalah genetik atau diturunkan, lingkungan, faktor psikologi, serta faktor sosial. Nah, jika salah satu saja dari faktor itu membuat ‘ulah’, maka kesehatan kita akan terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fokus penelitian Engel memang lebih ditujukan pada komunikasi antara tubuh dan pikiran. Dan ternyata, pikiran dan perasaan dapat mempengaruhi tubuh melalui dua cara, yakni sistem saraf, seperti yang disebut sebelumnya, dan sistem peredaran darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ciptakan lingkungan bahagia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emosi, ternyata bukan hanya berhubungan dengan kekebalan tubuh saja. ‘Komunikasi’ perasaan dan kondisi tubuh juga berpengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak sejak bayi. Hal tersebut dibuktikan penelitian yang dilakukan terhadap anak-anak panti asuhan yatim piatu di Iran oleh Dr. Warren Dennis, dokter anak dari Amerika Serikat. Hasilnya, 60% dari anak-anak usia 2 tahun di panti itu belum mampu duduk sendiri, tanpa disangga apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan itu saja. Dalam berkomunikasi dengan orang lain, anak-anak panti asuhan itu juga mengalami hambatan. Menurut Dennis, perbendaharaan kata mereka sangat minim. Perkembangan mereka pada setiap tahapan usia juga mengalami keterlambatan ketimbang anak-anak yang tinggal di rumah dan diasuh oleh orang tuanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil penelitian ini terbukti, penyebab keterlambatan proses tumbuh kembang anak-anak terebut adalah kurangnya cinta dan kasih sayang. Perasaan kurang happy jelas-jelas menghambat tumbuh kembang mereka. Bahkan dikatakan juga, emosi yang terpendam, trauma fisik, gizi yang buruk, serta stres, akan menyebabkan aliran energi dalam tubuh terhambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua faktor itu memang dapat melemahkan sistem kekebalan anak. Bukan hanya itu. Sistem tubuh lainnya, seperti jantung dan pembuluh darah, juga akan ikut-ikutan terganggu, Jadi, kalau mau balita Anda tumbuh dan berkembang optimal, ya dia harus happy ,” tandas dr. Partiwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, tunggu apa lagi? Segera perbaiki suasana hati di rumah Anda demi kesehatan si kecil, dan juga Anda sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Retno Wahab Supriyadi&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-1713049318356328664?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/1713049318356328664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=1713049318356328664' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/1713049318356328664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/1713049318356328664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/08/dont-worry-be-happy.html' title='Don’t Worry, Be Happy!'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-1334419070222639686</id><published>2009-08-01T20:18:00.000-07:00</published><updated>2009-08-01T20:18:00.896-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peran Ayah'/><title type='text'>Ayah, Menentukan Kualitas Anak</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;       &lt;div&gt;Seorang ayah dapat menjadi model bagi anak-anak mereka, mencontoh perilaku ayah itulah yang sering dilakukan anak-anak. Namun tidak selamanya seperti itu, bisa saja sang anak meniru perilaku buruk ayahnya. &lt;/div&gt; &lt;p&gt;Apa pun jenis kelamin anak, ayah adalah model terdekat bagi mereka. Sikap dan perilaku ayah terhadap rumah, keluarga dan orang lain terekam dengan kuat dalam memori anak. Dibanding anak perempuan, ternyata anak laki-laki lebih senang mencontoh perilaku ayah mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seorang ayah yang bermalas-malasan, memberi catatan pada anak laki-laki untuk juga bersikap demikian. Namun, pada anak perempuan akan lahir pemahaman negatif tentang laki-laki. Dia akan berkesimpulan bahwa sifat laki-laki adalah suka bermalas-malasan!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk menjadi ayah yang baik bagi anak-anak, diantaranya :&lt;/p&gt; &lt;table border="0"&gt; &lt;tbody&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;-&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;strong&gt;Perlakukan ibu dari anak-anak dengan baik&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;Menjaga keutuhan pernikahan dan rumah tangga, mendengarkan pendapat istri dan menanggapi kebutuhannya merupakan manifestasi dari perlakuan baik terhadap ibu dari  anak-anak. Anak mengamati, dan kemudian membentuk perilaku dan pola pikir tentang menghargai pasangan.&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td valign="top"&gt;-&lt;/td&gt; &lt;td valign="top"&gt;&lt;strong&gt;Peka terhadap kondisi rumah&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top"&gt;Perhatikanlah hal-hal kecil yang ada disekitar rumah. Jangan sampai istri atau anak Anda mengingatkan untuk hal-hal kecil yang sebenarnya Anda sudah mengetahuinya namun belum berbuat sesuatu terhadap hal tersebut.&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td valign="top"&gt;-&lt;/td&gt; &lt;td valign="top"&gt;&lt;strong&gt;Luangkan waktu bersama anak&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top"&gt;Cara seorang ayah menggunakan waktu luangnya memberi pemahaman pada anak tentang hal penting dalam hidup ayah. Bila ayah menggunakan waktu luangnya bersama anak, anak akan paham bahwa ia penting dalam kehidupan ayah. Bila ayah asyik bermain sendiri, anak menafsirkan bahwa ayah mementingkan dirinya sendiri.&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt; &lt;div&gt;Menjadi seorang ayah memang memerlukan proses yang panjang, diawali sejak masa kanak-kanak. Ayah yang santun, menghargai istri dan anak-anak, peduli urusan rumah,  dan sadar bahwa perilakunya menjadi teladan bagi anak-anak mereka tidak terbentuk begitu saja ketika ia sudah jadi ayah. &lt;/div&gt; &lt;p&gt;Berikut kelanjutan dari artikel sebelumnya.&lt;/p&gt; &lt;table border="0"&gt; &lt;tbody&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;-&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;strong&gt;Komunikasi dengan anak&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;Umumnya ayah hanya mau bicara dengan anak bila anak melakukan kesalahan. Cobalah untuk membiasakan berkomunikasi dengan anak serta dengarkan ide serta masalah yang mereka miliki.&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td valign="top"&gt;-&lt;/td&gt; &lt;td valign="top"&gt;&lt;strong&gt;Jadilah guru bagi anak&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top"&gt;Ajarkan hal baik dan buruk pada anak-anak. Dengan demikian, mereka akan membuat keputusan yang baik untuk dirinya.&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td valign="top"&gt;-&lt;/td&gt; &lt;td valign="top"&gt;&lt;strong&gt;Disiplinkan anak dengan cinta&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top"&gt;Anak butuh bimbingan dan teladan, bukan ‘cuma’ hukuman. Tunjukkan tentang dampaknya bila anak tidak disiplin, tetapi tidak dengan menghukumnya.&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td valign="top"&gt;-&lt;/td&gt; &lt;td valign="top"&gt;&lt;strong&gt;Sediakan waktu untuk makan bersama&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top"&gt;Makan malam bersama, misalnya, dapat Anda jadikan kesempatan untuk mendengarkan hal-hal yang dilakukan anak sepanjang hari.&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt; &lt;p&gt;Mulailah sedari sekarang untuk menjadi model terbaik bagi anak-anak Anda. Bagaimana? [&lt;em&gt;&lt;strong&gt;ab&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;]&lt;/p&gt;        &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-1334419070222639686?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/1334419070222639686/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=1334419070222639686' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/1334419070222639686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/1334419070222639686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/08/ayah-menentukan-kualitas-anak.html' title='Ayah, Menentukan Kualitas Anak'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-6491133478010342218</id><published>2009-07-28T07:49:00.000-07:00</published><updated>2009-07-28T07:49:00.130-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkembangan Anak'/><title type='text'>Hearing Aids Membuka Jendela Suara</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hearing aids membantu si kecil belajar mengenal dunia. Tersedia beberapa pilihan. Mana yang paling cocok untuknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi penyandang gangguan pendengaran, dunia yang ingar bingar ini terasa sunyi dan senyap! Akibatnya, anak tunarungu tak bisa mengucapkan satu kata pun dengan sempurna. Ia kan tidak pernah mendengar dan menirukan suara apa pun sejak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ia sangat memerlukan alat khusus agar telinganya mampu menangkap berbagai suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengeraskan dan menyaring suara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya saja alat bantu dengar. Jadi, fungsinya memang memperkeras suara yang biasa diterima oleh telinga normal. Repotnya, jika lingkungan sedang riuh rendah, bisa-bisa seluruh suara yang diterima telinga si kecil sama kerasnya. Atau, bukan tak mungkin suara bising itu malah menutupi suara orang yang mengajaknya berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, itu dulu lho! Sekarang, sudah banyak alat bantu dengar yang dapat mengolah suara yang masuk ke telinga, baik secara manual maupun secara otomatis. Nah, dengan teknologi digital pada alat bantu dengar, Anda bisa tetap berkomunikasi dengan si kecil, meski berada di tengah hiruk pikuk keramaian. Misalnya, di mal. Dengan teknologi baru ini, suara Anda akan diperjelas, sementara suara lingkungan yang “berisik” akan direduksi agar tidak menyakitkan telinganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cuma suara keras dan lemah yang diolah. Tetapi, bagaikan dapur pengolah musik, alat bantu dengar yang kecil itu ada channel pengaturnya. Dari 2, 4, sampai 16 channel. Nah, pemilahan dan pengolahan channel-channel ini diatur oleh ahli ketika pendengaran si kecil diperiksa. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kelemahan pendengaran anak pada suara bass, maka bagian tersebut yang akan diperkeras. Dengan cara ini, suara yang masuk bisa lebih jelas diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ini pilihannya!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari cara pemakaiannya, alat bantu dengar dibedakan menjadi beberapa jenis, yakni:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- OTE ( Over The Ear ), BTE (Behind The Ear ), atau PA (Post Auricular)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah alat bantu dengar yang amplifiernya (pengeras suaranya) terletak di belakang daun telinga. Alat ini menerima dan mengeraskan suara, kemudian diantarkan melalui tabung kecil yang tercetak di earmold (cetakan lubang telinga yang berfungsi sebagai penyalur suara di telinga) yang terdapat pada telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Body Aids&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat bantu dengar ini menggunakan amplifier, berupa kotak kecil yang ditempelkan di badan, lalu dihubungkan dengan kabel yang menghantarkan suara yang sudah diperkeras itu ke earmold. Bisa ke salah satu telinga atau kedua telinga yang membutuhkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Eyeglass Aids&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat bantu dengar yang mirip kacamata ini terdiri dari amplifier, mikrofon, dan baterai. Semua piranti ini terletak ditangkai kacamata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Alat ini masih jarang digunakan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- ITE (In The Ear) dan ITC (In The Canal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat bantu dengar ini jadi sangat populer ketika presiden Amerika Ronald Reagan memakainya. Namun, alat bantu dengar ini bukanlah pilihan yang tepat untuk anak, karena telinganya masih tumbuh dan berubah terus. Kalau harus beli alat baru terus, wah terlalu boros. Harganya kan mahal. Apalagi, alat bantu dengar yang lama tidak mungkin dipakai lagi. Tak cuma longgar, biasanya suaranya juga jadi mendenging serta gampang jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai catatan, walau Anda membeli alat bantu dengar yang mahal sekalipun, tapi kalau pembuatan earmold -nya kurang oke, maka suara yang dihantarkan bisa saja mengalami gangguan. Misalnya, mendenging. Si kecil pun terganggu dan tidak mau memakai alat bantu dengarnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mana yang paling cocok?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara ini, alat bantu dengar yang biasa dipakai anak-anak di Indonesia adalah body aids dan OTE. Apa sih bedanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Body aids&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Harga ekonomis. Bahkan, paling ekonomis dibandingkan model lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tidak mudah hilang. Alat ini memang agak lebih besar dari model yang lain. Sebab, dipakai seperti radio kecil atau walkman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Mikrofon bisa digeser. Jika kurang jelas, alat ini bisa disorongkan ke sumber suara (tak perlu mendekatkan telinga ke sumber suara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekurangan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Telinga kanan kiri terpaksa menerima suara yang sama kerasnya. Proses penerimaan dan pengeras suara dari alat bantu ini hanya ada di satu tempat dan dikirimkan pada kedua telinga. Jika telinga kanan dan kiri agak berbeda kemampuan dengarnya, maka telinga yang lebih peka jadi tidak nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tak bisa menentukan lokasi. Penerima dan pengeras suara hanya satu, maka suara yang masuk hanya dari satu arah saja. Akibatnya, si kecil tak bisa menentukan lokasi orang yang mengajaknya bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kemungkinan adanya suara feedback atau mendengung, jika pembuatan earmold kurang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;OTE&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bisa menentukan lokasi. Penerimaan dan pengolahan suara di masing-masing telinga membuat anak bisa membedakan arah datangnya suara, seperti depan, belakang, kanan atau kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Dapat diatur sesuai kebutuhan masing-masing telinga. Pemakaian kedua alat di telinga kanan dan kiri membuat kemampuan penerimaan dan pengolahan suaranya dapat dibedakan sesuai dengan kadar gangguan masing-masing telinga. Si kecil jadi lebih nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekurangan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Harganya lebih mahal dibandingkan dengan body aids. Semakin canggih peralatan digitalnya, semakin mahal. Bisa didapat mulai dari harga tiga jutaan sampai sekitar 20 juta rupiah untuk satu telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pada OTE yang sederhana, pemakai harus mendekatkan telinganya ke sumber suara kalau merasa kurang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang pemilihan alat bantu dengar tergantung pada kebutuhan si kecil dan kemampuan Anda. Jika anak (terutama yang masih kecil) menolak memakai alat ini, jangan terlalu khawatir. Mungkin saja, ia merasa risih dengan alat barunya. Meski begitu, Anda juga perlu ekstra memberi perhatian jika alat tersebut agak mengganggunya. Jadi, bisa dilakukan perbaikan atau pengaturan suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, begitu bisa menangkap suara yang menyenangkan, si kecil ingin memakai alat bantu dengar setiap harinya. Bahkan, jika sudah terbiasa memakai alat bantu dengar, ia justru akan rewel begitu alat itu dilepaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gradasi Gangguan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Gangguan pendengaran ringan. Masih bisa bicara normal. Mulai mengalami gangguan ketika sekolah, karena tak bisa mendengar suara dari jarak jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Biasanya, kondisi ini baru terdeteksi ketika si kecil mulai sekolah. Pemakaian alat bantu dengar akan memudahkannya mengikuti pelajaran di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Gangguan pendengaran sedang. Bisa mendengar orang bicara, asal jaraknya sangat dekat (sekitar ½ meter). Nah, alat bantu dengar ini membantu memperjelas suara orang, sehingga komunikasi jadi lebih lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Gangguan pendengaran berat. Biar diajak bicara dalam jarak yang sangat dekat, si kecil tetap saja tak bisa mendengar tanpa alat bantu dengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Kalau alat bantu dengar tidak diberikan sejak dini, si kecil jadi sulit belajar bicara. Kalau ia cuma membaca bibir saja, hanya 25% bunyi konsonan yang dapat terdeteksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Gangguan pendengaran sangat berat. Alat bantu dengar yang paling kuat sekalipun jadi tidak berarti. Nah, alat bantu dengar yang paling mungkin diberikan adalah cochlear implant . Penanaman alat bantu dengar di bagian telinga tengah (cochlea) ini dilakukan dengan cara operasi. Dengan alat ini, diharapkan si kecil dapat mendengar suara percakapan biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Waspadalah Jika ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tidak terkejut atau menangis begitu ada suara yang keras. Misalnya, bantingan pintu atau suara benda jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tidak menoleh ketika dibunyikan mainan yang bergemerincing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tidak bereaksi saat seseorang berbicara keras-keras di dekatnya atau memanggil namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Berhenti dari kegiatan berceloteh pada usia setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kalaupun pernah tahu namanya, si kecil tidak segera menoleh begitu dipanggil namanya. Mungkin saja, pendengarannya sudah agak menurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jangan Remehkan Keluhan Anak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jika ia sering mengeluh atau menolak mengenakan alat bantu dengar, laporkan kepada ahli audiologi yang memeriksanya. Bisa jadi, earmold -nya sudah tidak cocok lagi. Atau, setelan suaranya belum pas sehingga berisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Perhatikan situasi dan suara apa yang membuatnya tak senang atau tak nyaman. Dengan begitu, ahli audiologi bisa mengatur ulang setelan suara alat bantu dengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Begitu ada iritasi di bagian belakang telinga, laporkan ke dokter atau ahli audiologi. Mungkin saja, ukuran alat bantu dengar harus diperbaiki, bahannya diganti atau perlu perawatan tertentu. Kalau sampai iritasinya mengganggu, bawa si kecil ke dokter dulu untuk diobati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Merawat Alat Bantu Dengar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Periksa setiap hari apakah baterai alat bantu dengar masih berfungsi atau perlu diganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Perhatikan apakah kutub positif dan negatif dari baterai sudah terpasang dengan benar atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jika menggunakan body aids , periksa kabel-kabelnya. Apakah tidak terlilit atau rusak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jika memakai OTE yang dipasang di belakang telinga, perhatikan tabung kecil pengantar bunyi pada earmold . Pastikan tabung tidak terpelintir atau tertekuk. Jika sudah beberapa kali terpelintir atau tertekuk, mungkin sudah waktunya si kecil mendapat earmold baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Perhatikan apakah tabung pengantar bunyi berubah warna jadi kuning atau sudah keras? Ini juga tanda kalau si kecil butuh earmold dan tabung baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Periksa apakah tabung lembab atau tidak. Ingat, setetes air bisa menghambat suara yang masuk. Juga, tetesan keringat bisa menyebabkan gangguan bunyi pada alat tersebut&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-6491133478010342218?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/6491133478010342218/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=6491133478010342218' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/6491133478010342218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/6491133478010342218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/07/hearing-aids-membuka-jendela-suara.html' title='Hearing Aids Membuka Jendela Suara'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599637314670452526.post-7400305565036947592</id><published>2009-07-20T06:51:00.000-07:00</published><updated>2009-07-20T06:51:00.653-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Virus - Bakteri - Penyakit'/><title type='text'>Tanya Jawab Suplemen dan Multivitamin</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suplemen dan multivitamin untuk bayi dan balita membanjiri pasaran. Baguskah untuk si kecil?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar muncul beberapa pertanyaan di benak Anda ketika melihat bayi atau balita yang bertubuh montok dan sehat. Misalnya, “Diberi vitamin apa, ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar tidak terjadi kesalahkaprahan, berikut pertanyaan-pertanyaan yang sering mengganjal seputar suplemen atau multivitamin lengkap dengan jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya: Apa itu vitamin?&lt;br /&gt;Jawab: Vitamin adalah sekelompok zat, substansi atau senyawa penting yang membantu kelancaran jalannya seluruh proses metabolisme dalam tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya: Ada berapa jenis vitamin?&lt;br /&gt;Jawab: Secara umum, vitamin dibagi jadi 2 kelompok, yakni:&lt;br /&gt;- Vitamin yang larut dalam lemak , berupa vitamin A, D, E, dan K.&lt;br /&gt;- Vitamin yang larut dalam air , seperti kompleks vitamin B (vitamin B1 atau tiamin, vitamin B3 atau niasin, vitamin B12, asam folat, asam pantotenat, biotin), dan vitamin C.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya: Benarkah sayur-sayuran dan buah-buahan merupakan sumber vitamin yang lengkap?&lt;br /&gt;Jawab: Tidak juga. Pada kenyataannya, sayuran dan buah-buahan hanya mengandung beberapa jenis vitamin, seperti vitamin C, E, K, dan beberapa macam vitamin B (seperti asam folat, biotin, dan lain-lain). Juga, sayuran dan buah-buahan merupakan fitokimia yang bersifat provitamin, seperti karotenoid (provitamin A).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan vitamin A, B6, B12, dan D? Umumnya, vitamin tersebut berasal dari sumber hewani. Misalnya, hati, susu dan aneka jenis produk olahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya: Apa itu mineral?&lt;br /&gt;Jawab: Mineral adalah sekelompok senyawa anorganik yang juga dibutuhkan tubuh untuk kelancaran seluruh proses metabolisme, selain vitamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya: Ada berapa macam mineral?&lt;br /&gt;Jawab: Mineral yang diperlukan oleh tubuh dikelompokkan jadi 2, yaitu:&lt;br /&gt;- Mineral utama. Dibutuhkan tubuh dalam jumlah di atas 100 mg/hari, seperti kalsium, fosfor, magnesium, natrium, kalium, klorida, dan sulfur.&lt;br /&gt;- Trace elements . Adalah mineral yang diperlukan tubuh dalam jumlah kecil (kurang dari 100 mg/hari), yakni zat besi, seng, tembaga, kobalt , yodium, kromium, mangan, molybdenum, selenium, vanadium, nikel, serta silikon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya: Dari mana kebutuhan mineral bisa dipenuhi?&lt;br /&gt;Jawab: Mineral tubuh dapat didapat dari bahan-bahan makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Di antaranya, garam, makanan laut, serta susu dan produk olahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya: Apa fungsi dari vitamin dan mineral bagi tubuh?&lt;br /&gt;Jawab: Vitamin dan mineral diperlukan oleh tubuh agar seluruh proses metabolisme, termasuk juga proses tumbuh kembang bayi dan anak balita, dapat berjalan lancar. ( Lihat boks “Fungsi Vitamin dan Mineral dalam Tumbuh Kembang Anak”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya: Adakah fungsi lainnya?&lt;br /&gt;Jawab: Ada juga. Vitamin bersama-sama dengan mineral berfungsi sebagai zat pengatur jalannya proses metabolisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, kedua zat tersebut dapat memperlambat proses penuaan sel, menghambat tumbuhnya sel-sel kanker, menghambat munculnya penyakit jantung dan osteoporosis (pengeroposan tulang), memperbaiki sistem kekebalan tubuh, serta membantu penyembuhan berbagai gangguan kesehatan. Yang pasti, tanpa kehadiran vitamin dan mineral, akan banyak proses penyerapan zat gizi oleh tubuh yang terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya: Kapan anak perlu tambahan vitamin dan mineral?&lt;br /&gt;Jawab: Pada bayi baru lahir, seluruh kebutuhan vitamin dan mineral dapat terpenuhi melalui ASI. Hanya saja, kalau ia sampai kekurangan vitamin, mudah kok mengatasinya. Anda cukup meningkatkan jumlah dan kualitas ASI Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya: Bagaimana caranya?&lt;br /&gt;Jawab: Sebaiknya, Anda makan cukup dengan komposisi seimbang. Jika perlu, konsumsilah vitamin tambahan. Tentu saja, ini harus sesuai petunjuk dokter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya: Kapan lagi tambahan vitamin dan mineral perlu diberikan?&lt;br /&gt;Jawab: Setelah si kecil berusia 6 bulan. Pada umur ini, kebutuhan zat-zat gizi anak akan bertambah. Akibatnya, ia memerlukan makanan tambahan dari luar, selain ASI. Makanan ini dikenal sebagai Makanan Pendamping ASI (MP-ASI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya: Cukup memadaikah MP-ASI?&lt;br /&gt;Jawab: Umumnya, MP-ASI buatan pabrik sudah diperkaya oleh vitamin dan mineral yang diperhitungkan cukup untuk melengkapi asupan ASI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya: Adakah risiko yang perlu jadi catatan penting?&lt;br /&gt;Jawab: Bayi yang hanya mengonsumsi ASI sampai usia 6 bulan berisiko kekurangan zat besi. Makanya, setelah usia 6 bulan, ia harus ditunjang dengan pemberian MP-ASI yang notabene kandungan zat besinya tinggi. Misalnya, daging merah, hati, dan lain-lain. Tapi, jika si kecil belum bisa mengonsumsi bahan makanan tersebut dalam jumlah yang memadai, dokter dapat memberi suplementasi zat besi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya: Anak usia 2 tahun seringkali sulit sekali makan. Tepatkah ia diberi vitamin dan suplemen sebagai tambahan zat gizi?&lt;br /&gt;Jawab: Tidak selalu tepat. Si 2-3 tahun memang sering menolak makan, karena kebutuhan kalorinya relatif lebih sedikit dibandingkan pada masa bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ke-aku-annya mulai berkembang. Tidak heran kalau dia jadi sangat pemilih. Hanya makanan tertentu saja yang bisa masuk ke dalam mulut mungilnya. Kalau sudah begini, mungkin saja dia akan mengalami kekurangan asupan beberapa zat gizi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya: Bagaimana cara mengetahui apakah anak kekurangan zat gizi tertentu?&lt;br /&gt;Jawab: Untuk memastikan adanya kekurangan zat gizi, sebaiknya Anda berkonsultasi pada dokter spesialis anak setempat, yang dengan bantuan ahli gizi, dapat menganalisis asupan s erta komposisi makanan si kecil. Dari sini, bisa diatur menu yang disukai anak, tetapi mencukupi kebutuhan nutrisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya: Perlukah pemeriksaan laboratorium?&lt;br /&gt;Jawab: Pemeriksaan lab dapat dilakukan sesuai kebutuhan. Jika memang terbukti anak kekurangan vitamin atau mineral, barulah suplementasi vitamin atau mineral diberikan.(ayahbunda)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599637314670452526-7400305565036947592?l=merawat-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://merawat-anak.blogspot.com/feeds/7400305565036947592/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2599637314670452526&amp;postID=7400305565036947592' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/7400305565036947592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599637314670452526/posts/default/7400305565036947592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://merawat-anak.blogspot.com/2009/07/tanya-jawab-suplemen-dan-multivitamin.html' title='Tanya Jawab Suplemen dan Multivitamin'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='ht
